FENOMENA FACEBOOK DI INDONESIA

Posted on Updated on


A. Pendahuluan

1. Latarbelakang Masalah

“Indonesia saat ini telah menjadi “the Republic of the Facebook” (Putra, 2009). Itulah headlines yang ditulis oleh Budi Putra mantan editor Harian Tempo yang dirilis oleh CNET Asia portal IT terkemuka di Asia pada awal bulan Januari 2009 lalu (Linkedin.com; 2009). Ungkapan ini terinspirasi oleh perkembangan penggunaan Facebook oleh masyarakat Indonesia yang mencapai pertumbuhan 645% pada tahun 2008. “Prestasi” ini menjadikan Indonesia sebagai “the fastest growing country on Facebook in Southeast Asia”. Bahkan, angka ini mengalahkan pertumbuhan pengguna Facebook di China dan India yang merupakan peringkat teratas populasi penduduk di dunia (Sahana, 2008).

Demam Facebook menggejala di Indonesia, sebagaimana yang dilaporkan oleh Tempo Interaktif 9 Februari 2009, dimulai pada pertengahan tahun 2008. Bahkan disebutkan juga hingga pertengahan 2007 Facebook nyaris tak dilirik pengguna Internet. Lonjakan pengguna Facebook pada pertengahan 2008 dibuktikan dengan statistik Facebook sebagai situs ranking kelima yang paling banyak diakses di Indonesia. Luar biasanya lagi, “Indonesia tercatat dalam sepuluh besar negara pemakai situs yang mulai dibuka untuk umum pada 2006 ini.” (Wiguna, 2009).

Melihat sepakterjang Facebook yang semakin familiar dan digandrungi oleh pengguna internet di Indonesia, membuat kita bertanya-tanya, seperti apakah bentuk, daya tarik, dan kelebihan situs jaringan sosial yang telah menjadi trandsetter dalam dunia virtual ini.

2. Tujuan dan Manfaat Penulisan

1. Mengungkap muatan kapitalisme pada Facebook
2. Memberikan penyadaran kepada pengguna Facebook untuk tidak terjebak dalam permainanan kapitalis
3. Memberikan solusi alternatif untuk migrasi dari Facebook ke situs komunitas buatan dalam negeri.

B. Pembahasan

A. Sekilas tentang Facebook

Sebagaimana di rilis dalam Press Room official situs Facebook, dinyatakan bahwa web jaringan sosial ini pertama kali diluncurkan pada tahun 6 Februari 2004 dan bertujuan untuk memudahkan interaksi antar individu tanpa harus terikat oleh jarak dan sekat-sekat geografis.

“Ditemukan pada bulan Januari 2004, Facebook adalah sebuah sarana sosial yang membantu masyarakat untuk berkomunikasi secara lebih effisien dengan teman-teman, keluarga dan teman sekerja. Perusahaan ini mengembangkan teknologi yang memudahkan dalam sharing informasi melewati social graph, digital mapping kehidupan real hubungan sosial manusia. Siapun boleh mendaftar di Facebook dan berinteraksi dengan orang-orang yang mereka kenal dalam lingkungan saling percaya.” (Facebook.com; 2009)

Penemu situs pertemanan ini adalah Mark Zuckerberg seorang mahasiswa “droup out” Universitas Harvard Amerika Serikat. Dia dilahirkan pada 14 Mei 1984. Kejeniusan dan kreativitas lewat Facebook membuat anak muda ini menempatkan dirinya sebagai jajarang 400 orang terkaya di Amerika Serikat versi Majalah Forbes edisi September 2008, tepatnya peringkat 321 dengan total kekayaan 1,5 Miliyar Dollar US. (Forbes.com; September 2008)
Sebenarnya Zuckerberg adalah mahasiswa jurusan Psikologi Harvard. Mengutak-atik dan menciptakan program komputer hanyalah kegiatan untuk bersenang-senang. Mungkin latar belakang keilmuan psikologi itulah ia tertarik untuk membuat situs-situs sosial. Sebelum menciptakan facebook ia telah merilis Coursematch yang memudahkan para mahasiswa melihat mata kuliah yang diambil, Facemash yang memungkinkan para pengguna mengukur daya tarik orang lain.

Pada usia 20 tahun, Zuckerberg meluncurkan “The Facebook”. Awalnya diperuntukkan khusus bagi mahasiswa Universitas Harvard. Hanya dalam 24 jam setelah diluncurkan, 1.200 mahasiswa Harvard sudah menjadi anggota. Dalam sebulan, separuh warga Harvard menjadi anggota. Keberhasilan ini membuat Zuckerberg membuka keanggotaan “The Facebook” untuk seluruh mahasiswa di Boston. Belakangan dibuka bagi mahasiswa Ivy League (kelompok delapan kampus paling top Amerika Serikat), dan kemudian seluruh mahasiswa di Amerika Serikat (Wiguna, 2009).

