Judul postingan ini kudapatkan setelah mendengar ceramah di masjid kampus tadi pagi. Biasanya yang ngisi Ustadz Ridwan Hamidi. Tapi berhubung beliau lagi mendampingi jama’ah umrah ke tanah suci, kajian Ahad Pagi tadi digantikan oleh Ustadz Abu Abdurrahman.

Dalam term agama dikenal seruan untuk “Janganlah kamu berlebih-lebihan”, dalam sebuah ayat Alqur’an berhubungan dengan makan dan minum. “Kulu was rabu wa tusrifu”. Kira-kira begitu bunyinya.

Antitesis dari seruan ini adalah sikap kesederhanaan yang berlebihan. Kalau soal makanan banyak orang terobsesi dengan bentuk tubuh yang ramping, biasanya mereka melakukan diet.

Terus, masalah yang lain, yang lagi ngentren dengan hawa minimalis ini adalah pakaian. Jadi model pakaian sekarang ini dibuat semini mungkin. Ngak perlu pakai lengan, terus bawahannya cukup setengah paha saja.

Awalnya aku sih cuba berpositif thinking aja. Mungkin ini adalah bagian adaptasi natural atas semakin kuatnya efek global warming. Jadi bawaannya panas terus. Biar ngak terlalu gerah, semakin lakulah pakaian-pakaian simple dan yang pendek-pendek.

Tapi anehnya, pakaian minimalis ini juga dikenakan saat naik gunung, saat malam, pas hujan-hujan, atau saat musim dingin. Jadi tesis global warmingku ngak berlaku lagi.  So, sampailah aku pada jawaban, ini adalah budaya. Yang tercipta dari image bahwa pakaian yang gaul dan modern adalah yang minimalis kayak beginian.

Kalau kain yang digunakan semakin sedikit, sementara harga tetap bisa dinaikkan dengan memberi kesan yang wah, kayaknya perusahaan pakaian akan semakin kaya. Coz, ongkos produksi semakin kecil dan harga pasar semakin naik. Ya, lagi-lagi para kapitalis yang merengguk untung. Gitu deh…

Memang dunia yang semakin tua, membuat budaya-budaya fisik kuno semakin dinikmati. Ya, kayak barang antik-lah. Semakin tua semakin mahal harganya. Dan belakangan ini selera kuno pakaian minimalis seperti yang kita lihat para suku-suku pedalaman, makin digandrungi.

So, yang keren sekarang memang yang unik-unik hingga membuat mata tak sempat berkedip.  Kecuali yang takut sama dosa. Ya terpaksa membatasi diri berkeliaran di tempat-tempat ramai. Karena banyak pemandangan yang bikin pening kepala… He2..He2…