Kulalui kuliah hari ini dengan semangat yang tersisa. Tadi malam karena kedatangan teman asrama putri satu angkatan yang lagi punya masalah about “marriage” terpaksalah aku harus menemaninya bersama Ilwan sampai jam 1 malam. Bukan diriku ingin bercampur baur atau berasyik-asyik dengan wanita, tapi memang dia lagi menghadapi masalah serius. Maklumlah sindrom twenty five old bagi wanita memang membuatnya pusing tujuh keliling.

Bisa bangun pagi dan mendengarkan syahdu adzan shubuh, kuulangi lagi tidur setelah sholat shubuh dan membaca beberapa ayat Al Qur’an. Entah kenapa, baru jam 09.40 aku bangun. Terbuai mimpi main bola di lapangan bersama orang Kampung. Ya, udah lama ngak latihan dan tanding bola. Kemarin ada sms dari mas Jipong, pemain hebat yang pernah masuk PSIM Yogyakarta, untuk turut sparing patner hari Rabu besok.

Semalam, Nadia, sahabat baikku lulusan IAIN Imam Bonjol Padang, yang besar dalam keluarga besar Thawalib Padang Panjang, mengirimkan sms kepadaku. Ada sebait kalimat yang membuat aku tersipu sendiri. “Uda, salam kenal ya buat calon kakak ipar”. Konon, dia tahu aku lagi dekat dengan Kak Titi dari tulisan yang ku upload di blog.

Hari ini, aku masih menunggu kabar darimu, Kak. Apakah paket yang kukirimkan 6 hari yang lalu sudah sampai. Setelah telponan kita terakhir, saat ku berterus kepadamu bahwa “pilihanku sangat ditentukan dengan penerimaan kedua orang tuaku”, ada rasa yang lain. Bagiku memang lebih baik berpahit di awal daripada bermanis di depan, tapi tidak menunjukkan keseriusan. Siapapun gadis yang hendak aku nikahi, terlebih dulu akan ku kenalkan kepada Ibu, Bapak dan seluruh keluarga besarku. Kalau Bapak dan Ibu sudah memberikan lampu hijau, barulah aku akan meperjuangkan cinta sepenuh hati. Tapi, jika orang tuaku tiada memiliki simpati, malahan tak merasa enak dengan gadis yang ku suka, maka aku akan melepasnya demi kebahagiaan dan redha kedua orang tuaku. Karena aku yakin sepenuhnya, ridha orang tualah yang membuat hidup ini menjadi indah dan selamat dunia-akhirat.

Aku tidak akan mengikat dirimu Kak. Sebagaimana seorang pemuda yang telah mengikatmu tanpa kepastian selama 4 tahun. Aku punya masa depan sendiri dan idealisme sendiri. Aku tak mau perubahan dalam diriku karena wanita. Serius, aku ingin berubah karena keinginan dan suara jiwaku sendiri.

Jika engkau menemui seorang pemuda yang siap menikahimu dan engkau juga melihat kebaikan-masa depan dalam dirinya, maka silahkanlah menikah dengan pemuda itu Kak. Aku tiada akan tersakiti. Karena ku memahami engkau harus segera melepas tekanan yang begitu berat ini. Jalanku masih panjang Kak. Aku masih butuh memperbaiki diri, mesti belajar lagi tentang hidup. Masih ada orang tua dan adik-adikku yang mesti aku bahagiakan.

Tapi jika engkau tetap setia dengan janji yang pernah diikrarkan, dan kedua orang tuaku menerimamu dengan tangan terbuka, aku hanya bisa berkata “Bersabarlah dulu Kak. Berikan aku waktu sejenak untuk menyelesaikan amanah kuliah dan mencoba mencari ma’isah”.

Ke depan, aku tak mau disibukkan dengan godaan wanita. Aku ingin fokus dengan skripsi yang tentuknya membutuhkan waktu, tenaga dan pikiran yang ekstra. So, biarlah waktu yang menjawab semuanya. Karena kita manusia, biarlah Tuhan yang menentukan ini semua.

Iklan