Sejenak aku ingin menghentikan memori, biar bisa ku renungi hari-hari nan telah ku lalui. Karena untuk menghentikan waktu adalah sebuah kemusykilan yang tak akan mampu kulakukan. Mencoba melihat jejak yang sudah tertinggal, biar timbul kesadaran, seberapa jauhkan langkah yang telah kujejalkan.

Karena lamunan telah disentakkan oleh keberhasilan teman-teman yang dulu sama-sama mulai melangkah. Ada yang hampir menembus Gedung Parlemen di Senayan, ada yang sudah melanglang buana ke negeri orang, ada yang telah mapan dengan gaji diatas 5 juta sebulan, dan ada juga yang sudah bekerja di perusahaan multinasional.

Sementara aku masih terpaku di sini. Masih kuliah dan masih di kamar yang telah kutempati dari 6,5 tahun yang lalu. Tentu ada sesal menghinggapi diri, tapi apalah arti mengutuk semua yang telah terjadi. Tiada kata terlambat untuk memperbaiki diri. Selama nafas masih mengalir di nadi, selama itulah kekuatan untuk berubah mesti disirami.

Kadang malu yang berlebihan telah membuat tangan terbelenggu. Padahal destinasi mesti dimulai dari anak tangga ke-satu. Dan umurku masih masih muda, masih banyak tenaga untuk menapaki tangga dari semula. Mulai belajar bahasa, membaca dunia, dan memperbaiki intelektualita.

Karena hidup bagaikan perlombaan. Siapa yang mempersiapkan diri, dialah yang akan memenangkan pertandingan. Setiap gerik, kita akan berhadapan dengan orang lain, bukan sebagai lawan tapi sebagai kompetitor yang bersaing memperebutkan kesempatan. Kalau modal tak cukup, kemampuan tak ada, dan semangat juga tak punya, bersiap-siaplah jadi pihak yang kalah nan terlempar dari persaingan yang ada. Menjadi manusia tak berguna, yang hanya menjadi beban orang lain saja.

Jika hari ini engkau belum bisa mendapatkan idaman hati, berarti engkau belum siap  untuk memiliki. Karena memang permata itu menyilaukan mata banyak orang. Tapi siapakah yang nantinya akan memiliki? Tentu sang pemilik kekayaan yang mampu membeli dengan harga tertinggi.

Begitu juga manusia. Keindahannya ditentukan oleh akhlak dan agama. Jika engkau hendak mendamba bidadari dunia, tentu tak bisa dengan diri nan durjana. Engkaupun harus menghiasi diri dengan sikap yang baik, dan ketaatan kepada Ilahi. Bukankah, laki-laki yang baik untuk wanita yang baik? Sebagaimana janji Allah yang tak mungkin teringkari.

Jika engkau pernah bermimpi menjalin kasih dengan sang bidadari, segeralah bersihkan hati dan kuatkan motivasi. Karena seorang hamba akan mendapatkan sesuai dengan yang ia persiapkan untuk meraihnya…