Ku bersyukur padaMu Ya Allah. Hari ini aku kembali terjaga lebih awal. Menikmati indahnya kesyahduan pagi, saat bulan hendak kembali ke peraduan. Menikmati indahnya bintang kejora, nan terus berkelap-kelip di ujung ufuk timur, menantikan mentari ntuk terangi dunia.

Ku tatapi wajahmu Kak, lewat foto yang engkau kirimkan kemarin padaku. Foto yang ku letakkan di background windows, agar aku selalu bisa mengingatmu kalau menghidupkan komputer ini.

Bekelabat pikiranku 6 hari ini. Bukan karena masalah cepat atau tidak cepat Kak. Sampai hari ini, aku masih percaya dengan “cinta pandangan pertama”. Aku selalu percaya bisikan hati. Karena tiada pernah “dia” membohongiku. Aku telah terpukau oleh pesonamu ketika pertama kali berkenalan.

Pagi ini, masih tergiang dalam memori, suara merdumu. Kak, aku benar-benar tak mau kehilangan cinta lagi. Aku benar-benar takut Kak, kehilangan dirimu. Mungkin rasa inilah, hantarkan sms yang kemarin ku kirimkan padamu.

Akupun tak ingin munafik. Aku pernah suka dengan gadis-gadis lain sebelum bersua denganmu. Akupun telah sedia menantikan jawaban cinta pertamaku saat kelas 2 smp sampai semester 10 aku kuliah. Hingga aku rela melepasnya, karena memang ia telah memilih yang lain.

Kak, aku ingin kekalkan dirimu dalam memori ini. Tapi akupun tak tahu apakah akhir dari kisah ini. Aku hanya bisa memanjatkan sebait do’a, karena hanya itulah yang mampu ku lakukan. Aku sudah tak percaya lagi dengan kuasa diri untuk menaklukan hati.

Sama seperti dirimu, akupun tak tahu tentang keputusanNya. Jika ini baik untuk kita berdua, aku tiada akan lelah untuk terus menadahkan tangan kepadaNya. Karena ku yakin, Dia-lah yang menyatukan hati 2 anak manusia.