Suasana sepi, purnama merindu. Ketika hujan begitu deras turun di malam tadi. Aku hanya terpaku di kamar ini, menahan dingin nan merasuk tubuh. Berkali-kali aku mengingau, melafadzkan namamu.

Sungguh kerinduan ini semakin dalam menembus relung hati. Engkaulah yang hadirkan kebahagiaan dan indahnya senyuman. Di akhir detik-detik mengakhiri kuliah yang kujalani hampir tujuh tahun.

Kak, seringkali kali aku mengiringi tangisanku ketika terluka karena cinta dengan sebuah do’a, “Ya Tuhan, anugerahkan kepadaku seorang kekasih hati nan hadirkan cahaya dalam hidupku ini”. Apakah kehadiranmu adalah jawaban dari do’a yang dulu pernah kupintakan kepadaNya?

Aku sudah mencoba melupakan insan-insan yang pernah singgah di hati ini. Karena ku tak ingin membawa masa laluku masuk dalam perjalanan kisah kita. “Yang lalu berlalu biarkanlah berlalu, dan hari ini aku ingin hanya bersamamu”. Tak ingin aku menyakitimu dengan luka nan telah terguris. Ku ingin menjadi sosok yang baru, sosok yang dapat engkau miliki seutuhnya tanpa harus mengingat masa laluku yang begitu pahit.

Kak, entah kenapa dengan perasaan ini. Semakin hari aku semakin rindu, semakin takut kehilangan dirimu. Apakah ini yang dinamakan “cinta” itu kak? Sebuah rasa yang selalu didambakan oleh manusia.

Jika memang “iya”, izinkan ku semai “cinta” ini. Biarkan tumbuh bersemi, hiasi taman hati nan tak sanggup lagi untuk sendiri. Kan ku biarkan dia mengalir tanpa harus dipaksakan. Karena ku yakin, sesuatu yang diawali ketulusan, akan diakhiri dengan keikhlasan…

NB: Ku tuliskan bait-bait ini saat aku rindu mendengarkan suaramu, Kak. Namun apa daya, handphoneku mendadak rusak, sehingga komunikasi antara kita harus terputus sementara…