Kata Bapak, Ibu adalah sosok perempuan yang pemberani. Semua berawal dari keadaan. Kerjaan Kakek yang hanya sebagai guru dengan gaji pas-pas, membuat Ibu sebagai anak ketiga meski ikut membantu keuangan keluarga.

Di kampung Ibu, ada rel kereta api yang tiap hari berlalu lalang membawa batu bara dari Sawahlunto menuju Pelabuhan Teluk Bayur. Mulai dari siang sepulang sekolah, Ibu dah siap-siap menjajakan makanan. Seringkali Ibu harus berpacu dengan kereta api, agar bisa mendapatkan tumpangan menuju kawasan Kayu Tanam ataupun Lubuk Alung yang memang lumayan ramai.

Aku baru sadar, darah pedagang sudah mendarah-daging sejak kecil di tubuh Ibu. Bahkan teguran Bapak, agar Ibu fokus saja dengan profesi sebagai Guru SD, tak mampu menghalangi.

Seringkali aku kasihan dengan Ibu. Pagi-pagi, jauh sebelum adzan shubuh berkumandang, beliau sudah sibuk di dapur memasak makanan-makanan untuk dititipkan ataupun dijual di depan rumah. Sorepun, setelah pulang mengajar, beliau sudah kembali siap-siap ke pasar membeli bahan untuk diolah sampai malam.

Terakhir, saat pulang kampung 3 tahun yang lalu, Ibu masih setia dengan berjualan. Sampai larut malam beliau duduk di pinggiran jalan menjajakan durian.

Saat tidur sore tadi, Ibu hadir dalam mimpiku. Mungkin, ini sebuah panggilan bagiku untuk tak larut dalam kesedihan oleh wanita. Karena aku masih memiliki seorang perempuan yang sangat berjasa dalam hidup. Tak lain dan tak bukan Ibuku sendiri.

Sore ini, langit tlah begitu kelam ditutupi awan hitam. Perjalanan hidup mesti dihadang, meski apapun rintangan. Karena selembar ijazahlah yang bisa mengantarkanku pulang dan kembali bertemu dengan engkau, duhai Ibu.

Dan adzan magribpun berkumandang. Kuakhiri tulisan ini. Dalam risau dan kerinduan mendalam pada kampung halaman… Selamat datang malam…