Tepat awal februari yang lalu Facebook merayakan ulang tahunnya yang ke 5. Sejauh ini tercatat lebih dari 175 juta pengguna Facebook tersebar di seluruh dunia yaitu pengguna yang telah aktif dalam 30 hari terakhir (Facebook.com; 2009). 24 juta foto diunggah setiap hari, dan rata-rata jumlah teman per-anggota 120 orang (Nurhoiri, 2009).

B. Facebook di Indonesia

Pengguna Facebook di Indonesia masih didominasi oleh kaum kelas menengah ke atas yang memiliki akses internet (yang masih tergolong mahal di Indonesia). Kebanyakan mereka adalah pelajar, mahasiswa, dosen, pekerja, politisi serta beberapa tokoh-tokoh nasional.

Terhitung sampai 22 Februari 2009, 1.333.649 user Indonesia telah terdaftar di Facebook dan sekitar 73% (976.372 orang) di antaranya adalah user usia produktif (18-34 tahun). Dilihat dari gender, 688.306 user laki-laki dan 600.045 user perempuan.(Allfacebook.com; 2009)

Demam Facebook adalah kelanjutan dari keberhasilan situs komunitas Friendster yang berhasil menjaring 12 juta “registered users” atau sekitar 60% pengguna internet di Indonesia (Friendster.com; Juli 2008). Bahkan banyak pengguna Friendster yang melakukan migrasi ke Facebook karena layanan yang diberikan lebih lengkap dan mengikuti selera masyarakat. Facebook memiliki sederet fitur yang memungkinkan penggunanya berinteraksi langsung (real time), seperti chatting, tag foto, blog, game, dan update status ”what are you doing now” yang dinilai lebih keren dari Friendster.

C. Kapitalisme Informasional

Perdebatan kapitalisme di Indonesia seringkali mencurahkan perhatian yang besar pada perusahaan multinasional yang mengeruk kekayaan negeri ini bertahun-tahun lamanya (seperti Chevron, Freeford, dan Shell), kapitalisme yang diusung oleh institusi keuangan global, dan produk-produk seperti Mc Donnald, Mc D, dan CFC.

Banyak yang tak sadar bahwa situs perkawanan Facebook adalah bagian dari kapitalisme global. Mengapa penulis katakan demikian, karena banyak aktivis kampus, dosen, dan tokoh masyarakat yang selama ini getol menyuarakan “Anti Kapitalisme” dan “Anti Globalisme” menjadi anggota dari situs ini.

Berapapun banyak teman yang ada dalam jaringan Facebook, tidak memberikan pengaruh signifikan dalam hubungan sosial. Bahkan tidak pula menaikkan popularitas. Kegiatan virtual di Facebook hanyalah tamasya imajinasi. Hubungan yang terjalin adalah antar pelancong yang sedang berehat melepas beban kehidupan nyata mereka.

Siapakah sebenarnya yang menangguk keuntungan dengan kehadiran Facebook, jika setiap member terus mempromosikan layanan ini kepada orang-orang yang belum terdaftar? Meningkatnya pengguna Facebook akan memperbesar pendapatan sang pemilik perusahaan yang berbasis di Amerika Serikat ini. Sebagaimana diketahui, Facebook tak sekedar situs komunitas sosial, tapi sebuah cooperate yang bermain dengan logika dagang untung dan rugi.

Member memang tidak membeli produk dalam bentuk barang. Malahan kegiatan yang dilakukan, dan keasyikan dengan perjumpaan dengan berbagai karakter manusia dari berbagai penjuru dunia, dilakukan sebatas sarana memperluas persahabatan. Semuanya diberikan gratis dan manfaat yang didapatkan juga berjibun. Jadi dimanakah letak sisi negatif dari kehadiran Facebook dalam ruang kehidupan.

Logika inilah yang dianut oleh pengguna Facebook terutama di Indonesia. Gencarnya kampanye kenikmatan memakai Facebook telah menular secara cepat sehingga tak salah pertumbuhan pengguna facebokk di indonesia mencapai angka 645% pada tahun 2008. Demam Facebook telah menaikkan posisi ekonomis perusahaan ini.

Dalam kajian ini penulis hendak menguraikan bahwa Facebook merupakan bagian dari kapitalisme global yang mencengkram sendi-sendi kehidupan kita. Mungkin ada yang menyela, dimana sih letak sisi kapitalismenya? Tidak ada uang yang dikeluarkan ketika bergabung dengan Facebook dan tidak ada produk yang dibeli. Malahan, berbagai kemudahan difasilitasi oleh Facebook. Sungguh aneh jika ada yang bilang, “Facebook telah memanipulasi potensi ekonomi para member”.

