Pertama kali saya minta maaf, karena tidak sempat mencatat dari awal ceramah Ustadz Ridwan pagi hari ini. Maklumlah, ada kegiatan rutin tiap ahad, kerja bakti membersihkan asrama. Namun, kehilangan sebagian tak mesti menghilangkan semuanya.

Hari ini tema yang diangkat adalah “Mentadabburi Al Qur’an”. Menjadi kebiasaan para Ulama selain menyetting waktu khusus untuk membaca, menghafal, dan memahami makna Al Qur’an, mereka juga menyediakan waktu spesial untuk mentadabburi Al Qur’an.

Mentadabburi Al Qur’an memang hal yang cukup sulit, namun bukan berarti sesuatu yang mustahil. Tadabbur Al Qur’an adalah kegiatan memikirkan dan merenungkan ayat-ayat Al Qur’an untuk dipahami, untuk didalami maknanya, hikmahnya, dan maksud yang dikehendaki ayat-ayat tersebut.

Hal yang paling utama dalam mentadabburi Al Qur’an adalah CINTA AL QUR’AN. Cinta yang lahir dari hati, yang menimbulkan kerinduan, dan menghadirkan kenikmatan tiada tara. Meraih kenikmatan melalui Al Qur’an bukanlah perkara yang mudah. Ada seorang Ulama yang membutuhkan 20 tahun agar ia sampai pada maqam mulia ini.

Sebuah kecintaan tentu tak bisa diklaim lewat kata-kata saja. Ada beberapa indikator yang menunjukkan sifat orang yang mencintai Al Qur’an:

1. Senang bertemu/berinteraksi dengan Al Qur’an. Termasuk dalam hal ini, kebanggaan membawa Al Qur’an kemana saja dia pergi.

2. Sanggup duduk dalam waktu yang lama tanpa merasa bosan saat membaca Al Qur’an.

3. Selalu rindu kepada Al Qur’an.

4. Banyak membicarakan Al Qur’an. Dalam konteks ini kita tidak dianjurkan untuk belajar Al Qur’an dari Orientalis dan para kaki tangannya, karena mereka mempelajari Al Qur’an tidak berangkat dari keimanan, tapi dari keraguan dan niat mencari kelemahan-kelemahan dalam Al Qur’an.

5. Menghilang sifat takut kehilangan hafalan. Karena hal ini bisa menghambat semangat membaca dan menghafal Al Qur’an.

Iklan