Kenapa PKS Mengabaikan Jilbab???


Awal kehadiran PKS di belantara perpolitikan Indonesia bermula dari kampus. Sejak itu, kita semakin familiar dengan gadis-gadis muda berjilbab besar yang dikenal dengan sebutan akhwat. Sementara di sisi lain, pemakain baju koko dan memilihara jenggot dilakukan oleh para pemuda. Sejak itu, semangat islamisasi dalam hal ibadah dan juga pakaian semakin gencar, tidak saja menembus kampus, tapi telah pula merambah SMA-SMA dan juga perkantoran.

Advokasi membela akhwat-akhwat yang dilarang berjilbab di kampus dan di kantor telah pula menjadi fokus perjuangan PKS, yang pada tahun 1999 masih bernama Partai Keadilan. Mata menjadi sejuk, karena aksi umbar aurat telah mulai teredusir dengan makin banyaknya wanita-wanita muslimah menggenakan jilbab dalam keseharian mereka.

Pertarungan 3 pasangan kandidat presiden dan wakil presiden menjadikan partai politik harus pintar-pintar mengarahkan dukungan. Koalisi dibangun dengan pertimbangan kandidat mana yang kira-kira punya peluang memenangkan Pilpres. Agaknya logika inilah yang dipakai oleh para petinggi PKS sehingga merapatkan diri ke Kubu Demokrat yang mengusung SBY-Boediono. Elektabilitas SBY yang cukup besar sebagaimana ditunjukkan oleh berbagai survey, memantapkan pilihan PKS berlabuh di pantai Demokrat.

Ketika genderang kampanye telah dibunyikan, maka bertebaranlah berbagai program, isu-isu dan publikasi untuk menunjukkan kepada masyarakat pasangannyalah yang lebih baik dan layak memimpin bangsa ini. Berbagai bola panas dilemparkan, mulai dari wacana neoliberalisme, sampai kepada masalah jilbab.

Terkait dengan isu jilbab ini, yang menabuh gendang duluan malah orang PKS juga. Jadi salah satu petinggi partai islam ini mengungkapkan bahwa “ada kecendrungan ketertarikan kader-kader PKS dengan jilbab yang dipakai oleh istri pasangan Jusuf Kalla dan Wiranto”. Padahal dalam orasi-orasi politiknya pak JK dan pak Win ngak pernah menyinggung masalah jilbab. Eh, setelah itu tiba-tiba saja SBY gerah melihat hal ini. Dalam kesempatan kampanyenya dengan sinis beliau mengatakan “janganlah kita membawa-bawa simbol agama ke ranah politik”. Notabene PKS kan mitra koalisi Demokrat. Dan  yang mengulirkan isu jilbab pertama kali, ya petinggi PKS itu. So, kayaknya seperti maling teriak maling deh…

Buru-buru saja, karena ngak ingin SBY cemburu dan ngambek, Presiden PKS mengklarifikasi pernyataan kadernya. “Apa kalau istrinya berjilbab lalu masalah ekonomi selesai ? Apa pendidikan, kesehatan jadi lebih baik ? Soal selembar kain saja kok dirisaukan ?”. (Majalah TEMPO ed.1 – 7 Juni 2009 hal. 29 kol. 6).

Apakah PKS sudah lupa dengan awal dia melangkah dahulu, hanya karena tawaran politik yang nampaknya manis di depan mata. Santer terdengar, jika SBY menang alamat beberapa kursi kabinet akan diduduki oleh kader PKS. Dimana spirit memperjuangkan jilbab yang dulu diperjuangkan berdarah-darah? Apakah dalam kerasnya gelombang politik membuat PKS rela melepaskan idealisme keislaman yang dulu tampak begitu mengagumkan? Entahlah…

Sebuah artikel menarik yang ditulis oleh Ustadz Ja’far Umar Thalib, bisa menjadi renungan bagi kita bersama, tentang bagaimana seharusnya kita meletakkan persoalan agama ketika berhadapan dengan politik, terutama dalam masalah jilbab ini. Berikut akan penulis lampiran tulisan beliah hafidzahullah ta’ala sebagaimana yang dirilis oleh website Al Ghuraba:

Jilbab, Syi’ar Islam

Artikel ini dimuat dalam majalah GATRA 31 / XV 17 Jun 2009 rubrik Kolom

Saya sebagai guru agama, tidak ikut-ikutan di arena hingar-bingar politik praktis “pesta demokrasi” sekarang ini. Tugas saya hanya mendidik anak bangsa dengan pembekalan dan pengamalan ilmu-ilmu keislaman. Juga tugas saya hanya menasehati berbagai pihak untuk tetap dalam semangat menjunjung tinggi semangat keimanan dan keislaman. Karena itu saya tulis artikel ini dalam rangka misi menasehati Ummat Islam agar jangan sampai menelantarkan kewajiban menjunjung tinggi keimanan dan keislaman, khususnya bagi mereka yang sedang bergelut di dunia politik praktis.

