Besok, hari libur khusus Pemilu. Lusa, almanak merah memperingati Wafat Yesus Kristus. Sabtu dan Ahad juga libur. Jadi ada 4 hari liburan yang bisa dimanfaatkan. Teman-teman di kampus dah pada siap-siap mudik ke kampung halaman. Selain melepas lelah kuliah, tentu mencontreng caleg menjadi agenda penting.

Kadang iri juga sih, sama teman-teman yang berasal dari pulau Jawa. Kalau ada libur lebih 2 hari bisa balik kampung. Berbeda dengan anak rantauan sepertiku ini. Ya, pulkam hanya bisa pas libur lebaran saja. Jadi berangan-angan, kalau dulu aku kuliah di Padang. Tentu, sering pulang kampung. Tapi ngak masalah. Mudah2an 4 hari ini ada hal bermanfaat yang dapat ku kerjakan.

Kemarin, setelah koordinasi Team Web Dosen UGM bersama Mas Iskandar, adek kelas yang jago web, dan Buk Laily Mutmainnah yang barusan ujian pendadaran tesis di Magister Ilmu Politik UGM, sempat juga aku duduk santai di depan perpustakaan. Karena masih pagi, banyak dosen yang berdatangan. Tentunya, senyum manis dan sapaan akrab harus dipersiapkan. Maklumlah, wajah tuaku dah dikenal oleh banyak dosen. He2.. He2.. Ya mestilah, nongkrong di filsafat dah dari 6 tahun yang lalu. He2.. He2..

Tentunya ada dosen yang kenal akrab dan ada juga yang biasa-biasanya saja. Salah satunya yang suka “godain” adalah Pak Abbas Hamami. Mantan Dekan yang mau masuk masa pensiun. “Gimana Mas Anggun, dah selesai skripsinya?” tanya beliau. “Belum Pak, ni masih ngerjain proposal”, jawabku. “Jangan lama-lama, ngak usah diiringkan skripsi dengan pencarian jodoh..he..he”. “Wah, ngak pak. Kalau jodoh mah datang sendiri”. “Enggak bisa begitu mas, jodoh yang harus dicari. Kalau diam aja mana bisa dapat”.

Akhirnya aku hanya bisa ketawa. Karena memang kata-kata orang tua sudah lolos verifikasi. Namanya juga dah lama hidup, tentu pengalaman sudah berjibun banyaknya. So, aku hanya bisa mengiyakan ujaran pak Abbas yang kemudian berlalu menuju ruangannya.

Hari ini, hari kedua aku menanti jawaban dari seorang teman yang ku mintain tolong untuk menanyakan status gadis yang sudah lama aku idamkan. Kata temanku ini, harus pelan-pelan, g bisa tergesa-gesa. Karena ini masalah serius, jadi butuh butuh waktu. Sementara aku hanya bisa menunggu dalam perasaan tak menentu. Tapi itulah yang dapat kulakukan. Ini adalah harapan pamungkasku, dan jika tiada menemui jawaban membahagiakan, terpaksalah aku kembali merana.

Ya, mudah2an aku tak frustasi. Karena konon, patah hati juga bisa merusak jaringan otak dan jantung. Aku dah bertekad, apapun jawaban darinya aku akan menerima. Jika masih penolakan, aku akan berhenti beberapa waktu untuk memikirkan pernikahan. Jikalau ada mu’jizat, hatinya terbuka untukku, aku akan mempersiapkan diri semaksimal mungkin.

Hari ini, satu hari menjelang pemilu yang mendebarkan. Kartu pemilih sudah di tangan. Tapi pilihan belum jua ditentukan. Aku masih binggung…