Anna: Mas… Namanya siapa? … Azzam: Abdullah (Trailer Film “Ketika Cinta Bertasbih”)

Ini adalah cuplikan dialog antara Anna Althafunnisa dan Azzam, saat pertemuan tak terduga di pinggir jalan. Saat itu Azzam telah berhasil menolong menyelamatkan barang Anna dan temannya yang tertinggal di sebuah bis.

Cerita yang akan penulis uraikan pada kesempatan ini bukanlah tentang kelanjutan dari kisah Anna dan Azzam, karena tidak lama lagi filmnya akan bisa kita nikmati. Penulis hendak menyampaikan hal yang lebih jauh dari suara lembut Anna yang memanggil “Mas” kepada Azzam, yakni soal pemilihan pasangan.

Maklumlah sebagai anak rantau yang memiliki kultur berbeda dengan tanah Jawa menjadi dilema sendiri dalam memilih siapa pasangan kelak (penulis memakai kata “memilih” karena jodoh adalah sesuatu yang harus diusahakan, meskipun tentang keputusan akhirnya hak preogratif Allah). Eloknya budaya Jawa telah menyilaukan mata. Apalagi pergaulan dengan orang-orangnya. Suasana yang tak akan mungkin penulis rasakan jika dulu kuliah di kota Padang.

Kalau dirujuk pada penelitian scientist, pernikahan beda suku bangsa (yang tentunya jauh secara gen) berpeluang melahirkan generasi-generasi dengan potensi gen yang bagus. Tentunya, pernikahan beda suku akan membuat kita semakin saling mengenal dan lebih terbuka dengan kehadiran yang berbeda dengan latar historis budaya kita.

Namun, ada yang persoalan emosi yang menjadi halangan dari pernikahan beda suku ini. Halangan dari orang tua yang lebih cendrung menganjurkan anaknya untuk menikah dengan sesama daerah. Ataupun kendala cultural-linguistik yang nantinya akan membuat chemistry interaksi agak tersendat. Sampai pada masalah yang cukup sepele, perbedaan lidah yang membuat nuansa ruang makan agak sedikit terganggu.

Terlepas dari plus-minus pernikahan beda suku bangsa, agaknya timbangan agama bisa memecahkan itu semua. Kalau rasa keimanan yang melandasi rumah tangga, insya Allah persoalan yang lebih rendah di bawahnya akan bisa dimaklumi seraya berusaha untuk terus disesuaikan.

So, enaknya dipanggil “Mas” atau dipanggil “Uda” ya???? :)