Hari ini, film Ketika Cinta Bertasbih ditayangkan perdana di bioskop-bioskop Indonesia. Rencananya, seminggu lagi juga dirilis di 8 negara-negara tetangga termasuk Malaysia. Aku masih ingat tulisan di salah satu milis yang dibuat oleh member dari Malaysia. Betapa ia begitu tertarik dengan film ini, hingga takut tak dapat menikmati  film yang dikatakan oleh Pak Din Syamsuddin sebagai film Indonesia terbaik dekade ini. Selain itu, masih juga saya teringat bagaimana karya-karya Buya Hamka banyak dicetak ulang oleh penerbit Malaysia.

Berhubung masih sibuk dengan persiapan ujian, kayaknya saya harus bersabar menunggu beberapa hari untuk menikmati film yang sudah lama saya tunggu ini. Selesaikan ujian dulu, biar tak ada ganjalan yang memalingkan pikiran. Sebenarnya aku ingin menonton “Ketika Cinta Bertasbih” dengan “seseorang spesial” yang mengisi hari-hariku satu bulan ini. Tapi karena ia jauh di seberang pulau Sumatera sana, mungkin hanya ajak teman-teman asrama atau teman-teman IMM aja ntuk nonton bareng.. He2..He2..

Kembali pada rencana pemutaran film Ketika Cinta Bertasbih yang juga merambah Malaysia. Menurut saya momen ini bisa menjadi penenang situasi yang menghangat antara Indonesia – Malaysia terkait blok Ambalat. Ya, paling tidak Malaysia bisa “sadar diri” dengan kontribusi dan betapa butuhnya mereka dengan Indonesia. Jangan mentang-mentang sudah maju dari segi ekonomi terus mau mencoba-coba memancing di air keruh?

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang punya martabat dan dari segi intelektual-kreativitas lebih hebat dari Malaysia. Cuma karena salah urus saja, terombang-ambing kayak sekarang. Btw, Malaysia jangan sok-sok-an lah. “Jangan lupa kacang sama kulitnya”. Tak elok murid melawan guru. Alamat celaka yang akan ditanggung. Seperti yang terpatri dalam syair-syair Melayu. Orang Melayu sering mengklaim sebagai bangsa yang beradab serta berbudaya. Oleh karena itu, seyogyanya Malaysia sebagai negeri Melayu memperlihatkan sikap yang santun dan halus budi.

Mudah2an, perang serumpun tidak terjadi. Sikap Malaysia adalah kunci apakah genderang perang akan ditabuh atau bisa dipadamkan. Setiap negara punya kedaulatan, dan tak senang diusik oleh negara lain. So, marilah kita sama-sama menghormati.

Lihatlah bagaimana orang Indonesia memperlakukan mahasiswa-mahasiswa Malaysia yang kuliah di sini. Tiada diteror, malah diperlakukan secara baik. Karena bangsa Indonesia memang bangsa yang punya martabat. Hanya “negara bejat-lah” yang memperlakukan manusia tak lebih sebagai binatang. Betapa banyak TKI kita yang disiksa, dan dianiaya. Jadi jika memang Malaysia beranggap dirinya sebagai bangsa yang berpendidikan, tentu selayaknya mereka memperlakukan pekerja dan orang-orang Indonesia yang mencari nafkah di sana dengan baik.

Duh, kok aku jadi emosian gini ya? Ya, maklumlah rasa nasionalisme yang tergerogoti telah membuat harga diri tersinggung, tak mau dilecehkan… Udahan dulu ya, takut nulis yang ngak nyambung lagi dengan tema awal..he2..he2.. Sukses dan salam buat seluruh pengunjung Grelovejogja Site…

Iklan