Kebencian sebagian kita terhadap Nasrani telah membuat kita kehilangan simpati terhadap keberadaan Nabi Isa ‘alaihisalam. Bagaimana belas kasihan dan rasa sayang beliau terhadap umatnya pada masa itu.

Terlepas dari perdebatan yang disalib itu Yudas (pemimpin Yahudi yang konon dirubah wajahnya mirip dengan Nabi Isa ‘alaihi wassalam) atau memang benar Nabi Isa, ada sisi lain yang penulis terpikir oleh penulis, bagaimanakah perasaan Maryam (Ibu Nabi Isa) ketika mengetahui anaknya disalib hidup-hidup? Setelah melewati masa-masa pahit dengan “cap” sebagai pezina yang dialamatkan oleh masyarakat, karena anak tiada berbapak.

Seorang rahib Fransiskan pada abad ke-13 tentang penderitaan di Golgotha, mengubah sebuah lagu puja dengan syair:

”Stabat Mater dolorosa iuxta crucem lacrimosa dum pendebat Filius…”—”Ibu itu di sana, berdiri, berkabung, di sisi salib tempat sang anak tergantung.”

Sedikit sekali kita mendapatkan kisah Ibu dari para Nabi. Bagaimana jejak mereka dalam mengasuh “anak istimewa” yang akan dimuliakan Tuhan lewat penyampaian keselamatan kepada umat manusia. Bagaimana air mata mereka mengalir, ketika harus berpisah ataupun mendengarkan pelecehan dan penganiayaan para penentang risalah kerasulan.

Apakah kecendrungan patriakhistik scientist-kah yang membuat jejak perjuangan dan  pengorbanan Ibu para Nabi tidak begitu mengemuka dalam buku-buku sejarah?

Entahlah… Di zaman modern ini, wanita masih saja tetap dianggap sebagai pemuas nafsu para lelaki. Namun sayang, banyak diantara mereka yang tidak menyadari bahwa mode dan gaya hidup telah menjadikan mereka korban dari keliaran lelaki.

Wahai para kaum Ibu, bangkitlah dari penindasan. Engkau memang sering dijadikan sebagai perhiasan, tapi janganlah kemilau-mu engkau berikan pada semua orang. Karena dari rahim-mulah lahir anak-anak yang akan meneruskan kehidupan di muka bumi ini. Yang akan merubah sejarah, entah menuju kebaikan atau kehancuran.

Tentu, tangisan Maryam atas disalibnya Isa, adalah tangis kebahagiaan, karena tunai sudah amanat dari Tuhan.

Mudah2an kita tak pernah mengalirkan airmata Ibu, karena kedurhakaan yang kita lakukan. Karena amatlah hina jika itu terjadi.