Ketika Cinta Bertasbih


Aku tak tahu kenapa setiap berbicara dengamu lidah ini terasa kelu? Entah apa yang membuat lisanku tak mampu merangkai kata. Padahal aku selalu merindukan suara lembutmu.

Aku kembali teringat ketika saat mengalami cinta pertama dulu. Saat berpapasan dengan Greaty di sekolah, di jalan dan terakhir di tempat bimbel, aku terpaku. Ingin lidah mengucapkan salam, tapi tiada suara yang keluar. Sampai dia yang memulai sapaan “hai” yang hanya mampu kuucapkan dengan “hai” juga. Setelah itu beberapa saat aku terpaku. Seolah aku bermimpi bertemu dengan bidadari. Kemudian nafaspun sesak, dan hanya terpaan anginlah yang bisa membuatku kembali bernafas normal.

Ku rasakan hal sekian tahun yang lalu itu lagi ketika bersua denganmu, Kak. Bukannya aku tak nyaman berbicara denganmu, tapi suaramu yang lembut telah melayangkan diriku pada suatu tempat yang tak pernah aku temui. Kembali halusinasi seperti mimpi itu menghampiriku.

Kuliah di universitas no 1 di Indonesia, menjadi “bintang bertanya” saat diskusi-diskusi di depan kelas dan telah menjadi instruktur di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, tiada mampu menghilangkan “grogi” karena cinta ini.

Kak, engkau begitu sabar menghadapi segala kekurangan diriku. Kata-kata penyemangatmu mengalir begitu indah masuk ke dalam jiwa ini, ingin  rasanya aku menangis. Tapi ego laki-laki tak boleh cenggeng, telah membuatku menahan air mata.

Kak, baru kali ini ada seorang akhwat yang begitu baik dan menerima segala kekurangan yang kumiliki. Baru kali ini aku diperhatikan begitu dekat. Seringkali perhatianmu membuatku kikuk. Karena aku memang tak terbiasa diperhatikan. Aku dibesarkan dalam semangat “dendam dan egois”. Jiwaku berkembang secara tak baik dengan dorongan amarah dan tak mau dilecehkan.

Ketika aku bertemu dengan dirimu nan lembut lagi penuh kasih sayang, aku merasakan dunia baru. Dunia dendamku teredam oleh keramahan tutur katamu. Dunia gersangku berubah menjadi seperti musim semi nan indah. Kesendirian karena rasa rendah diri, berhadapan dengan riang kebersamaanmu.

Kak, aku tak tahu harus mengatakan apalagi. Akupun juga tak tahu sampai kapan lidah ini kelu ketika berbicara denganmu. Aku juga tak tahu sampai kapan engkau bersabar dengan “orang aneh” sepertiku ini.

Kuiringi menuliskan bait demi bait postingan ini dengan mendengarkan themesong asli “Ketika Cinta Bertasbih”. Ku ingin cinta ini bertasbih di hati. Ku rindukan cinta sejati hiasi diri. Karena hanya cintalah yang bisa menawar luka yang tergores di jiwa…

Kak, aku rindu melihat samudera senja di pantai Padang. Menjelang adzan magrib dikumandangkan dari menara-menara masjid. Pemandangan indah yang tiada duanya… Hanya harapan yang bisa kutambatkan saat ini. Sebuah keinginan bisa bersua denganmu di pantai Padang saat Syawal Suci tahun ini…

Selamat Malam Kak…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s