Jika persoalan ini didekati dengan logika kapitalisme yang belakangan semakin menguat lewat invasi perusahaan multinasional yang menggeruk kekayaan bumi Indonesia, atau semakin menjamurnya produk-produk berlabel internasional seperti KFC (Kentucy Fried Chicken), Mc Donnald ataupun Microsoft (yang mencantumkan lisensi produk-produknya dengan ratifikasi harga yang mahal), tentu bisa dikatakan Facebook bukanlah bagian dari kapitalisme.

Tapi, apakah sesederhana itu? Ternyata tidak. Penulis mengajak pembaca menelaah apa yang pernah diuraikan oleh Manuel Castells. Dalam buku Triloginya, The Information Age: Economic, Society, and Culture, Castells memunculkan istilah “kapitalisme informasional”, yakni “Masyarakat yang perkembangan sumber utama produktivitasnya adalah kapasitas kualitatif untuk mengoptimalkan kombinasi dan penggunaan faktor-faktor produksi berbasih pengetahuan dan informasi. Penyebaran kapitalisme informasional menimbulkan efek ekploitasi, eksklusi, ancaman terhadap diri, dan identitas.”(Ritzer, 2007; 583).

“Ekonomi informasional ini mendasarkan diri kepada kapasitas untuk menghasilkan, memproses, dan mengaplikasikan pengetahuan informasional secara effisien. Kapitalisme model ini tidak lagi memperoleh uang melalui proses produksi, tapi sistem jaringan global dimana uang diperoleh tanpa batas.” (Ritzer, 2007; 583).

Apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Facebook secara gamblang dapat kita rujuk pada uraian George Ritzer. Yang dijual oleh Facebook adalah “nothing” (bentuk yang dibayangkan dan dikontrol secara sentral yang seluruh/sebagian besar kosong dari isi yang distingtif). “Mengekspor “nothing” ke seluruh dunia lebih mudah ketimbang menjual barang-barang yang penuh dengan isi/something. Karena produk “something” lebih besar kemungkinan untuk ditolak oleh beberapa kultur dan masyarakat karena isinya bertentangan dengan nilai/isi lokal. Sebaliknya,karena kosong dari isi yang distingtif, bentuk-bentuk kosong lebih kecil kemungkinan berkonflik dengan nilai/isi lokal. Selain itu, bentuk-bentuk kosong mempunyai keuntungan lain dari sudut sifat minimalis, mudah bereplikasi terus-menerus dan reproduksi relatif murah” (Ritzer, 2007; 595).

Menurut penulis, Facebook adalah bentuk komersialisasi “nothing”, yang sekarang sukses meraup keuntungan luar biasa. “Nothing” apa yang dijual Facebook? Naluriah alamiah manusia untuk berinteraksi secara menyenangkan. Ini adalah bisnis psikologis. Mula-mula memang hanya mampu mengaet ribuan orang (1200 mahasiswa Harvard). Dengan kejituan strategi bisnis lewat analisis ilmiah psikologi yang mampu dimainkan oleh Sang Kreator, Facebook berhasil menghipnotis jutaan orang di dunia. Publikasi terakhir menyebutkan 175 juta orang se-antero dunia dan 1.333.649 di antaranya ada di Indonesia menjadi member aktif Facebook. Jumlah ini akan terus bertambah karena bergabungnya orang-orang populer Indonesia, yang menjadi magnet bagi orang-orang biasa untuk mengikuti mereka dan kecendrungan migrasi pengguna Friendster Indonesia (yang mencapai 12 juta orang) ke Facebook.

Di Indonesia, penggemar Facebook rata-rata adalah golongan tingkat ekonomi menengah ke atas. Tentu ini menjadi peluang bisnis yang potensial bagi penawaran barang dan jasa. Pelanggan iklanpun berdatangan dan semakin ramai seiring meningkatnya popularitas Facebook. Tak tanggung-tanggung, menghadapi pemilu 2009 ini parpol dan para caleg ikut berkampanye lewat Facebook. Dari sinilah pundi-pundi income mengalir ke perusahaan jaringan sosial virtual ini.

Ketika iklan terus ditampilkan dan intensitas mengakses Facebook juga meningkat setiap hari, maka semakin kuatlah image iklan itu di pikiran. Situasi inilah yang diinginkan pemasang iklan, menguasai alam pikiran orang, hingga produk mereka menjadi terkenal dan secara tidak sadar akan dibeli.

Timbullah watak konsumeristik yang membelenggu diri. Klop sudah, alam bawah sadar yang telah disandera oleh kapitalisme informasional yang awalnya ditawarkan secara gratis, akan “memaksa” kita mengeluarkan sejumlah uang pada fase tertentu. Pengiklan dalam negeri yang melihat efektivitas beriklan di Facebook tentu rela melepas uang demi mempopulerkan “dagangan” mereka.

