Kemarin pagi, sempat juga aku menghadiri “Serial Kajian Islam Kontemporer: Pemilu April 2009, Politis Bersih Yes! Politisi Korup No!”, yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Muslim Pascasarjana UGM. Diskusi yang mengantarkanku kembali berpikir apakah akan tetap golput ataukah akan mencontreng di pemilu besok.

Kalau mau pilih politisi bersih, ya dilihat dari trackrecord maka caleg PKS-lah jagoannya. Sebenarnya kalau dilihat dari platform partai, aku lebih cendrung kepadang Partai Bulan Bintang. Tapi berhubung caleg-calegnya ngak aku kenal, dan ketua Partainya tetap membiarkan pembabatan hutan karena berstatus sebagai menteri kehutanan, akhirnya aku ngak tertarik lagi sama PBB.

Meski banyak argumen anti-golput, ada yang pakai dalil agamalah, ada yang pakai kata-kata kesempatan untuk perubahanlah, agaknya aku mungkin akan golput pemilu besok. Bukan apa-apa, caleg-caleh yang ada di daerah pemilihanku tiada aku kenal. Dekat-dekat menjelang pemilu, boro-boro semakin mendekatkan diri kepada pemilih, eh malah parpol-parpol semakin gila dengan kampanye-kampanye lewat rapat terbuka yang menjadikan pesertanya hanya sebagai pembebek dan pesorak mengiyakan janji-janji manis dari para jurkam.

Kenapa ngak pakai cara door to door aja? Selain lebih mendewasakan, juga bisa memperlihatkan sejauh mana kualitas sang caleg. Dengan indikator yang minim tentang track record seorang caleg, agaknya riskan membeli kucing dalam karung.

Masa kampanye tinggal 11 hari lagi. Apakah nasib bangsa ini ditentukan oleh satu hari pemilu saja? Entahlah. Bukankah pemilu tak lebih dari ajang permainan saja, dengan ongkos yang mencapai puluhan triliyun?