Masa kampanye terbuka telah ditutup sejak tadi malam. Seorang pengurus Partai Keadilan Sejahtera yang tinggal di sebelah asramaku mengadakan “syukuran” dengan menghadirkan nasyid. Mungkin sekalian berdo’a semoga diberikan kemenangan pada Pemilu esok.

Kalau ku tanya sama teman-teman Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, mereka umumnya milih merah atau biru alias Partai Matahari Bangsa dan Partai Partai Amanat Nasional. Tapi entah kenapa aku tak terlalu tertarik dengan dua partai ini. Kecuali kemampuan Ketua PMB, Mas IMAM ADDARUQUTNI, yang konon hafal 30 juz Al Qur’an dan keberadaan 2 pakar ekonomi, Faisal Basri dan Didik Rachbini di jajaran pengurus Partai Amanat Nasional.

Kalau dilihat dari kejujuran dan sistem kepartaian, agaknya aku tertarik dengan PKS. Ya, siapa tahu kalau PKS menang dan mendapatkan kursi yang lebih banyak, suara mereka bisa garang di Parlemen. Karena pas kampanye dikatakan mereka sering kalah voting dalam pengesahan kebijakan.

Malahan, barusan aku mendapatkan sms dari seorang teman. Seorang akhwat yang dulu satu SMA. Sebenarnya aneh juga sih, tiap aku nanyain kabarnya, dia diam-diam saja. Kok, sekarang ngirim sms kampanye? Iya ngak tahulan. SMS akhwat tu bunyinya gini:

Jangan lupa Pemilu 2009 nyoblosnya 8-PKS (Partai Keadilan Sejahtera) yang insya Allah )i( Partai Keluarga Sakinah )i( Patang Korupsi & Suap )i( Partai Kita Semua. PKS No. 8

Tapi ngak tahulah, dari beberapa teman-teman, aku mendapatkan hal-hal yang membuatku ngak sreg dengan PKS. Sementara aku masih berharap ada sms dari bapak-bapak di DPP PBB.

Kalau Bapak masih tetap dengan Golkar. Ya, maklumlah Bapak memang dulu lama menjadi pengurus Golkar. Pernah juga jadi anggota DPRD dari Golkar. Cuma pas ada kebijakan pegawai negeri ngak boleh berpolitik, Bapak memilih resign dari Golkar. Memang darah politik kuat dalam diri Bapak. Setelah Deppen dihapuskan, beliau ditempatkan di sekretariat DPRD. Karena dah berpengalaman, jadi ngak terlalu sulit buat Bapak menjalan tugas yang baru itu. Malahan sering anggota-anggota DPRD minta pertimbangan Bapak kalau lagi ada rapat-rapat dewan. Sekarang, Bapak malahan kerja di KPUD. Ya, ngak jauh-jauh dari politik.

Kalau aku, memang ngak terlalu banyak berkecimpung di politik. Jangankan masuk partai, kiprahku di beberapa organisasi juga ngak terlalu berhasil. Seringkali aku mendefiniskan diri sebagai sang pemuja sepi. He2.. He2.. Bergelut di kamar dan kebanyakan di depan komputer. He2.. He2..

Kalau ditanya, “Mas, suka partai apa?”. Tentu akan ku jawab Partai Bulan Bintang. Aku se-ide dengan platform partai ini. Dan tentunya aku masih suka dengan Pak Yusril terlepas dari sentimen terhadap pernikahan beliau. Tapi ketika di dataran caleg-caleg yang ada, aku kebinggungan. Tiada caleg daerah dari mereka yang ku kenal. Ya, mudah2an Pak Hamdan Zoelva memberikan sedikit informasi kepadaku setelah kemarin ku kirimkan email kepada beliau. Kan beliau pernah berkunjung di blog ini, jadi aku punya contact dengan beliau. He2.. He2..

Tentu godaan terbesar bagiku adalah Golput. Aku masih menunggu kabar dari Ustadz Ridwan Hamidi tentang apa yang akan ku pilih nanti. Mudah2an ada fatwa dari ulama Saudi Arabia terkait pemilu esok. Karena sekarang ini selain fatwa MUI, aku lebih banyak mendapatkan seruan untuk tak memilih.

Saat ini yang sangat vital adalah kemampuan caleg. Sepak terjang caleglah yang akan menentukan kemenangan Partai. Tentu kalau memilih orang, tentu kita harus kenal dulu. Sementara waktu semakin dekat. So, jelang 3 hari ini mudah2an aku bisa mendapatkan ilham mau milih siapa pas pemilu nanti. Karena, konon pemilu ini akan sangat menentukan jalan ke depan bangsa besar yang ku cintai ini, Indonesia.