Trauma kegagalan menjalin cinta dahulu, begitu kuat melekat dalam memoriku. Dari kelas 2 SMP aku memperjuangkan cinta yang katanya “berjuta rasa” itu. Semenjak aku mengalami cinta pertama hingga kuliah di semester akhir saat ini. Tiap kali aku mencoba untuk mendekati seseorang, saat itu pula aku mengalami kekecewaan.

Seringkali aku bertanya, apakah yang salah dengan cara pdkt-ku? Terlalu agresif-kah, tak memakai cara-cara yang elegan atau karena aku tak memiliki keistimewaan untuk dibanggakan?

Satu bulan ini, aku mengalami hal yang berbeda. Kenal dengan seorang gadis yang pintar dan pola pikirnya cukup dewasa. Dalam waktu yang singkat, kamipun sudah begitu dekat. Enak sih bicara sama dia. Banyak cerita-cerita inspiratif dan sisi lain dari kehidupan yang belum aku alami.

Aku merasakan seolah-olah berinteraksi kayak orang pacaran. ¬†Sehari tak mendengar suaranya, hati jadi gelisah. Selalu ingin tahu bagaimana kabarnya sekarang, sudah makan apa belum atau sekedar say “hello”.

Namun, aku kembali disentakkan tiap kali mendengarkan kajian Ustadz Ridwan Hamidi. Kembali tergiang-giang di telingaku, ceramah demi ceramah tentang adab pergaulan laki-laki dan perempuan yang telah ku dengarkan bertahun-tahun selama kuliah di Jogja. Aku bertanya sendiri, kenapa aku begitu rapuh saat-saat terakhir ini? Mengapa aku berinteraksi seperti orang berpacaran saja?

Dulu, jangankan menelpon berjam-jam dengan seorang gadis, menemui mereka saja sudah membuat tubuhku gemetaran ngak karuan. Tapi hari ini, aku begitu mudah2an berinteraksi. Meski sesekali lisanku kelu mengungkap kata-kata. Aku tak tahu apakah ini pertanda baik atau buruk. Karena saat ini, aku kehilangan barometer untuk menentukan mana yang salah dan mana yang benar.

Barusan telah kusampaikan pertimbangan rasionalku kepadamu. Aku tak ingin engkau terlalu berharap. Karena aku tak bisa menjanjikan apa-apa. Bisa saja lisanku memberikan seuntai janji dengan kata-kata manis. Tapi aku tak sanggup melakukannya. Jiwaku masih gamang, apalagi berkaitan dengan kata yang sakral, “pernikahan”. Lebih baik berterus terang di awal. Kalaupun harus menyakitkan, mudah2an hanya melukai sedikit saja. Daripada mengikat seseorang tanpa kepastian.

Life must go on. Aku akan meneruskan hidupku. Dan dirimu juga akan meneruskan hidupmu. Pertemuan di antara kita adalah bagian takdir yang tak bisa ku hindarkan. Rasa yang terbesit karena perkenalan kita, tentu tak bisa kuungkapkan lewat kata. Karena akan banyak makna yang tereduksi karenanya. Apa yang diriku rasakan dan apa yang dirimu rasakan, hanyalah hati kita saja yang bisa menjawabnya. Siapakah yang spesial dari sekian orang-orang yang pernah dekat, hanya hati kita masing-masing yang bisa merasakannya.

Aku tak dapat meneruskan postingan ini lagi. Karena aku ingin menangis. Aku tak mampu lagi menahan emosiku. Aku hanya bisa bilang, tak ingin menyakitimu. Engkau terlalu baik… Hiks.. Hiks.. Maafkanlah jika aku telah menyakitimu. Ketika pena tak mampu lagi menuliskan, biarkanlah hati kita saja yang bicara…

Milikilah sebuah HATI yang tak pernah membenci. Sebuah Senyuman yang tak pernah pudar. Sebuah Sentuhan yang tak pernah menyakiti. Sebuah Persahabatan yang tak pernah berakhir… (Sebait syair dari dirimu yang sedang kupikirkan saat menuliskan kalimat demi kalimat ini)