Hujan di Sore Ini


Hujan turun deras sore. Aku masih terpaku di depan komputer, mengutak-atik blog, facebook, dan beberapa situs. Ku kirimkan jua beberapa sms kepada kak Titi. Ya, seorang kakak yang dikenalkan Ipit kepadaku.

Dialah yang mengisi hari-hariku belakangan ini. Dengan sms dan suaranya yang lembut. Kalau dia ada pulsa, dialah yang mencall. Tapi kalau aku lagi banyak pulsa, akulah yang menghubungi dirinya. Entah kenapa, aku enjoy dan senang berkomunikasi dengannya. Ada saja cerita inspiratif yang kami bicarakan, entah itu kenakalan murid-muridnya (ia seorang guru honorer di MTsN dan SD) ataupun keisengan guru-guru yang mungkin senang godain guru muda single dan cantik. Kadang diselang-selangi percakapan dengan bahasa Inggris yang memang spesialisasinya.

Namun, yang membuatku terus merasa bersalah, hampir setiap kali telpon-telpon ia terisak mengeluarkan airmata. Aku ngak tahu, apakah kata-kataku teramat tajam? Atau aku tak begitu mengerti dengan kehalusan perasaan perempuan? Hingga akhirnya aku menjadi kikuk sendiri. Maklumlah, meski sudah melewati usia 24 tahun, aku tak pernah dekat dengan wanita. Baru kali ini aku merasakan kedekatan yang begitu akrab.

Ketika kedekatan ini semakin tak terkendali dan semakin membuaiku masuk dalam jurang kemaksiatan pacaran, kemarin meski harus menyisakan airmata, ku sampaikan padanya agar dalam hubungan ini tetap menjaga etika pergaulan. Karena aku memang tak mau terjebak dalam buaian asrama yang membuta hati.

Telah ku dengar beberapa cerita, pemuda dan pemudi taat beragama saat mereka sudah bertunangan, jatuh dalam godaan untuk merasakan kenikmatan yang belum dihalalkan. Seolah-olah ikrar pertunangan sudah dianggap memiliki dan boleh bergaul layaknya suami-istri.

Hati laki-laki memang lemah, apalagi harus berhadapan dengan perempuan. Tak salah jika Rasulullah mengingatkan, “Sesungguhnya fitnah yang paling besar aku tinggalkan untuk kalian adalah perempuan”.

Aku teringat uraian Ustadz Prof. Dr. Yunahar Ilyas  saat kajian Tafsir Alqur’an beberapa waktu yang lalu, “Laki-laki itu disukai karena statusnya. Sementara perempuan disukai karena 4 hal, kecantikan, kekayaan, keturunan dan kesholehahan”. Wanita yang diibaratkan sebagai perhiasan dunia, memang secara alamiah cantik dan menarik hati kaum Adam. Sementara laki-laki dicintai lebih banyak karena embel-embel yang melekat.

Dengan statusku sebagai mahasiswa tua, yang ngak jelas akan punya masa depan seperti apa, aku begitu terharu dengan ungkapan jujurnya, bahwa ia akan menunggu diriku. Telah banyak pemuda yang datang melamar, punya pekerjaan yang mapan, ganteng, sholeh, mahasiswa Universitas Al Azhar, tapi tak jua mengetarkan hatinya untuk menerima pinangan itu. Entah kenapa dengan diriku, ia merasakan suatu yang berbeda.

Sesungguhnya kelahiran, jodoh, rezeki dan kematian telah tertulis. Masa depan sudah dirancang Allah sedemikian rupa. Manusia berkehendak, tapi kehendak Allah-lah yang akan terlaksana. Hanya do’a yang dapat kupanjatkan,

“Ya Rabb, jika memang dia baik untukku, baik untuk keluarga, baik untuk masa depanku, baik untuk agamaku…. Aku mohon padamu ya Allah, jadikanlah ia sebagai pendamping hidupku… Yang dengannya ingin kuraih surga-Mu Ya Allah… Yang dengan bersamanya ingin ku raih ridho-Mu Ya Allah…”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s