Jikalau nak tahu kerasnya gelombang, pergilah berlayar arungi samudera. Jikalau nak tahu rasa bercinta, jalinlah kasih tanpa takut menderita.

Hari ini kulalui lebih awal dari hari-hari sebelumnya. Menjelang ke kampus bisa juga kucicil entry data dosen ke web UGM. Ya, masih ada 4 data lagi yang belum dimasukan. Mudah2an selesai sebelum pertemuan besok pagi, seperti yang diingatkan buk Laily saat bertemu di dekat perpus, menjelang Dzuhur tadi.

Kuliah Etika, dimulai dengan aroma yang tak seperti biasanya. Ternyata benar. Pak Ridwan, sang dosen pengampu tak bisa mengajar hari ini karena harus menghadiri acara yang kayaknya lebih penting. Beliau cuma meninggalkan tugas kepada mahasiswa.

Entah angin apa yang sedang berhembus tadi pagi. Tiba-tiba saja, seorang mahasiswa, adik angkatan 2007 langsung mengambil tempat persis di samping kiriku. Emang ngak biasa duduk dengan gadis cantik, aku jadi ngak karuan. Konsenstrasiku terpecah. Dada jadi deg-degan. Gejala ini agaknya bawaan SMA dulu yang sampai sekarang masih tersisa. Lumayan kalau dia cuma diam, tapi sang gadis ini senangnya nanya terus. Duh, aku jadi tambah grogi. Apakah ini akibat tak biasa bergaul dengan perempuan???

Pas, kuliah kedua, lagi-lagi perempuan yang jadi titik sentral karena yang presentasi mahasiswa. Sementara di kelas laki-laki semua kecuali dia. Entah kemana para perempuan lain yang juga ambil mata kuliah Seminar Religi dan Budaya siang ini. Karena diskusi, maka akupun turut bertanya. Tapi, setelah meninggalkan ruangan aku jadi bertanya-tanya, apakah komentarku tadi terlalu keras untuk seorang mahasiswi.

Rasa bersalah ini, terus mengalir dan kucuba untuk hubung-hubungkan dengan kenyataan ke-single-anku sampai saat ini. Aku berpikir sudah cukup sensitif dan perasa. Tapi apa iya? Ku cuba ingat-ingat kembali bacaanku tentang psikologi wanita. Kaum Hawa adalah sosok yang lembut. Selalu mendambakan ketentraman, dan bimbingan seorang pengayom. Butuh perhatian dan dimengerti.

Apakah ini yang kurang pada diriku selama ini? Aku cukup lihai merangkai kata-kata romantis, tapi apakah ini yang kaum Hawa butuhkan? Ternyata tidak. Kasih sayang dan perhatian tak sekedar syair-syair di atas kertas ataupun lewat sms-sms. Karena semua itu terlalu mudah terbang dibawa  angin.

Aku baru sadar bahwa sikap perasa yang kubina selama ini, tak lebih sebuah egoistik diri. Sensitifibilitas yang ku tempa, tak lebih penempaan pikiran ke arah logis lagi matematis. Aku selalu mengukur untung dan rugi berhubungan dengan seseorang. Pertimbangan-pertimbangan matematislah yang selalu bersarang di otakku kala menimbang-nimbang kualitas seorang gadis.

Ala Mak… Tentu saja, status jomblo berkekalan. Gimana tidak? Masih sibuk dengan diri sendiri, bagaimana pula hendak berbagi dengan orang lain. Ya, sms bu Septi beberapa hari yang lalu baru bisa ku pahami maknanya hari ini. “Ketika apa yang kita harapkan tidak menjadi kenyataan, pasti ada yang salah.” Jangan timpa kegagalan pada orang lain, karena sangat mungkin kesalahan kitalah yang membuat impian tiada terealisasi.

So, kayaknya aku harus lebih banyak berinteraksi dengan dunia nyata. Karena berkelibat dengan dunia kata, hanya membuat anganku semakin jauh dari sense realita. Khayalanku semakin jauh, tapi hatiku semakin tak peka. Dunia, aku ingin kembali bergelut denganmu. Sehingga engkau ajarkan kepadaku pedihnya luka dan indahnya bahagia yang sebenarnya.