Kajian Ahad tadi pagi di Masjid Kampus UGM diisi oleh Ustadz Abu Ayyub dikarenakan Ustadz. Ridwan Hamidi berhalangan hadir. Adapun tafsir yang dibahas adalah Surat At Tahrim ayat 6, dimana Allah berfirman:

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

Mufassir kenamaan Ibnu Mas’ud menerangkan, jika Allah menyeru dalam Alqur’an dengan panggilan “Yaa Ayyuhalladzina Amanuu”, maka sikap seorang mukmin yang baik adalah mendengarkan dengan baik. Hal ini dikarenakan seruan tersebut mengandung 2 maksud:

1. Perintah yang merupakan kebaikan yang hendak diberitahu Allah terhadap hambaNya.

2. Kejelekkan yang Allah perintahkan untuk meninggalkannya.

Terkait dengan ayat ini, terkandung arti bahwa keberhasilan dakwah yang luas dimulai dari organisasi sosial terkecil dalam masyarakat yaitu keluarga. Sangat mengherankan apabila dalam mengurus rumah tangga saja tidak berhasil, bagaimana pula akan menanggung tanggung jawab untuk berdakwah pada masyarakat yang lebih luas. Karena untuk tantangan yang skalanya masih kecil saja, tidak berhasil.

Oleh karena vitalnya posisi rumah tangga dalam kehidupan seorang muslim/muslimat, maka Rasulullah memberikan tuntunan kepada kita terkait langkah-langkah dalam membina rumah tangga yang sakinah dan diredhai oleh Allah.

1. Mengawali dalam memilih calon suami/istri yang memiliki komitmen yang sama dalam membangun rumah tangga yang rabbani. Oleh karena itu, janganlah mengedepankan perasaan “belas kasihan” dalam memilih pasangan, karena ibarat orang hendak makan, maka carilah nasi, jangan beras yang dibeli. Sebab, bisa jadi kalau memasaknya tak pandai, yang didapatkan adalah bubur (terlalu banyak air) ataupun nasi yang keras (karena kekurangan air).

2. Berdo’a dengan sungguh-sungguh kepada Allah agar dikaruniai pasangan dan keturunan yang baik. Hal ini juga menjadi sunnah dari para Nabi, seperti do’anya Nabi Ibrahim dan Nabi Zakaria.

3. Merasa gembira dengan kelahiran anak. Hal ini perlu mendapatkan perhatian, karena ada beberapa pasangan yang merasa tidak senang dan berkeluh kesah dengan kehadiran anak yang belum siap mereka terima. Mungkin karena faktor ekonomi ataupun yang lainnya. Sikap tidak senang dengan kelahiran anak adalah sifat kaum kafir jahiliyah yang tidak selayaknya kita tiru. Kelahiran anak bukan faktor menyebabkan kefakiran. Karena Allah telah menjamin rizki setiap yang bernyawa di atas muka bumi ini.

4. Memanjatkan do’a untuk kebaikan keluarga.

5. Memberikan nama yang baik kepada anak karena nama mengandung do’a. Seperti nama-nama yang dicintai Allah, Abdullah dan Abdurrahman.

6. Menanamkan akhlak yang terpuji kepada keluarga lewat tauladan.

7. Menggunakan bahasa dan tutur kata yang lemah lembut dalam rumah tangga.

Selain langkah-langkah di atas tadi, hendaknya sepasang suami-istri menjauhi beberapa sifat/hal-hal yang menciderai kelanggengan rumah tangga:

1. Kebohongan

2. Memperhatikan pendidikan di keluarga dan pendidikan di sekolah.

3. Tidak menyerahkan pendidikan anak kepada pembantu yang biasanya srata pendidikannya rendah.

4. Mengawasi informasi dan tontonan yang masuk ke dalam rumah.

5. Memperhatikan waktu-waktu kosong anak. Terkait dengan hal ini ada cerita menarik tentang Syaikh Sudais yang saat ini menjadi Imam di Masjidil Haram. Pada saat beliau berusia 11 tahun, ibunya sering membawa Sudais kecil ke Masjidil Haram. Ibunya punya impian, suatu hari kelak sang anak bisa menjadi Imam. Akhirnya berkat do’a dan pendidikan yang baik, Syaikh Sudais berhasil mewujudkan impian ibunya.

6. Jangan memperlihatkan kepada anak hal-hal yang tercela, seperti laki-laki yang menyerupai wanita (bencong) ataupun laki-laki yang memakai anting.