Akhir-akhir ini ada gejala aneh pada sebagian tokoh-tokoh Islam yang sedang aktif berperan dalam “pesta demokrasi” ini. Dimana mereka menyatakan keresahannya tentang penampilan JILBAB pada istri-istri capres dan cawapres tertentu. Anas Urbaningrum yang notabene adalah tokoh HMI menyatakan keresahan itu meskipun dengan bahasa yang santun. Dan ternyata tidak cukup pernyataan Bung Anas saja, bahkan tidak tanggung-tanggung muncul pernyataan dari Tifatul Sembiring yang juga salah satu tokoh Ummat Islam dengan pernyataan yang kasar dan tidak beradab. Dia mengatakan : “Apa kalau istrinya berjilbab lalu masalah ekonomi selesai ? Apa pendidikan, kesehatan jadi lebih baik ? Soal selembar kain saja kok dirisaukan ?”. (Majalah TEMPO ed.1 – 7 Juni 2009 hal. 29 kol. 6).

Mari kita tenangkan hati dan pikiran kita dalam berbagai kesibukan dan kepanikan yang sedahsyat apapun, untuk mengingat bahwa kepentingan menjunjung tinggi Syi’ar (simbul kemulyaan) Islam harus diletakkan di atas segala-galanya. Allah Ta’ala berfirman : “Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar agama Allah, maka sungguh sikap yang demikian itu timbul dari ketakwaan hati”. Al Qur’an S. Al Hajj 32. Sedangkan JILBAB adalah salah satu dari syi’ar-syi’ar agama Allah, sebagaimana hal ini ditegaskan oleh Allah Ta’ala dalam firmanNYA : “Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang Mu’min : Hendaklah mereka memanjangkan JILBAB-nya untuk menutup seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Al Qur’an S. Al Ahzab 59.

Sebagai ilustrasi, saya nukilkan di sini tentang riwayat sebab turunnya S. Al Ahzab 59 tersebut, dimana diceritakan bahwa orang-orang munafiq senang mengganggu wanita-wanita Muslimah dalam rangka merendahkannya. Dan ketika mereka ditegur atas perbuatannya itu, maka berkilahlah mereka bahwa gangguan itu dilakukan karena menyangka bahwa para Muslimah itu adalah budak-budak wanita. Maka turunlah ayat ini agar para Muslimah itu tidak lagi disangka sebagai budak sehingga tidak diganggu lagi dan langsung dikenali sebagai wanita yang terhormat. Jadi dengan demikian, JILBAB itu adalah simbul wanita Muslimah yang terhormat menurut Allah Ta’ala. Dan kita disuruh menghormati siapa yang dihormati oleh Allah Ta’ala. Maka janganlah mengeluarkan kata-kata yang merendahkannya, meskipun JILBAB itu dipakai oleh lawan politik yang sedang berlaga di arena “pesta demokrasi”.

Kepada semua tokoh Ummat Islam dan segenap Ummat Islam, ingatlah bahwa perkara politik praktis itu adalah perkara dunia yang sebentar lagi akan kita tinggalkan. Sedangkan menjunjung tinggi syi’ar-syiar kemulyaan Islam adalah perkara dunia dan akherat. Maka janganlah perkara dunia semata diutamakan diatas perkara dunia dan akherat, meskipun dengan alasan dalam rangka memperjuangkan kepentingan agama. Apakah memperjuangkan kepentingan agama itu dengan cara menginjak-injak kemulyaan agama terlebih dahulu ? Bagaimana mungkin perjuangan “demi agama” yang demikian ini akan diberkahi oleh Allah ?

Iklan

One thought on “Kenapa PKS Mengabaikan Jilbab???

  1. ane td sempet smsan sm org PKS msl hal ini (ane orang yang non partai)
    kemudian beberapa diantara mereka menjawab yang intinya “DILIHAT DULU LATAR BELAKANG TIFATUL SEMBIRING MENGATAKAN ITU”
    trus tak jawab yang intinya “APAKAH MUNGKIN KITA MASIH BISA BER-PRASANGKA BAIK PADA UCAPAN KUFUR SEMACAM ITU?????? INNALILLAHI WA INNA ILAIHI ROJI’UN”
    berikut fatwa Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al Ilmiyah (MUI nya kerajaan Arab saudi)

    Tanya :
    Kami melihat masih banyak orang ketika mereka melihat orang lain yang bersungguh-sungguh dalam beragama atau beribadah malah memperolok-oloknya. Sebagian yang lain ada yang berbicara tentang agama dengan nada mengejek dan memperolok-olok. Bagaimanakah orang yang seperti ini?

    Jawab: “Memperolok-olok agama Islam atau bagiannya adalah kufur akbar, berdasarkan firman Allah :
    وَلَئِن سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ
    Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab:”Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah:”Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?”.
    لاَ تَعْتَذِرُواْ قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ إِن نَّعْفُ عَن طَآئِفَةٍ مِّنكُمْ نُعَذِّبْ طَآئِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُواْ مُجْرِمِينَ
    Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami mema’afkan segolongan dari kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) di sebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa. (QS. At Taubah 9 : 65-66).

    Intinya, bahwa masalah ini adalah masalah yang sangat besar dan berbahaya, maka wajib bagi setiap muslim untuk mengetahui ajaran agamanya, supaya dapat berhati-hati dari hal ini dan agar dapat mengingatkan orang tentang bahaya menghina, mengolok-olok dan melecehkan agama. Sebab hal ini merusak aqidah dan merupakan penghinaan terhadap al-haq dan para pelakunya. (Syaikh Ibnu Baz)
    sumber :http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&id_artikel=402

    wallauhu a’lam bisshowab

    yang ane utarakan disini bukan untuk memojokkan partai tertentu atau untuk mendukung partai tertentu
    yang ane bela adalah ajaran Allah yang disampaikan Rosul-Nya dan wajib bagi umat islam untuk membela syari’at islam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s