Banyak orang curiga, kemenangan sementara Partai Demokrat versi quick count disebabkan oleh kecurangan sistematik dengan menggunakan mekanisme kekuasaan yang dimiliki oleh SBY saat ini. Tapi, praduga ini masih harus dibuktikan secara faktual oleh pihak-pihak yang berkepentingan dan merasa dirugikan.

Terlepas dari berbagai analisis mengapa demokrat bisa menang (salah satunya oleh M Qodari), tentu kita tak perlu terpaku oleh fenomena yang membuat partai-partai besar sebelum seperti Golkar dan PDIP pusing tak habis pikir. Yang perlu dicermati saat ini adalah tentang caleg-caleg yang berhasil menapakkan kaki di gedung parlemen. Apakah mereka-mereka itu adalah wakil rakyat yang akan serius memperjuang kesejahteraan rakyat dan mengangkat derajat bangsa ini lepas dari cengkraman asing, ataukah tak lebih pegawai politik yang hanya sumringah mendapatkan gaji setiap bulan.

Karena yang dipilih masyarakat pada tanggal 9 April yang lalu bukanlah Partai, tapi orang. Caleg yang kadang-kadang tak terlalu menghiraukan ideologi partai yang mengusungnya apa, tetapi lebih melihat peluang jika ia bergabung dengan partai tersebut. Jika yang terpilih adalah orang-orang yang kritis, kredibel, lebih mementingkan keadilan untuk rakyat, daripada tekanan politis partai yang mengusungnya, maka kita bisa bernafas lega karena ada harapan cerah dengan kehadiran mereka.

So, mulai sekarang jangan lagi terlalu sibuk dengan perolehan suara Demokrat, tapi mulailah telusuri siapa gerangan caleg yang melenggang ke senayan. Karena, lewat merekalah aspirasi kita akan diperjuangkan.