Aku terkesima membaca tulisan “Jangan Pinta Aku Membuka Kerudung” seorang muslimah yang memberikan nama blognya dengan kata yang begitu indah “Rinduku“. Saya yakin dia bukan gadis biasa. Setiap postingan yang ia tuliskan terasa benar nuansa Islami. Setiap nafas yang dia hembusan teriring kecintaan kepada Ilahi. Sebuah kenikmatan yang sampai saat ini belum dapat ku rasakan.

Sejak dulu, rasa kerinduan kepada Tuhan inilah yang ku cari. Berakhirnya pengembaraan di Salafi, juga dikarenakan aku tiada menemukan suasana hati yang menyejukkan. Setiap sholat, aku selalu digelisahkan “apakah sholat yang kulakukan sudah benar gerakannya”. Hati terus was-was, takut dinilai salah oleh teman pengajian.

Duhai betapa bahagianya insan yang telah menemukan nikmatnya kemesraan bersama Tuhan. Tiada kegelisahan, karena semua yang terjadi tak lain tak bukan dariNya jua. Tiada lafaz keputusasaan dengan pemberian Kekasih Tercinta.

Kegersangan jiwa inilah yang dicari oleh banyak ulama fiqih. Salah satunya, hujjatul Islam Imam Al Ghazali. Beliau meninggalkan dunia syariat, mengembara dalam kesederhaaan sufi. Berjalan jauh, mencari air penyejuk jiwa yang hampa, meski sudah bergulat dengan Qur’an dan Hadist.

Susah sekali untuk jatuh cinta karena Allah. Tapi itu semua mungkin terjadi karena kita tak mau menjadikan Allah sebagai penuntun kita. Kita hilangkan peran Allah dalam setiap langkah. Padahal apalah yang tak diliputi olehNya di langit dan di bumi ini? Dia meliputi segalanya! Jika saja mau menyadari itu dan memenuhi hak-hakNya, Ia akan memapah hati kita bukan hanya untuk mengenalNya, tapi juga bertamasya dalam taman-taman cinta yang indah. Taman cinta yang diridhaiNya

Inilah sebait sms yang dikirimkan oleh seorang teman beberapa hari yang lalu. Yang membuat aku bertanya-tanya, apakah aku berkesempatan merasakan indah cinta karenaNya dan merasakan nikmat bersendirian denganNya.

Hari ini, hatiku masih diliputi nyanyian-nyanyian sendu dari suara-suara biduanita. Yang membuatku melayang. Gamang, tak sadarkan diri. Tapi apakah ini halal? Mendengarkan suara wanita yang bukan muhrimku. Apalagi mendengarkan suara dari perempuan yang sudah bersuami layaknya Kak Siti Nurhaliza.

Entahlah, aku benar-benar hancur. Aku belum bisa jadikan sholat malam sebagai pengobat kesedihan. Belum bisa jadikan Al Qur’an pengobat kesepian. Dalam kegalauan ini, telah pula aku larut dalam “Memori Cinta“, senandung Melayu nan mendayu-dayu. Nama penyanyinya unik juga, Yelse. Suara benar-benar merdu. Melayangkan angan ke atas awan.

Tuhan, kapan aku berhenti diliputi cinta tak semestinya ini. Larut dalam rindu terlarang. Terus membayangkan dirinya yang benar-benar berkesan di hati ini…