Betapa sakitnya saat engkau acuhkan aku, Adinda. Ku rindukan senyuman, malah kebisuan yang engkau hantarkan. Terlalu aku mendambakan dirimu.

Di malam syahdu ini, aku kembali terbayang wajahmu. Setelah sejak siang sampai sore tadi hujan turun, kini bintang dan rembulan masih hiasi malam. Namun, aku tetap kesepian. Hanya ditemani angin malam.

Wahai engkau yang ku puja, masih setia aku menanti di sini. Bertahan untuk teguhkan hati, bahwa engkau tercipta untukku. Pengobat rindu hanyalah kenangan dulu yang masih bertahan dalam memoriku.

Ingin ku tuliskan, syair merdu untukmu. Tanda kesetiaan dan pengharapanku. Bersedia merana memendam angan. Karena ku yakin engkaulah bidadariku.

Duhai adinda, sampai kapankah engkau tetap mendiamkanku di sini. Apakah masih kau simpan rasa benci?

Aku tak tahu lagi, bagaimana diri yang tak berdaya ini memohon kepadamu. Aku semakin gila dibuai rindu, harap berjumpa denganmu. Tiap malam ku lalui dengan ingauan, terus menyebut namamu. Seraya berdo’a agar engkau datang dalam mimpiku.

Serindu-rindu aku menantimu duhai adinda. Bibir terus lantunkan syair hamba malang. Nan menunggu uluran tangan darimu.

Duhai adinda, tegakah engkau biarkan ku seperti ini???

Iklan