Itu baru dalam batas personal. Dalam scop yang lebih luas (negara), maka biaya bandwith yang mesti dikeluarkan untuk membayar akses luar negeri (karena Facebook berpusat di Amerika Serikat) juga semakin membengkak. Lagi-lagi uang terbang ke tangan asing tanpa kita sadari.

Kapitalisme adalah bentuk strategi dagang demi memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya dan cendrung mengabaikan keseimbangan ekonomi antar kelas masyarakat. Kapitalisme menciptakan minoritas orang kaya dan mayoritas orang miskin, karena sumber-sumber ekonomi diserap oleh pada kalangan tertentu. Sebagaimana yang diketahui Facebook dikelola oleh segelintir orang, Mark Zuckerberg, Marc Andreessen, Jim Breyer, Don Graham dan Peter Thiel, sebagai Member. David Sze dan Paul Madera sebagai Observer. Dalam kamus kapitalis, roti yang ada di piring hendak diambil semuanya, dan mereka telah berhasil menempatkan diri sebagai punggawa orang-orang terkaya di dunia, terutama sang owner Mark Zuckerberg.

Jika demikian keadaannya, apa yang mesti dilakukan? Langkah-langkah apa yang mesti diambil untuk menghadapi masalah yang tak dianggap masalah ini? Penulis melihat persoalan ini sebagai persoalan mental. Mau tak mau, suka tak suka, mental “inlander” masih bersemanyam di alam bawah sadar sebagian kita. Popularitas Facebook begitu cepat meningkat karena trend ini adalah gaya hidup mahasiswa Harvard dan orang Amerika Serikat. “Mahasiswa Harvard saja gila sama Facebook”, “Orang-orang AS saja gandrung sama Facebook”. Harvard itu kan universitas kelas wahid se-dunia! AS itu kan negara maju dan kiblat segala-galanya! Jadi, ketinggalan zaman (ngak gaul donk) kalau tidak punya Facebook!

Persoalan mental, tentu harus diobati dengan terapi mental pula. Sebenarnya ada negara yang memboikot Facebook. Ya, Iran dan Syiria. Sikap negasi kedua negara ini menolak Facebook karena merasa terancam dengan pengaruh global yang akan mengacak-acak identitas kebangsaan mereka. “The enemies seek to assault our religious identity by exploiting the Internet” (Musuh mencoba menyerang identitas keyakinan kami dengan memanfaatkan media internet), itulah pernyataan Abdolsamad Khoram Abadi Advisor Kejaksaan Umum Pemerintah Iran, sebagaimana dilaporkan Koran Kargozaran Iran ketika menjawab pertanyaan “Kenapa Pemerintah Iran mengeluarkan kebijakan anti facebook?

Facebook yang muncul dengan latar belakang Amerika Serikat tentu tidak lepas dari kultur individualistik masyarakatnya. Meski demikian, hasrat alamiah ingin berinteraksi dengan orang lain tidak bisa mereka bendung. Maka diciptakanlah ruang-ruang yang bisa menyalurkan hasrat alamiah ini dengan tetap mempertahankan sikap individualistik itu. Tentu sarana yang tepat adalah internet dengan situs jaringan sosial yang bisa diakses secara privat/sendirian, tanpa harus melibatkan “emosional humanistik”, kecuali rasa kepercayaan(trust) saja.

Berbeda dengan kultur masyarakat Indonesia yang komunal. Tempat ekspresi individu lebih sering dilakukan di komunitas sosial baik itu payuguban maupun organisasi masyarakat, ataupun organisasi keagamaan. Keterlibata didasarkan pada satu tujuan bersama dan ikatan emosional. Dorongan yang muncul karena ada rasa “Saya ada bagian tak terpisahkan dari komunitas ini”.

Ketika ruang interaksi virtual ala Facebook mendominasi keseharian masyarakat, tentu saja waktu untuk berkumpul secara nyata ikut berkurang. Perlahan sisi humanis memudar karena perhubungan di Facebook lebih mengedepankan imajinasi dan visualisasi.

Kesadaran akan “tragisnya” nasib sebagai korban kapitalisme informasional seharusnya menghentakkan masyarakat untuk kemudian merenung diri bahwa “Saya adalah individu yang bebas dan bermartabat”. Negara berwibawa dan berkarakter berawal dari individu yang punya identitas. Sehingga harus ada gerakan perubahan mendayagunakan energi yang dimiliki untuk mengembangkan teknologi komunitas yang kuat dan situs komunitas virtual yang menguntungkan bangsa sendiri. Karena langkah proteksi sebagimana yang dilakukan oleh Iran dan Syiria (yang karakter masyarakatnya masih dikuasai oleh alam bawah sadar feodalistik), tidak tepat untuk masyarakat Indonesia yang haus dengan hal-hal yang baru.

