Lembayung malam, setelah hujan deras sore tadi. Hanya ada angin sepoi-sepoi yang tak lagi dinginkan hati. Karena semua telah buram dibawa awan hitam. Dalam tarian kepiluan yang entah sampai kapan berhenti berkelabatan.

Anak rantau, yang mencoba ntuk membakar amarah pada suku bangsa yang terlalu dominan di negeri ini. Yang mencoba meleburkan diri dari egoistis etnis sendiri. Mencoba memahami jiwa gadis yang berbeda dengan gadis-gadis tanah kelahirannya sendiri. Seraya berharap menjadi orang yang lebih terbuka dan mengerti arti sebuah keragaman.

Tapi hanya sunyi yang ia hadapi. Meneruskan jejak mimpi, tanpa pernah bisa bertatap mata dengan gadis yang ia cintai. Terinspirasi oleh Tan Malaka.

Tan yang juga manusia biasa, yang memiliki rasa cinta. Pahitnya percintaan telah membawanya berlabuh di negeri seberang, melupakan cinta dengan belajar di negeri penjajah.

Memendam sakit, di loteng senyap kepunyaan nyonya tua Belanda yang berbaik hati pada anak tanah jajahan. Sakit karena badan tak terbiasa dengan dinginnya hari. Sakit karena makanan tak membangkitkan selera.

Terus diburu agen rahasia. Berlari menyelamatkan diri karena diri tak disukai kaum kolonial. Dari Hongkong, Amoy, Temasek, hingga Deli, dan Bayah…

Suatu ketika, saat dibuang dari “Hindia Belanda” karena aksi menyadarkan bangsa sendiri membuat geram sang penjajah, terpaksalah dia kembali pergi. Berlayar dari tanah Jawa, sempat singgah di Teluk Bayur. Tapi Tan berpesan kepada adiknya, “Jangan beritahu Ibu bahwa saya singgah di Teluk Bayur”. Pemuda Tan begitu lembut hatinya. Begitu sayang pada sang Bunda. Hingga tak rela melihat tangisan Bunda, karena diri yang terlunta-lunta.

Namun, tak sedikitpun ia mengeluh. Karena dia sadar, beginilah nasib sang pejuang (meski ia tak membanggakan dirinya dengan sebutan sakral itu). Harus rela diburu, dilempar dari satu negeri ke negeri baru, hati tak boleh terikat oleh keluarga, handai-tolan dan sanak-saudara. Bahkan dengan diripun tak boleh sekali-kali merasa hiba. Karena inilah takdir revolusioner.

Sakitnya hidup tak pernah membuat Tan menyerah. Dia tak pernah menjadi atheis, mengutuk Tuhan karena penderitaan yang ditimpakan. Tan terus berjalan sekuat kaki melangkah. Terus berpikir selagi mampu berpikir, meski sakit telah membuat otaknya lumpuh beberapa tahun. Terus menulis, karena pemuda bangsa ini butuh panduan melangkah ke depan.

Ibrahim Datuk Tan Malaka, begitulah nama lengkapnya. Mati diujung senapan bangsa sendiri. Di sebuah desa sunyi di Kediri, 1949 silam. Tapi, semangatnya tak pernah padam. Terus membakar jiwa-jiwa pemuda yang rindu kemerdekaan sejati buat negeri ini.

Jika Tan, tak pernah berkeluh kesah dengan nasib, kenapa aku harus kalah hanya karena ditinggalkan oleh seorang gadis. Memang Tan jauh lebih hebat. Tapi, jejak sesama anak Minang harus terus diturunkan. Anak Minang yang semakin keras dilecut kalau terus meraung tak mau menghentikan tangisan. Dididik keras, tak takut menghadang terjangan gelombang kehidupan.

Ditemani Madilog… Dari Penjara ke Penjara… Ingin kupandangi mentari esok pagi. Karena darah leluhurku, masih merah, masih menanti pengorbanan generasi hari ini. Meneruskan deretan panjang pengabdian tanpa pamrih buat negeri ini. Indonesia…