Sebagai penduduk mayoritas negeri ini, Umat Islam tentu tidak menjadi bahan pertimbangan bagi tiga pasangan Capres-Cawapres untuk meraup suara. Oleh karena itu, menarik untuk kita cermati sejauh mana dukungan yang diberikan oleh Ormas-Ormas dan Tokoh-Tokoh Islam terhadap ketiga pasangan kandidat presiden Indonesia 2009-2014.

1. Mega – Prabowo

Sepakterjang Megawati tentu tidak terlalu menarik terkait dengan isu-isu umat Islam. Selain kental nasionalis, Megawati juga tidak banyak berbicara tentang Islam dan dalam kesehariannyapun beliau tidak mengenakan busana muslimah.  Yang menarik cuma sekitar pendirian Baitul Muslimin yang bertujuan untuk menjaga konstituen PDIP yang memang banyak dari kalangan muslim.

Prabowo dikenal sebagai Tentara Hijau (istilah yang digunakan bagi anggota TNI yang memiliki ghirah keIslaman) saat masih aktif di TNI. Konon setelah berhenti dari TNI, beliau menjalin hubungan dekat dengan petinggi-petinggi negara Timur Tengah sekaligus berkesempatan memperdalam ajaran Islam.

2. SBY-Boediono

Tidak ada rilis yang mengemuka tentang aktivitas keIslaman kedua tokoh ini. Malahan saat Pilpres 2004 yang lalu, istri SBY diisu-isukan bukan sebagai muslimah. Menjelang Pilpres 2009 ini ada beberapa dukungan dari ormas Islam.

Koran Republikas edisi Selasa 26 Mei 2009 merilis:

Rais am Jam’iyyah Ahli Thoriqoh Mutabaroh Indonesia (JATMI), KH Maktub Effendi mengatakan Boediono pernah menjadi santri KH Thohir Wijaya, pemilik sebuah pesantren di Blitar.

Tim sukses SBY-Boediono pun telah menyiapkan kiat untuk meraih dukungan umat Islam. Tim sukses dari Majelis Dzikir SBY Nurussalam malam, juga telah mendeklarasikan pemenangan SBY-Boediono. ”Kemenangan di pileg akan disinergikan dengan pemenangan di pilpres,” kata Ketua Majelis Dzikir SBY, Haris Tahir. Majelis dzikir akan menginstruksikan kekuatannya di 33 provinsi untuk merapatkan barisan. Semua kekuatan akan dikerahkan untuk bisa menggaet dukungan umat Islam dalam memenangkan SBY-Boediono. Majelis Dzikir SBY di daerah-daerah akan merekrut relawan untuk dijadikan saksi.

Hatta Rajasa menyebut bahwa di bawah SBY maka demokrasi, Islam, dan nasionalisme bisa berjalan seiring. Pembangunan ekonomi, menurutnya, juga sudah menunjukkan kemajuan.

3. JK-Wiranto

Eklebilitas JK-Wiranto belakangan cendrung meningkat karena istri  kedua tokoh ini mengenakan jilbab dalam kesehariannya.  Orang tua JK adalah tokoh NU di Sulawesi dan keluarga Ibu Mufidah adalah keluarga Muhammadiyah.

Dukungan kepada JK-Wiranto telah mengalir dari beberapa tokoh Islam. Sebut saja Buya Syafi’i Ma’arif (Mantan Ketua  PP. Muhammadiyah) dan KH. Hasyim Muzadi (Ketua PBNU). Selain itu Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT), Al-Ittihadiyah, Al Jam-iyah Al-Washliyah, dan PUI (Persatuan Umat Islam) juga telah menyatakan dukungan kepada pasangan ini.

Analisis

Berpijak pada informasi di atas,  terlihat pasangan  Mega-Prabowo belum mendapatkan dukungan dari tokoh maupun ormas Islam. Sementara SBY  didukung oleh Majelis Dzikir dan Jama’ah Tariqoh  (yang kental nuansa sufistik). Tentunya ditambah oleh kekuatan partai Islam-berbasis massa Islam mitra koalisi Demokrat, seperti PKS, PPP, PKB,  dan PAN. Sementara JK-Wiranto mendapatkan dukungan lebih, baik dari ormas Islam seperti BKMT dan PUI, serta tokoh 2  ormas besar di Indonesia Syafi’i Ma’arif dan Hasyim Muzadi.

Kawasan yang menarik kita cermati adalah pertarungan antara Partai Islam -berbasis Islam pendukung SBY dengan suara Tokoh Muhammadiyah dan NU. Meski sangat cepat untuk disederhanakan, tapi dalam wilayah tertentu kita akan melihat pertarungan Islam Politis  dengan Islam Kultural. Kampanye politik kepada kader dan pesona kealiman dan keshalehan tokoh kepada umat.

Kita sangat berharap mudah2an yang terpilih nanti, benar-benar sosok  yang mampu menegakakan kalimat Allah dan memperjuangkan suara kaum muslimin yang merupakan  bagian terbesar dari bangsa ini.  So, umat Islam sekarang harus kritis dengan  pilihan yang ada dan dengan jargon/simbolisasi Islam  yang diusung oleh ketiga kandidat.