Kehebatan Facebook adalah simpel dan elegan, didukung dengan banyak fitur dalam satu halaman. Spontanitas membuat orang enjoy dengan Facebook. Mereka bisa mengetahui secara langsung apa yang sedang dipikirkan atau yang dilakukan oleh teman-temannya sekaligus bisa langsung memberikan komentar. Semua berada pada satu halaman.

Untuk memutus rantai popularitas Facebook di Indonesia, dibutuhkan situs tandingan, karena cara yang dipakai Iran dan Syiria tidak konstruktif untuk konteks Indonesia. Kita perlu membuat situs komunitas baru Made In Indonesia. Hal ini dimungkinkan karena tipikal masyarakat Indonesia yang pembosan. Sebagaimana diungkapkan oleh Psikolog Universitas Indonesia Niken Ardiyanti, demam facebook tidak tidak akan bertahan lama. Sebab para penggemar Facebook di Indonesia akan mudah bosan. “Ini sudah tipikal masyarakat Indonesia. Yang bosenan dan supaya tidak dibilang kampungan,” (Detiknews.com; 24 Februari 2009). Psikolog Niken Ardiyanti menilai tipikal orang Indonesia suka kagetan. Dulu booming SMS, e-mail, friendster, kini Facebook. ”Seakan-akan kalau tidak bergabung di FB nggak gaul,”. Sehingga dari pertimbangan ini peluang mengalihkan orang ke situs komunitas yang baru sangat dimungkinkan. (Republika.co.id; 15 Februari 2009).

Karakteristik konsumerisme menjadikan kita sebagai orang terjajah, memandegkan kreativitas. Facebook sebagai bentuk penguatan konsumerisme harus dilawan dengan menghadirkan fasilitas web komunitas sosial buatan anak bangsa sendiri. Yang tentunya harus lebih canggih, tapi tetap mengusung nilai-nilai luhur bangsa. Seperti apakah blog komunitas “peredam” Facebook ini? Situs baru ini harus paham dengan kebutuhan dan kecendrungan netter Indonesia. Konsep yang penulis tawarkan sebagai berikut:

1. Fasilitas telepon
Kelebihan Facebook dari situs komunitas yang lain adalah fasilitas chat. Oleh karena itu, penulis melihat dengan menyajikan fasilitas telepon akan membuat orang terbius, karena belum tercover oleh Facebook.

2. Berisikan informasi tentang buku
Situs komunitas haruslah membuat orang-orang di dalamnya menjadi cerdas. Oleh karena itu, ditampilkannya buku-buku baru dengan sinopsis yang menarik akan membuat suasana intelektual. Sehingga lambat-laun budaya membaca semakin massif. Sebagaimana kita ketahui, budaya baca masyarakat Indonesia masih rendah, dan sekarang budaya powerpoint sudah menggejala.

3. Lowongan kerja terbaru
Kalau kita perhatikan perkembangan blog di Indonesia, ada dua kontent yang paling banyak dicari yaitu masalah seks dan lowongan kerja. Oleh karena itu, penulis menilai, penampilan lowongan kerja perlu dimasukkan.

4. Memungkinkan member mendapatkan uang
Bersenang-senang di internet tentu menghabiskan waktu. Sangat disayangkan keasyikan berselancar mengurangi produktivitas. Ketika iklan yang ditampilkan di Facebook mendulang uang yang sangat banyak hanya masuk ke kantong sang pemilik perusahaan, maka dalam konsep situs baru ini dimungkinkan member juga mendapatkan reward berupa hadiah uang tunai. Reward ini bisa diberikan dengan sumbangan pemikiran lewat tulisan, lomba-lomba kreatif ataupun lewat klik iklan

5. Publikasi
Kenapa Facebook cepat menjalar di Indonesia? Tak lain dan tak bukan karena pemberitaan media yang membuat banyak orang penasaran, apa itu Facebook? Bahkan Koran Republika mengajak pembacanya untuk mengirimkan pengalaman mereka menggunakan Facebook. Sehingga situs komunitas “peredam” ini harus dipromosikan secara yang gencar dan kontroversial di media-media nasional dan lokal. Kerjasama pemerintah dan pemilik media sangat diperlukan dalam hal ini.

6. Aplikasi bahasa daerah
Seseorang akan enjoy ketika menggunakan bahasa ibunya. Penggunaan bahasa daerah di situs komunitas belum ada diberikan oleh Facebook. Oleh karena itu, untuk mengalahkan Facebook di Indonesia, pilihan seluruh bahasa daerah tanag air di situs komunitas baru ini sangat diperlukan. Tentu sangat mengasyikkan saling berkomunikasi dengan bahasa daerah sendiri, sekaligus mempertahankan bahasa-bahasa daerah dari kepunahan.

