Pagi ini aku tersentak setelah menerima telepon dari seorang Kakak yang baru ku kenal Senin malam kemarin. Menyadarkanku tentang arti “apa hebatnya bisa kuliah di UGM?”. Dia memang tidak secara eksplisit menyampaikan kepadaku tentang makna hidup yang sebenarnya. Tapi lewat pembicaraan panjang dengannya, aku jadi berpikir sendiri tentang status-ku sebagai “anak UGM”, yang digadang-gadangkan sebagai Universitas No. 1 di Indonesia.

Aku yang telah larut dalam dunia virtual, sebagaimana teori simulakra yang dijelaskan oleh Derrida, dimana manusia terjebak dalam kehidupan semu yang dia anggap sebagai kenyataan. Lebih dari 10 jam waktuku dihabiskan di depan komputer. Asyik dengan dunia maya, menjadi “Manusia Goa”nya Plato, melihat realitas sebatas bayangan.

Apa arti status sebagai mahasiswa UGM, jika memahami hidup dan menjalankan interaksi dengan orang lain begitu sulit? Apa arti kuliah jauh-jauh jika kemampuan tetap saja pas-pas tak melebihi pencapaian yang telah diraih oleh teman-teman yang dulu sama-sama berjuang dan hanya bisa kuliah di seputaran Sumatera Barat saja?

Aku benar-benar gamang dengan diriku sendiri. Tiada sesuatu yang dapat dibanggakan. Tiada sesuatu yang dapat diandalkan. Tak lebih dari manusia bodoh yang terluntang-lantung dalam arus gelombang kehidupan yang begitu deras.

Kakak itu, yang hanya lulusan sekolah tinggi kependidikan swasta di kota Padang, yang jika dibandingkan dengan nama UGM tiada apa-apanya, telah jauh dewasa mengharungi terjangan hidup. So, apa guna jauh-jauh sekolah, duduk sebagai mahasiswa di Universitas No 1 di Indonesia, jika tak lebih baik darinya?

Entahlah, sampai detik ini aku masih tak bisa menjawabnya… Tapi pagi ini, keegoan telah luntur oleh teguran seorang Kakak yang manis di seberang sana. Yang menjadi teman, hilangkan sepi beberapa hari ini.