Kala terjaga di shubuh hari mendengarkan sayup-sayup suara adzan dari Masjid, seketika tubuh tersentak seolah baru kembali dari dunia lain antah-berantah. Kadang dihiasi oleh pengembaraan melelahkan dalam rangkaian cerita yang seolah nampak nyata, yang oleh orang dinamakan mimpi.

Misteri mimpi telah menjadi kajian yang cukup hangat sejarah keberadaan umat manusia. Kebijakan membunuh anak-anak laki-laki Bani Israil pada zaman Nabi Musa oleh Fira’un bermula dari sebuah mimpi Raja Mesir itu. Diangkatnya Nabi Yusuf  sebagai “Mentri Pertanian” juga tak lepas dari tafsir mimpi yang ia uraikan di depan raja. Perintah Allah kepada Ibrahim untuk mengorbankan anaknya Ismail juga hadir melalui mimpi.

Bagi kalangan tertentu, mimpi mengandung maksud dari realitas adikodrati yang ingin menyampaikan sesuatu kepada manusia. Akan tetapi para ilmuan tidak cukup puas dengan jawaban, mimpi adalah perjalanan jiwa yang pada tidur melepaskan diri dari tubuh. Bagi kaum yang tak percaya pada masalah-masalah metafisis merumuskan secara umum, mimpi tak lebih kerja alam bawah sadar manusia yang terbentuk atas rekaman memori di otak manusia.

Berpijak pada kemampuan manusia untuk memahami realitas, menurut penulis keseluruhan kehidupan manusia tak lebih sekedar “mimpi” saja. Yang membuat manusia menyatakan pada saat dia bangun yang dialaminya adalah sesuatu yang nyata, dikarenakan durasi yang nyata ini lebih panjang daripada mimpi yang terbatas saat manusia terlelap dalam tidur.

Namun, bukankah yang kita alami saat “terjaga” mirip dengan fenomena mimpi. Dalam mimpi orang tak bisa mengendalikan alur cerita yang terjadi. Sama dengan ketidakmampuan untuk mengendalikan realitas yang terjadi di hadapan kita. Pola yang terjadi di dunia ini bukanlah sebab-akibat, tetapi sebuah rentetan atas kemestian hukum alam yang berlaku. Air akan mendidih pada suhu 100 derajat celsius, karena memang begitu hukum yang berlaku. Jadi air mendidih bukan disebabkan dipanaskan sampai 100 derajat celcius, tapi keadaan air yang mendidih pada suhu 100 derajat celcius adalah kelanjutan berikutnya dari proses air dipanaskan, bukan akibat dipanaskan.

Begitu juga ketika berinteraksi dengan orang lain. Kita tak mampu menangkap maksud dari perilaku orang lain, baik itu perilaku verbal maupun kinetis. Karena apa yang diucapkan bisa berlainan dengan kata hati, senyum yang ditampakkan bisa dikamuflase tidak semata menunjukan kebahagiaan hati. Berhubungan dengan hal ini, dosen penulis pernah mengatakan “Janganlah  menduga-duga perasaan seseorang. Karena itu akan menimbulkan prasangka yang jauh dari keadaan sebenarnya”. Menyangka senyum seorang cewek sebagai “tanda hati”, eh ternyata dia cuma geli melihat model rambut kita yang dianggapnya unik. Jadi jangan terlalu percaya dengan kilasan mata.

Pikiran kita bekerja dengan sistem tertentu, dan pikiran masing-masing orang berjalan dengan pola yang berbeda. Pola ini terbentuk karena tiap-tiap individu itu unik dan memiliki pengalaman-pengalaman yang berbeda pula. Tidak hanya itu, seseorang juga harus menghadapi rumitnya fenomena alam yang juga berlaku dengan mekanisme tertentu.

Kerumitan akan mimpi dan kenyataan inilah yang memusingkan Rene Descartes. Suatu malam di musim dingin, dia termanggu di depan tungku perapian, bertanya-tanya “apakah yang sedang saya alami saat ini adalah kenyataan?”. Sebuah pertanyaan yang lama berkelabat di kepalanya. Keraguan eksistensial tentang apa yang saya tahu tentang diri saya dan apa yang hadir di depan saya, dipecahkan oleh Descartes, dengan lontaran keyakinan yang sampai saat ini menjadi pijakan bagi pengembangan pengetahuan manusia, Cogito. “Saya tidak bisa meragukan sama sekali, bahwa saat ini saya sedang berpikir”.

Menurut hemat penulis, Cogito telah memberikan justifikasi yang tak terbantahkan karena memang itu kodrat manusia. Yang keberadaannya menjadi bermakna karena daya pikir yang telah dianugerahkan Tuhan. Mungkin tak salah jika dikatakan, manusia berarti bukan karena tubuh yang dia bawa berjalan ke sana ke mari. Karena manusia pada prinsipnya adalah entitas pikiran.