Tiga hari ini, menjelang tidur aku selalu melantunkan namamu. Ada rindu yang tak mampu ku tahan. Ada rasa yang tak bisa ku bendung luahannya. Hati yang telah retak memendam luka mendalam.

Aku bagaikan orang gila yang mengigaukan dirimu kala malam dingin. Aku berkeras untuk terus menantimu, meski kecil harapan untuk bisa bersama.

Setiap malam aku merintih dalam kegersangan jiwa. Aku hanya bisa menikmati syahdu lewat melamunkan dirimu.

Terpenjara oleh kesepian. Aku tak dapat meneruskan kalimat ini lagi. Aku terlalu yakin engkaulah malaikat yang akan membuatku tersenyum. Penolakan pertama, kedua, ketiga tiada melunturkan niat hati untuk terus mengejarmu.

Kadang aku teringat dengan curhatan seorang teman, yang merasa risih terus dikejar-kejar oleh seorang pemuda sementara dia telah bertunangan. Terselip juga di hatiku akan dosa yang akan ku dapatkan ketika terus menganggumu yang telah punya calon suami.

Sering juga Bapak meledekku kala pulang kampung. “Masak mahasiswa UGM tak punya pacar?”. Aku hanya bisa diam. Bukannya tak punya, tapi tak ada seorangpun yang suka kepadaku. Aku telah berjuang mendapatkan cinta, tapi cinta seolah tak mau menghampiriku.

Alamat apa ini ya Tuhan? Apakah Engkau hendak menguji aku dengan pahitnya cinta, karena banyak orang besar yang takluk dalam pelukan wanita? Ataukah Engkau hendak menyelamatkanku dari nista perzinaan karena lemahnya imanku jika bersua dengan perempuan?

Entahlah, aku hanya mampu mengembirakan hati dengan mengingat ucapan “apa yang terjadi pada dirimu hari ini, itulah yang terbaik untukmu”. Ya, manusia memang sering tak menyadari, apa yang terbaik buat dirinya dan sering “berburuk sangka” kepada Tuhan atas apa yang dialaminya.

Sore ini, kembali langit hitam turunkan hujan. Aku hanya mampu obati rinduku dengan “Dalam Taman Syahdu” Siti Nurhaliza. Selamat datang hujan. Selamat datang malam.