Perkembangan kapitalisme informasional dapat dilawan oleh gerakan massal suatu bangsa yang berusaha mempertahankan identitas mereka. Baik itu karena spirit religius, nasionalisme, keluarga dan komunitas. Agar berhasil gerakan tandingan ini harus bersandarkan pada informasi dan jaringan pula. Oleh karena itu situs komunitas made in Indonesia sangat diperlukan untuk menghadang laju facebook. Karena perang teknologi informasi tidak bisa dilawan dengan melarikan diri dari hiruk-pikuk dunia. Ia harus dihadang, tentu dengan tawaran yang lebih hebat dari yang ada selama ini.

Daftar Pustaka

About these ads

46 pemikiran pada “FENOMENA FACEBOOK DI INDONESIA

    alv berkata:
    30 Maret 2009 pukul 19:24

    aw! ngebuka mata banget.

    aprillins berkata:
    31 Maret 2009 pukul 12:36

    istilah kapitalisme informasional suatu istilah yang keren!

    Panji Sidharta berkata:
    4 April 2009 pukul 01:23

    Setuju banget mas. Tadinya saya hampir apriori dengan artikel ini yang saya pikir hanya berisi kebencian membabi buta terhadap sesuatu yang datang dari luar negeri. Tapi di bagian akhir, mas menawarkan solusi perlawanan. Saya jadi berbalik mendukung. Api harus dilawan dengan api. Tapi sejujurnya bukankah teknologi selalu bermata dua? Jadi selagi kita membangun sesuatu yang bisa mengungguli FB atau FS, media itu tetap bisa digunakan untuk membangun jaringan yang anda cita-citakan itu. Begitu sudah stabil dan populer, khan membernya bisa diajak migrasi, seperti halnya yang trjadi saat FS kalah populer dengan FB.

    Rindu berkata:
    12 April 2009 pukul 11:02

    Sampai hari ini, saya belum berminat punya FB …

      didi berkata:
      28 April 2010 pukul 14:20

      aku malah dah hampir bosan

      eqha berkata:
      3 Mei 2010 pukul 13:42

      nppa qoo taqqh bermnat pnya fb,

      ari berkata:
      18 November 2012 pukul 01:17

      alhamdulilah

    KANGEN berkata:
    13 April 2009 pukul 11:56

    Aku mo nanya ma Rindu “gimana sih caran Join FB? gua sebenarnya pengan tapi gak ngerti coz i’am katro alias Ndeso gicu lho…………..!

    KANGEN berkata:
    13 April 2009 pukul 12:03

    Aku mo nanya ma Rindu “gimana sih caran Join FB? gua sebenarnya pengan tapi gak ngerti coz i’am katro alias Ndeso gicu lho !!

      eqha berkata:
      3 Mei 2010 pukul 13:40

      mangkanya crinx kewarnet donk???

    wirsa berkata:
    20 April 2009 pukul 10:26

    hihihi klo smw orng indonesia berpikir briliant sprti anda tidk akn trjadi yg namany facebookholic di indonesia

      vandry berkata:
      28 September 2011 pukul 10:37

      emang kaya gitu yahh…………..?

    wa2n berkata:
    24 April 2009 pukul 14:47

    saya sendiri sebenarnya tidak peduli dengan FB cuman itu semua kalah dengan komunitas yang seringa mangajak untuk daftar FB.. tapi intinya kita boleh kok facebookholic tapi sebisa mungkin yang local saja atau buatan dalam negeri.. , minimal untuk komunitas kita.. sebagi contoh http://blog.uns.ac.id kalau mereka bisa kenapa kita ndak…

    gatut priyowidodo berkata:
    30 April 2009 pukul 09:09

    Amat inspiratif artikelnya. Boleh saya ijin mengutip beberapa bagian untuk kutipan tulisannya? thanks….. Salam menebarkan semangat pencerahan via virtual world.

    almaokay berkata:
    5 Mei 2009 pukul 15:12

    I don’t facebook!!.
    saya juga enggak ngefacebook.
    biarin kata orang,saya gak up to date….
    untuk apa up to date kalau hanya ikut-ikutan tanpa punya tujuan yang esensial bagi kita.

    fajarnick berkata:
    8 Mei 2009 pukul 22:23

    awalnya saya juga isenk berfacebook..tp setelah saya pahami…facebook hny mmbuat kita manja..perassaan manja muncul saat status saya ada yg koment…saya juga setuju dng artikel anda…untuk melawan gobalisasi harus dengan lokalisasi…

    ndayax berkata:
    2 Juli 2009 pukul 09:04

    itu cuma teori aja

    van-van berkata:
    3 Juli 2009 pukul 18:28

    yupz, bnr bgt tuh…
    fb bikin qt jd lupa wkt… tmn2 gw bnyk loh yg oL fb sampe lbh dr 12jam dlm sehari…. sampe jam3 pagi jg msh rame aja yg lg oL… ckckck… padahal cm bwt ngelakuin hal2 yg gak penting….

