Ku sempatkan juga datang ke kampus, meski hari ini tidak ada jadwal ujian. Ada janji yang harus ku penuhi dengan Mas Najib. Kemarin, aku nitip fotokopian dan hari ini mau diambil sekaligus bayar. Aku senang, meski sudah jadi mahasiswa tua, tetap saja sambutan dari adek-adek kelas begitu hangat. Entah kenapa. Terutama adek kelas yang kuminta tolongin ini adalah rising star di filsafat. Sering nulis di media dan beberapa waktu yang lalu sempat berkunjung ke Jerman sebagai hadiah pemenang lomba essai tingkat Internasional.

Menikmati suasana ujian di kampus. Melihat adek-adek kelas begitu semangat dan krasak-krusuk menghafal bahan ujian. Aku jadi tersenyum sendiri. Bukan hendak mengetawakan mereka, “kenapa baru pas mau ujian belajar”, tapi merasa lucu aja melihat tingkah mereka dengan style menghafal yang beragam.

Naik ke lantai dua mau mendaftarkan diri hearing dengan wakil dekan hari rabu besok, aku dicegat oleh sapaan Bu Septiana. “Eh, gimana proposalnya?”, dengan senyuman khasnya Bu Septi mengagetkanku. “Maaf buk, proposal saya belum jadi. Sekarang lagi fokus ujian”. Akhirnya ku janjikan sehabis ujian aku akan memberikan proposal skripsiku ke Bu Septi. Jika sudah di-acc, siap-siap deh untuk seminar proposal dan segera menulis skripsi secepat mungkin. Sungguh, senyuman dosen kepada mahasiswanya teramat berharga. Sapaan bu Septi tadi, telah membangkitkan semangatku untuk segera menyelesaikan kuliah.

Selesai mengurus urusan-urusan di kampus, aku segera bergerak, pulang ke asrama. Dari gerbang Fakultas Psikologi yang berhadapan dengan kampusku, ada sosok yang berjalan dengan penuh keseriusan. Rasa-rasanya itu mbak Nurul, mahasiswi psikologi yang dulu pernah ikut DAD IMM. Akhwat yang baik dan cerdas, alumni MAN Insan Cendikia. Raut wajahnya masih seperti dulu. Serius, dan tampak bercahaya. Tiada senyuman, karena wajahku tertutup helm.

Ya, Tuhan… Engkau telah memberikan nikmat yang begitu banyak kepadaku. Mengenalkan aku dengan sosok-sosok istimewa. Yang memberikan aku kesempatan untuk terus belajar memahami hidup. Aku tak tahu akan seperti akhir dari hidupku. Akupun juga tak tahu dengan siapa aku akan menyandarkan hati. Aku sudah pasrah, serahkan semua padamu. Karena apa yang terbaik menurutMU tentu itulah yang terbaik untukku. Tak ingin aku jauh berangan-angan. Karena “angan-angan hanya membuat hati semakin resah”. Sebagaimana yang dikatakan oleh Etikus Yunani Kuno Epikuros.