Aku ingin mengerti , apakah cinta itu sebenarnya? Meski lelah lisan mengatakan kata cinta sampai seribu kalipun, semua akan terasa hambar tiada bermakna. Karena cinta tak butuh ucapan, tapi membutuhkan pembuktian.

Kuakui padamu kekasihku, dulu terlalu mudah aku mengalirkan 5 huruf sakral itu. Kuumbar kata “cinta” baik lewat syair maupun lagu. Setelah aku bertemu denganmu, entah mengapa sulit lisanku untuk mengatakannya lagi. Meski ada rasa “tak biasa” yang menghiasi hari-hariku saat ini.

Begitu sulit aku mengungkai kata “cinta”, sampai-sampai nafas terasa sesak ketika melafadzkannya. Aku tak ingin sekedar menjadikan “cinta” sekedar lafadz lisan saja. Aku ingin lebih dari itu. Aku ingin merasakan manis dan kerinduan sejati yang lahir darinya.

Barusan aku sampai di asrama. Setelah sejak tadi malam nungguin teman di Rumah Sakit Panti Rapih yang diopname karena demam berdarah.  Perutku mual kalau sudah mencium aroma obat. Maklumlah, rumah sakit adalah tempat yang tidak suka kukunjungi. Namun berhubung solidaritas sesama mahasiswa rantau, sense sosial mengalahkan rasa mual yang membuat pusing kepala.

Di sela-sela jam jaga, ku sempatkan juga menghadiri kajian kamis pagi di PP Muhammadiyah yang tak jauh dari rumah sakit. Kalau minggu kemarin yang ngisi ustadz Faturrahman Kamal, tadi pagi kembali Ustadz Yunahar yang memberikan kajian.

Ku perhatikan beberapa minggu ini, Ustadz Yunahar seringkali menyebut nama Hasan Al Banna, pendiri Ikhwanul Muslimin. Jika dulu, telingaku langsung panas ketika mendengar nama organisasi Islam yang didirikan di Mesir itu, tadi malah aku bisa mengerti kenapa Hasan Al Banna dan teman-temannya “keras” terhadap Gamal Abdul Naser penguasa Mesir kala itu. Ternyata Ikwanul Muslim dan Naser pernah mengikat janji, jika Naser bisa menggulingkan Raja Farouk maka Mesir akan dijadikan negara Islam. Tapi, setelah Naser jadi Presiden, janji tinggal janji. Ikwanul Muslimin keras untuk menagih janji, sementara Naser kuat mengingkari janji. Sampai akhirnya Naser mengambil kebijakan melarang IM dan memenjarakan tokoh-tokoh IM.

Kata Ustadz Yunahar, kalau kita baca sejarah perjalanan hidup Rasulullah yang tersirat adalah “dakwah mendahului kekuasaan”. Rasulullah mulai berdakwah sembunyi-sembunyi, berdakwah kepada kepala suku-kepala suku tanpa menunggu kekuasaan ada di tangan. Islamlah yang mendatangkan kekuasaan, bukan mendagangkan Islam untuk mendapatkan kekuasaan. Ada paradigma yang berbeda antara Rasulullah dengan Politisi Muslim saat ini. Rasulullah berdakwah tiada menunggu kekuasaan diraih dulu, Politisi Muslim banyak berpikiran “kita baru bisa menjalankan Islam dengan baik jika sudah memegang kekuasaan”. Logika yang berbeda ini membuat kita seringkali kecewa dengan kiprah politisi dari Parpol Islam. Karena janji yang didendangkan saat kampanye, tak lagi manis ketika mereka sudah berhasil memperoleh kursi atau jabatan. Salah satu sebabnya adalah logika yang berlainan dengan konsep perjuangan Islam yang dilalui oleh Rasulullah.

Terkait dengan itu, tak salah kita saksikan fenomena “aneh” saat ini, ketika RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi sudah ditetapkan menjadi Undang-Undang, malah tindakan pornoaksi semakin marak dilakukan. Tidak oleh artis yang memang suka glamour, tapi oleh gadis-gadis muda biasa. Di jalan-jalan berseliweran cewek-cewek muda dengan celana setengah paha. Entah ingin menunjukkan hasil perawatan tubuh atau ingin menampakan keindahan tubuhnya, saat suasana dinginpun celana setengah paha inipun tetap dikenakan. Kalau kita asumsikan UU APP mencoba menegakkan norma berpakaian, kenapa tidak ada tindakan tegas terhadap pelaku pengumbar aurat ini? Mana ngreget UU yang disahkan dengan susah payah ini?

Yang terbesit dalam pikiranku setelah mendengar ceramah Ustadz Yunahar tadi adalah jangan melihat kejadian/peristiwa dari sisi hitam-putih atau baik-buruk saja. Karena suatu tindakan memiliki latar belakang historis. Contohnya, dulu Muhammadiyah pernah memberikan gelar kehormatan DR (HC) bidang Tauhid kepada Ir. Soekarno. Orang yang membaca pemahaman Soekarno tentang Islam tentu akan tersenyum kecut. Tapi tindakan Pimpinan Muhammadiyah pada masa itu harus dilihat bukan dari segi kelayakan pemberian gelar tersebut, tapi lebih pada aspek politis dalam rangka menjaga eksistensi Muhammadiyah. Dimana pada masa itu kekuasaan Soekarno begitu kuat dan kedekatannya dengan kaum Komunis-Sosialis telah berhujung dengan dibubarkannya Masyumi.

Memandang haram dan halal dalam Islam secara saklek membuat kita akan kikuk menghadapi persoalan-persoalan hidup yang begitu kompleks. Kasus sederhana yang cuba saya angkat di sini adalah keberadaan tukang ojek di kampung-kampung. Etika Islam mengajarkan  laki-laki dan wanita yang bukan muhrim tidak boleh berdekatan. Dalam konteks tukang ojek dan penumpang, hal ini tak dapat dihindari. Apalagi di kampung-kampung, dimana ojek motor menjadi kebutuhan yang sulit dihindari. Apakah seorang perempuan yang duduk di belakang tukang ojek bisa dianggap sebagai perbuatan nista dan merendahkan kemuliaan?

So, pemikiranku sementara ini mengatakan “jangan terlalu cepat menghakimi sesuatu”. Apalagi dalam wilayah agama yang terkait dengan dosa dan pahala dengan konsekuensi sorga-neraka. Karena salah menarik kesimpulan, akan berakibat fatal, menimbulkan efek tidak saja di dunia tapi juga di akhirat.

Jadi mumpung masih muda dan waktu masih terluang, ayo kita terus belajar. Hindari sikap takut salah. Karena manusia memang tempat bersemayamnya kesalahan. Sebaik-baik orang bukanlah orang yang tak pernah salah karena tak pernah berbuat, tapi orang yang terus belajar dari kesalahan-kesalahan yang ada…