Ya, kalo sms-nya ga macam2, ga masalah. SMS siapapun saya balas kok. Selama tujuannya baik dan ada pulsa. (Someone, 26 Maret 2009 – 18:58)

Aku sebenarnya ingin memancing emosimu. Dengan mengirimkan kata-kata yang agak judes. Tapi dengan sapaan manis, tetap saja engkau membalas sms-sms isengku.

Kenapa engkau berbaik hati padaku adinda? Bukankah engkau sudah punya calon suami, dan pernah dikau meng-skak-ku dengan mengatakan, “Maaf saya ngak bisa sering-sering sms-an dengan mas. Nanti calon suami saya terdzolimi”. Padahal engkaupun sudah tahu tentang apa isi hatiku yang tiap malam kuungkapkan padamu.

Sebenarnya, aku memang ingin engkau memboikot hubungan denganku. Biar aku tak berharap lagi kepadamu. Namun, jawaban-jawabanmu tak sedikitpun mengisyaratkan rasa benci dan marah.

Apakah hatimu terlalu lembut adinda? Sakit yang engkau derita, yang membuatmu terus berlaku baik kepada semua orang, termasuk pada diriku yang sering menganggu dirimu.

Aku tak habis pikir. Baru sekali ini aku bertemu dengan orang sabar sepertimu. Kalau yang lain, aku pasti udah disemprot oleh pacar atau calon suaminya agar tidak menganggu lagi.

Sempat pula aku berpikir, mungkin dengan berubahnya keadaan diri, maka posisi tawarku akan semakin kuat. Ya, bisa menaikkan status lewat pengetahuan, pendidikan ataupun pekerjaan. Tapi, apakah harus begitu? Aku tak ingin orang melihatku dari embel-embel yang melekat sementara. Aku ingin mencintai karena keterpautan hati. Bukan keterpautan gelar akademis dan harta benda.

Ya, dirimu telah mengajarkan kepadaku untuk selalu baik kepada siapun. Karena tiada kebencian hakiki dan kebahagiaan hakiki di dunia ini. Hati cepat berubah. Sebagaimana dikatakan, “Cintailah sesuatu itu sekedarnya saja, karena bisa jadi yang engkau cintai hari ini akan menjadi sosok yang engkau benci di kemudian hari. Dan Bencilah sesuatu itu sekedarnya saja. Karena bisa jadi sesuatu yang engkau benci hari ini, akan menjadi hal yang engkau cintai di kemudian hari.