Minggu ini merupakan hari-hari panas dalam suhu perpolitikan di tanah air. Catatan KPU sampai hari ini masih menempatkan Partai Demokrat sebagai pemuncak pemilu tanggal 9 April yang lalu. Perhitungan quick count agaknya telah diterima oleh para elit partai dengan semakin kuat arus koalisi di antara partai.

Sebagai partai yang agaknya akan memenangkan Pemilu 2009, Partai Demokrat menjadi pusat pusaran koalisi dari partai-partai yang memperoleh suara di bawahnya. Sebut saja Golkar, PKS, PPP, dan PBB. Sementara kubu lainnya, dipegang oleh PDIP yang mencoba menjalin komunikasi dengan Partai Hanura dan Gerindra.

Yang menarik bagi penulis adalah pertemuan Amien Rais dengan pimpinan wilayah PAN se-Indonesia. Dalam rilis yang penulis baca di Media, Amien Rais cendrung untuk mengarahkan PAN merapat ke Demokrat, karena melihat popularitas SBY yang memiliki kans cukup besar memenangkan PILPRES.

Masih jelas dalam memori penulis, dalam seminar yang diadakan oleh Majelis Pemberdayaan Masyarakat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Desember 2008 yang lalu, Prof. Amien dengan lantang mengatakan ” SBY dan Mega adalah kandidat yang sama-sama berpegang pada ekonomi pasar, tunduk kepada IMF dan suka menjual BUMN”.

Serius, penulis semakin binggung dengan pilihan politik Amien Rais yang seolah-olah sangat mudah menelan ludah sendiri. Entah ini hanya analisis  penulis yang amat dangkal? Entahlah, tapi penulis hanya mencoba memaparkan apa yang penulis lihat, dengar dan baca dari media.

Barusan aja dengar berita dari RCTI, ternyata keinginan Amien Rais merapatkan diri pada Partai Demokrat disambut dingin. Demokrat saat ini sedang menjalin serius membicarakan koalisi dengan Golkar.

Akhirnya, memang politik menyajikan para aktor yang harus pintar berlakon biar bisa menhanyutkan penonton dalam mainan kekuasaan yang hanya memang menggiurkan banyak banyak. So, mudah2an masih ada harapan untuk kemajuan Indonesia di masa yang akan datang. Amien…