    Stop berkata:
    6 Juli 2009 pukul 10:43

    bikin lupa waktu ya..
    dududuh..

    UNIVA Labuhanbatu berkata:
    27 Juli 2009 pukul 06:57

    Koq tulisan diatas mencerahkan pikiranku ya.. mata hati jadi terbuka, bahwa segala sesuatu harus disikapi dengan bijak.

    muth berkata:
    26 Agustus 2009 pukul 10:24

    s7..!!! inspiratif…!!!! saya boleh juga ya mengutip sebagian tulisan di atas ? tks..

    indra berkata:
    27 September 2009 pukul 23:55

    artikel yang menarik. hanya menurut saya saran anda untuk membuat tandingan atau “peredam” fb sendiri ujung2nya hanya lanjutan kapitalisme dan konsumerisme yang berpindah tangan aja.

    menurut saya banyak forum di Indonesia yang cukup berhasil. tengok aja kaskus.us . meski banyak pula user yang nge junk, tapi artikel nya banyak yang menarik. selain itu forum jual beli nya jg bagus. tapi ujung2nya ya sama. jualan layanan juga kan. kalau anda tidak berpikir sedikit kapitalis, ya ga bisa hidup (bukan saya pendukung kapitalisme, cuman get real aja)

    sori, just my humble opinion

    khairul ihsan berkata:
    5 Oktober 2009 pukul 20:46

    facebook…..
    menurut aku bikin…..sial n bisa bikin dosa
    knp…?? krna bsa mnmbulkan efek samping yang laur biasa…sprti…!!!
    shalat..dan cntoh2 lainnya..
    mka mulai skarang taubatlah sblum terlambat…oke…

      eqha berkata:
      3 Mei 2010 pukul 13:58

      oke jga tuch kta2nya,tapi sendirinya dah taubat belum

    aji berkata:
    6 Oktober 2009 pukul 07:50

    Sebenarnya solusinya bukan dengan menciptakan situs tandingan,tapi memajukan pendidikan.Jika menggunakan situs “tandingan” , sama kaya ganti makanan nasi sama singkong , yang tadinya kerajingan Facebook nanti akan beralih menjadi Kerajingan Tandingan Facebook , apa bedanya ??? .. Tapi jika pendidikan yang dimajukan , orang bisa lebih mengerti dan paham mengenai fungsi sesuatu , anda mungkin contohnya , yang tau ada “kapitalisme dalam facebook” .. :).Pendidikan yang saya maksud bukan hanya pendidikan secara formal di sekolah , tapi “pendidikan di masyarakat” seperti artikel ini , bagaimana jika anda memuatnya di FB ??? mungkin akan lebih banyak orang yang bisa tau ada muatan “kapitalisme” dalam FB … atau menjadikan FB untuk berbagi pengetahuan , bukan hanya sekedar “Update Status ,Pamer Foto dan maen poker ” .. jika bukan orang yang sadar , siapa yang mau menyadarkan yang ga sadar … ha ha ha ha .. moga lebih banyak artikel bagus seperti artikel anda setiap hari :)

    heste berkata:
    12 Oktober 2009 pukul 16:20

    aku ikut gabung ya

    comenx berkata:
    21 Oktober 2009 pukul 20:49

    Betul juga…
    tapi menurut saya situs tandingan bukan solusi, lebih bijak jika diusahakan untuk melakukan penanaman berFacebook secara dewasa. karena diakui atau tidak facebook juga merupakan media interaksi dan komunikasi yang cukup efektif dan sudah sangat diterima di Indonesia…

    bankkonk berkata:
    23 Oktober 2009 pukul 14:42

    kita tunggu saja waktunya, fb pasti tidak akan tahan lama kalau sudh ada generasi penerusnya. tapi saya sepakat dengan komentar yang diatas mengenai penanaman pemahaman yang lebih diutamakan ketimbang memusuhi fb, dan salah satu faktor pendukung menjamurnya fb di negeri ini disebabkan karna warganya yang slalu terpengaruh sama sesuatu yang baru, facebookholik sebenarnya ingin mengupdate diri tapi, yang namanya orang indonesia belum bisa mengoptimalakan fungsi dari teknologi sesuai kebutuhan, malah menjadikan teknologi sebagai imam dan peggunanya sebagai makmum.

    heri setiawan berkata:
    28 November 2009 pukul 11:24

    wah thank’s banget ya broww quw jadi lebih taw bnyk ttg fenomena face book di INDONESIA.

