“Semoga kita tetap jadi saudara seiman yang dirahmati Allah. Tak ada niatan dari saya untuk memutus tali silaturrahim. Tapi jika memang menurut Mas, tidak berkomunikasi lebih baik, ya monggo. Asal Mas bisa tenang hatinya”

Ku harap ini adalah sms terakhir di antara kita. Karena hati ini terlalu perih untuk terus mengingat dirimu Adinda. Kata yang engkau rangkai, mengharu hatiku menahan agar tangisan tak keluar dari mataku.

Aku telah putus harapan untuk mencinta. Yang tinggal kini hanyalah sebuah penyesalan, kenapa aku menganggu gadis yang telah dikhitbah oleh orang lain. Mungkin aku tak lebih dari “laki-laki bajingan”. Tak lebih dari sekedar najis yang tak sedap untuk dipandang.

Pria yang punya impian selangit, tapi kakinya tak pernah tercecah di bumi. Tak layak untuk dicintai, apalagi dikasihani. Karena airmatanya tak lebih dari kemunafikan. Wajahnya penuh dengan kenistaan, apalagi hatinya yang penuh kebusukan. Ya, manusia bejat yang tak pantas dicintai.

He2.. Buat apalagi menangis. Bukankah hidup bisa dijalani tanpa kekasih? Bukankah hati tak mesti diisi dengan cinta kasih? Tuhan telah menciptakan kebencian, dan manusia berhak untuk memasukannya ke dalam hati?

Tapi aku tak akan membencimu, Adinda. Karena dirimu begitu suci dan terlalu baik. Aku hanya sedang menghina dan mencaci diriku. Karena dosalah yang membuat aku seperti ini.

Setelah ini, aku mungkin lebih baik jadi orang gila saja. Karena itu lebih baik. Apapun yang dilakukan orang gila, tiada dianggap aneh oleh orang. Karena dia memang gila.

Panas hari, tak mampu cairkan hati yang akan terus membeku. Sampai kapan? Akupun juga tak tahu. Karena setelah denganmu aku tak mau jatuh cinta lagi. Kecuali Ayah dan Ibu sudah kangen menimang cucu…