Keputusan Rapat pimpinan nasional khusus (Rapimnasus) Partai Golkar menetapkan Ketua Umum M Jusuf Kalla sebagai calon presiden membuatku bersemangat untuk menanti perkembangan cawapres yang akan dipilih oleh SBY dan tentunya siapa yang akan mendampingi Pak JK. Ya, waktu semakin sempit, tinggal 2 minggu lagi, tepatnya tanggal 10 Mei 2009, untuk mendaftarkan diri pada perhelatan PILPRES Juli nanti.

Yang menarik untuk disimak adalah pertarungan kampanye yang tentunya akan dihiasi klaim-klaim keberhasilan pemerintah 2004-2009. SBY tentunya tak bisa menjudge bahwa suksesnya beberapa program pemerintah semata-mata berkat kepemimpinan beliau saja. Karena ada peran-peran vital dari JK sebagai Wapres yang tidak bisa dinafikan. Kalau yang bermain nantinya adalah penggunaan jabatan politik, tentu saja SBY tidak bisa sewenang-wenang. Karena otoritas wapres juga bisa dilakukan JK. Tapi kita tidak mengharapkan penggunaan fasilitas negara oleh kedua kandidat ini.

Terus terang penulis lebih cendrung untuk mendukung JK sebagai Presiden. Pertama adalah agar dinamika negara ini bisa berjalan dinamis. Nafsu berkuasa dari SBY telah menunjukan tanda-tanda feodalisasi jabatan dengan menaikkan anaknya sebagai anggota parlemen. Kedua, kecendrungan pemimpin Indonesia adalah gila jabatan. Ketika tahta kepresidenan dilalui lebih dari satu periode ada perasaan save, nyaman, dan permainan politik mengekalkan kekuasaan akan semakin merajalela. Oleh karena itu, agaknya pergantian Presiden tiap periode agaknya menjadi suatu nilai plus percaturan perpolitikan di Indonesia untuk menjauhkan diri dari warisan feodalistik kekuasaan.

Selain itu, kehadiran JK sebagai Capres yang notabene adalah putra non Jawa menjadi ujian tersendiri apakah bangsa ini yang mayoritas dihuni oleh suku Jawa mau berlapang hati untuk memberikan kesempatan kepada orang di luar komunitasnya. Dalam arti lain, di sinilah akan politik multikultural mendapatkan  jawaban, apakah benar bangsa ini telah mampu lepas dari dominasi satu suku bangsa tertentu dan memberikan peluang untuk siapa saja dari anak negeri ini untuk menjadi orang no 1.

Setelah kemarin pakar politik UGM Pak Ichlasul Amal dengan pesimistik akan hadirnya kompetisi pada pilpres dengan mengajukan kekhawatiran hanya akan ada satu calon tunggal, keberanian Golkar untuk mengajukan JK sebagai capres patut kita sambut dengan gembira. Karena kehadiran JK akan membuat pilihan semakin beragam, dan tentunya memberikan warna baru setelah beberapa waktu yang lalu, SBY telah berada di atas angin.

Namun, kekecewaan akan tersisa di hati penulis jika PKS dan PBB yang penulis coblos dalam pemilu legislatif 9 April kemarin mengarahkan haluan ke Demokrat. Mudah2an sinyalemen positif yang disampaikan oleh Hidayat Nur Wahid dengan pencapres-an JK berindikasi berputarnya kemudi ke arah Golkar.

So, kita tunggu saja perkembangan selanjutnya. Tentu yang jadi pertanyaan besar, apa kabar Megawati???