    Nelsa berkata:
    8 Januari 2010 pukul 16:41

    Hehehe!
    Sa jga stuju dech!
    Tp msh bnyak thu tmen2 sa yg tau memanfaatkn fb djaln yg bnar!
    Cieile. . .
    Sukses ya kq
    thanx lo
    sa jdt dpt inspirasi baru!

    eros berkata:
    10 Januari 2010 pukul 23:47

    sekedar iseng :
    klw setiap hal ada positif negatif,,, utk FB (facebook) sendiri jg berhak dunk mendaptkn dua hal tsb.
    ketidakpastian dlm perasaan org, mungkin bisa terpuaskn dgn adnya FB.. disisi lain apakah salah klw perspektif org utk fb ini trlihat bgitu naiff… kedua hal positif negatif jgn digunakn klw itu menghilangkan kebaikan yg ada didalamny

    just say berkata:
    11 Januari 2010 pukul 14:57

    positif : prita dibebaskan, bibit-chandra dibebaskan, gus dur calon pahlawan ????

    Irni berkata:
    14 Januari 2010 pukul 12:23

    selamat siang, mas..tulisan ini boleh saya kutip untuk rencana tesis saya.. oh ya, saya Irni, salam kenal yah.. sekarang lagi ambil S2 Profesi Psikolog, saya lagi ingin mengangkat ini. sebelumnya terima kasih banyak.

    ameLia berkata:
    19 Januari 2010 pukul 16:59

    baguss,,,, baguss

    zahra berkata:
    18 Februari 2010 pukul 18:00

    tulisannya boleh aq kirim buat teman2 di FB ga? briliant banget artikelx…

      admin responded:
      18 Februari 2010 pukul 18:46

      boleh mbak..:) silahkan disebarkan..:) yang penting mencantumkan sumber tulisan..:)

      makasi ya atas kunjungannya di blog saya..:)

    fatma berkata:
    19 Maret 2010 pukul 14:04

    baug banget..
    ini bisa membantu sya untuk buat makalah sosiologi..thanks..

    fatma berkata:
    19 Maret 2010 pukul 14:06

    bagus banget..
    ini bisa bantu sya buat bikin laporan tentang dampak facebook..
    thankz..

    vivi berkata:
    15 April 2010 pukul 01:41

    Segala sesuatu itu pasti memiliki sisi negatif dan positifnya…..Tergantung bgmn kita mnyikapinya agar bs mengambil sisi positifnya dan menekan sisi negatifnya….
    Oia tlsn ini boleh saya kutip untuk rencana skripsi saya y….=)

    @ Mba Irni : Saya jg berencana mngambil tema facebook untuk skripsi saya mba….Saya boleh minta alamat emailnya mba irni?? sapa tau aja qta bs sama2 sharing……Makasiy sblmnya….=)

    cecilia berkata:
    28 April 2010 pukul 10:32

    wah.. saya sangat terbantu dengan tulisan anda ..Saya juga sedang menulis skripsi tentang ini.. bolehkah qta share bersama? ini no hp saya 08174804443. kalo boleh tolong sms saya.. jadi qta bisa share bersama… terimakasih

    Chocoloverz berkata:
    28 April 2010 pukul 19:30

    wuihh,,, artikelnya keren,,,
    q bru tw, trnyata d fb trjadi kapitalisme informasional, ^pngetauan bru ,, he^
    q mw djin jga nie wat ngepost nie artikel d fbq,,,
    biar tmen”q pda nyadar klw qt bleh c ngefb tpi ngan smpe kbablasan,,, bleh yah ???

    gunawan berkata:
    3 Mei 2010 pukul 09:25

    Ngak minat tu……………………………….

      eqha berkata:
      3 Mei 2010 pukul 14:05

      ach yg masa che

    na berkata:
    22 September 2010 pukul 09:38

    salam kenal…..
    senang melihat ada orang yang memperhatikan kondisi seperti ini.
    saya setuju dengan rencana pembuatan bolg komunitas “peredam facebook”.
    saya ingin ada tindak lanjut dari rencana ini, dari anda sendiri sejauh mana sudah tindakan anda untuk menjalankan rencana ini?
    kalo boleh kita bisa sharing mengenai hal ini.

    lailil berkata:
    15 November 2010 pukul 07:58

    Bagus artikelnya, ijin share ya… buat penulisan makalah…. Thx a lot….

    otaviatun kusumarani berkata:
    11 Maret 2012 pukul 09:50

    tapi kita juga bisa memanfaatkan facebook sebagai pembelajaran loh..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s