Jika hidup adalah perjuangan, maka perjuangan meraih cinta tentu mendapat porsi spesial. Karena lewat cintalah kehidupan ini menjadi indah. Lewat romantika cintalah muka berseri cerah. Berbagai macam istilah yang disandarkan kepada manusia, “animal rational”, “homo homini lupus”, “homo symbolicum”, “homo economicus”. Tapi belum ada yang “homo lovecus”… (He2.. Sorry kalau salah ejaan. Ini cuma istilah ngarang-ngarang sendiri).

Akupun yakin, setiap anak manusia pernah mengalami cinta pertama, cinta kedua, cinta ketiga dan cinta “kesekian kalinya”. Kalaupun ada orang yang cuma mengalami cinta pertama dan berhasil mempertahankan cinta pertamanya sampai meninggal dunia, tentu patut untuk dimasukan dalam Guiness Book Record.. He2.. He2…

Pada kesempatan kali ini, aku akan merilis edisi spesial, “Dia yang pernah di hati”. Kita mulai dari pertama:

  • Greaty Souvanir

Dialah cinta pertamaku. Pertama kali bertemu saat Lomba P4 di Aula Lubuak Nan Tigo Balaikota Solok saat masih imut-imut, kelas 2 SMP. Karena berbeda sekolah, aku baru bisa bertemu dengannya saat SMA. Ya, kami sama-sama menjadi siswa SMAN 1 Kota Solok. Bedanya dia Kelas Unggulan Pertama, aku sedikit di bawahnya Kelas Unggulan Kedua. Pertemuan berkesanku dengannya adalah saat-saat terakhir aku berada di Kota Padang. Aku baru sadar di minggu terakhir BIMBEL di Adzkia, kami satu BIMBEL. Saat itu, ada test psikologi sebelum konsultasi pemilihan jurusan SPMB. Aku ingat, itulah pertemuan terakhirku dengannya. Setelah itu, aku sudah terbang ke Yogya dengan status baru, sebagai mahasiswa UGM. Sementara dirinya, kuliah di Teknik Sipil Unand… Aku senang memanggilnya Great. Meski ia lebih familiar dipanggil Ety. So, terakhir komunikasi, dia bilang sudah punya tunangan. Sehingga akupun hanya bisa mengenang dirinya sebagai cinta pertamaku yang tak akan mungkin terlupakan. Sekarang dia sudah bekerja di Bank Rakyat Indonesia Batusangkar. Aku berdo’a semoga dirimu sukses dan menemukan jodoh yang baik, Great. Amien…

  • Liza Vitria

Kami sama-sama anak baru 2002 di asrama mahasiswa Sumatera Barat. Maklumlah, karena datang dari kampung, jadi masih lugu-lugunya. Liza, begitu aku memanggilnya, merupakan alumnus SMAN 1 Padang Panjang. Orang di Sumatera Barat-pun tahu, pada masa aku sekolah, SMA ini menjadi favorit dan terkenal di Sumatera Barat dengan siswa-siswinya yang cerdas-cerdas. Aku sering mengimpikan Liza sebagai Siti Nurhaliza-ku. Karena memang suaranya benar-benar merdu. Apalagi kalau sudah melantunkan ayat suci Al Qur’an. Angan seraya melayang, jiwa terasa tentram dan damai. Tak heran, dia seringkali menjuarai lomba tilawah MTQ baik di UGM atau tingkat nasional. Orangnya periang dan dewasa. Apalagi kuliah di Psikologi UGM, semakin menampakkan raut intelek di wajahnya. Hari ini dia mengajar di sebuah SMA di Padang Panjang. Sebuah pilihan yang dilandasi rasa sayangnya sama sang Ibu. Kalau dia mau bertahan di Yogya, mungkin sekarang sudah jadi Dosen Psikologi UGM. So, sekarang dia sudah bertunangan dengan seseorang yang sampai kini dia tak mau ngasih tahu kepadaku, siapakah gerangan pemuda yang beruntung mendapatkannya…

  • Ivana Ekasari RRN

Mbak Iva… Begitu aku memanggilnya. Benar, dia berasal dari Wonosobo, Jawa Tengah. Kami dulu sama-sama ikut training Darul Arqam Dasar Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Awalnya aku tidak terlalu memperhatikan dirinya. Padahal saat pelatihan kami  satu kelompok. Sampai saat sama-sama di Instruktur IMM UNY-UGM, aku masih belum terlalu tertarik. Suatu ketika, saat DAD UNY, entah kenapa aku begitu terpukau dengan pesonanya. Dia yang masih muda dariku, lebih tenang, sabar menghadapi persoalan yang pelik saat itu. Sempat ku lihat airmata mengalir di pipinya. Sejak itu, aku kagum dengannya. Tapi sayang, ternyata momen itu adalah masa-masa terakhirnya di IMM. Mbak Iva, akhirnya resign karena memang mau fokus kuliah yang selama ini sering tertinggal karena sibuk ngurusin organisasi. Saat ini, dia hampir memasuki gerbang kelulusan. Dan aku harus melupakan dirinya karena dia sudah bertunangan dengan teman SMA-nya yang sekarang kuliah UI Jakarta.