Alhamdulillah, pagi ini aku bisa berangkat ke Kantor PP. Muhammadiyah Jln. Cik Di Tiro Yogyakarta untuk mengikuti kajian rutin Tafsir Al Qur’an. Dua minggu yang lalu karena ada halangan yang jelas, aku terpaksa harus merelakan kehilangan ilmu dari Prof. Yunahar Ilyas yang menjadi penceramah dalam  kajian ini. Bisa datang awal,  membuatku bisa mengikuti sistematika ceramah yang disampai Ustadz Yun.

Adapun ayat yang dibahas pagi tadi adalah Surat Ali Imran ayat 21-25:


21. Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi yang memang tidak dibenarkan dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, maka gembirakanlah mereka bahwa mereka akan menerima siksa yang pedih. (QS. 3:21)

22. Mereka itu adalah orang-orang yang lenyap (pahala) amal-amalnya di dunia dan akhirat, dan mereka sekali-kali tidak memperoleh penolong. (QS. 3:22)

23. Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang telah diberi bahagian yaitu Al-Kitab (Taurat), mereka diseru kepada kitab Allah supaya kitab itu menetapkan hukum di antara mereka; kemudian sebagian dari mereka berpaling, dan mereka selalu membelakangi (kebenaran). (QS. 3:23)

24. Hal itu adalah karena mereka mengaku: Kami tidak akan disentuh oleh api neraka kecuali beberapa hari yang dapat dihitung. Mereka diperdayakan dalam agama mereka oleh apa yang selalu mereka ada-adakan. (QS. 3:24)

25. Bagaimanakah nanti apabila mereka Kami kumpulkan di hari (kiamat) yang tidak ada keraguan tentang adanya. Dan disempurnakan kepada tiap-tiap diri balasan apa yang diusahakannya sedangkan mereka tidak dianiaya (dirugikan). (QS. 3:25)

Berikut ini akan saya sajikan poin-poin penting yang dapat saya rekam pada kajian tadi pagi:

  • Orang Yahudi sering membunuh para Nabi dan Rasul, dimana dalam satu riwayat dikatakan mereka telah membunuh 34 Nabi-Rasul diantaranya Nabi Zakaria dan Nabi Yahya. Sementara usaha pembunuhan mereka terhadap Nabi Isa tidak berhasil, karena Allah mengangkat Nabi Isa ke langit. Tindakan membunuh para Nabi ini disebabkan sikap tidak suka mereka terhadap seruan para Nabi dan Rasul.
  • Selain membunuh para Nabi, Orang-orang Yahudi juga membunuh orang-orang yang menegakkan keadilan seperti ulama atau cendikiwan yang hanif. Fenomena ini juga kita temui di dunia Islam, sebagaimana yang terjadi di Mesir. Dimana Ulama-Ulama seperti Sayyid Qutb dan Hasan Al Banna dibunuh oleh penguasa Mesir pada zamannya. Timbul sebuah pertanyaan kenapa ketika ulama-ulama dibunuh di Mesir tidak timbul perlawanan/pemberontakan dari rakyat? Ternyata orang Mesir sudah terlatih untuk bersabar menghadapi kedzaliman penguasa. Bagi mereka kedzaliman Fira’un lebih dasyat daripada kedzaliman penguasa-penguasa abad-abad belakangan ini. Cuma ada satu hal yang membuat masyarakat Mesir tak mampu bersabar, yakni menahan lapar/kelaparan.
  • Jamaluddin Al Afgani setelah berpetualang di berbagai negara Muslim/Mayoritas Muslim, mengemukakan bahwa ada 2 musuh ulama yang luruh dalam menegakkan keadilan: Raja/Khilafah dan Para Mufti resmi kerajaan.
  • Orang Yahudi suka menyembunyikan kebenaran kitab suci/wahyu Allah. Hal ini dikarenakan mereka tidak takut azab Allah dan berkeyakinan kalaupun mereka akan dimasukkan ke Neraka, itu hanya beberapa hari saja. Tentu sikap “percaya diri” ini adalah sikap berlebihan. Dalam Al Qur’an dikatakan 1 hari di akhirat setara dengan 1000 tahun dunia.
  • Orang Yahudi tertipu oleh pemimpin agamanya. Dalam konteks Islam kejadian ini juga bisa berlaku. Oleh karena itu Yusuf Qardhawi mengingatkan para ulama untuk tidak terlalu mudah mengharamkan dan menghalalkan sesuatu sebelum ditemukan dalil yang sahih (terpercaya) dan sarih (jelas). Dalam ungkapan lain Muhammad Al Ghazali mengungkapkan “membaca hadist tanpa fiqh (pemahaman) akan membahayakan”.

Pada sesi tanya jawab, jama’ah mengajukan beberapa pertanyaan:

  • Hukum Pancasila? Menurut Ustadz Yun, sikap asal hantam pancasila akan merugikan umat. Karena Pancasila adalah konstitusi negara yang  memiliki posisi yang kuat dalam kehidupan bernegara. Oleh karena itu, yang perlu dilakukan umat Islam bukan menolak Pancasila, tapi mencoba “mengislamkan” Pancasila. Apalagi kalau kita lihat dari sejarah, yang mengusulkan kata “Yang Maha Esa” pada sila pertama adalah tokoh Muhammadiyah Ki Bagus Hadikusumo. Dimana Ki Bagus menafsirkan “Yang Maha Esa” berlandaskan surat Al Ikhlas, yakni Tauhid. Upaya pemurnian Islam tidak boleh membabi buta. Harus dilihat dari konteks sejarah dan perjuangan mengislamkan budaya. Oleh karena itu, kita tak bisa melakukan perubahan dengan mengesampingkan kondisi masyarakat yang menjadi objek dakwah. Contohnya, kita tidak bisa semena-mena menyatakan pembacaan alqur’an dalam forum-forum resmi dan membuka majelis dengan basmalah-menutup dengan hamdalah merupakan perbuatan bid’ah. Karena untuk konteks Indonesia yang unik, membudayakan nilai-nilai Islam dalam forum-forum kenegaraan memiliki keuntungan politis.
  • Bagaimanakah posisi MUI? MUI merupakan kumpulan ulama dari 46 ormas Islam. Menurut Buya Hamka, MUI ibarat Bika, dipanggang dari atas dan bawah (serba sulit). Din Syamsudin merumuskan, posisi MUI kalau ke bawah sebagai Khadimul Ummah (Pelayan Umat), jika ke atas sebagai mitra pemerintah.
  • Bagaimanakah hukum wanita sebagai pemimpin? Pendapat ulama dalam hal ini dapat kita pilah, ada yang murni dan ada yang dilandasi kepentingan politik. Yang dilarang adalah wanita sebagai imamah qubra/pemimpin tertinggi yang memiliki kewenangan mutlak baik dalam bidang eksekutif, legislatif maupun yudikatif. Jika hanya sebagai imamah juz’an/memimpin dalam satu bagian misalkan eksekutif saja, maka dibolehkan. Ayat ” arrijalu qouwamuuna ‘alannisa” hanya mengatur rumah tangga saja. Dalam sejarah kita menemukan Umar bin Khattab pernah menunjuk wanita sebagai pemimpin pasar, dan Aisyah pernah menjadi panglima perang. Hal yang perlu dikritisi adalah kebijakan afirmatif terhadap perempuan seperti kuota parlemen 30% untuk perempuan. Karena kebijakan ini mengindikasi psikologi “minta jatah” yang membuat wanita menjadi manja.