Setelah panas berkepanjangan menggerahkan suasana kota Jogja, 2 hari ini hujan berketerusan. Untung pas hari Jum’at dah nyuci pakaian kotor, jadi ngak kena dampak kehabisan pakaian karena jemuran ngak kering.

Biasanya kalau sudah hujan-hujan begini, sense puitisku mendapatkan suasana yang ideal. Tapi enggak tahu kenapa, 2 hari ini aku malas bicarain tentang satu ini. Tiada syair yang tercipta. Tiada sms romantis yang bisa ku gubah. Mungkin aku tak tahu harus menyampaikannya pada siapa.

Aku juga merasa bosan terus menulis kata demi kata kesedihan di blog ini. Membunuh semangat saja. Bukankah lebih baik air mata dialirkan ke dalam hati saja.

Tadi pagi, karena bisa bersihin kamar mandi yang udah jadi kewajiban mingguan agak awal, aku bisa berangkat ke masjid kampus UGM. Ya biasalah, dengarin ceramah Ustadz Ridwan Hamidi. Yang dibahas mengenai sebab/maksud orang melakukan ghibah (gosip) atau namimah (adu domba). Datang agak terlambat aku hanya bisa mencatat mulai dari poin nomor 3. Sedangkan yang 1 dan 2 ngak kehandle. Nanya ke samping, mereka juga ngak pada mencatat.

Oke deh, daripada ngak sama sekali, aku akan tulisin apa yang sempat ku rekam lewat catatan sederhanaku.

Sebab/Maksud orang melakukan Ghibah dan Namimah:

  • Ada orang yang ingin menaikkan mutu dirinya dengan mengkritik kelemahan-kelemahan orang lain.
  • Menyesuaikan diri agar akrab dengan teman-teman sepergaulan.
  • Menunjukkan dan menampakan keheranan terhadap orang-orang yang berbuat maksiat.
  • Mengejek, menghina, merendahkan atau mengolok-olok orang lain.
  • Berusaha menampakkan kemarahan karena Allah atas orang yang melakukan kemungkaran.
  • Hasad, tidak ingin orang lain melebihi dirinya atau tidak ingin orang lain memuji orang yang dibencinya.
  • Berpura-pura menampakkan kasih sayang dan ingin menolong orang lain.
  • Untuk bergurau, melucu, atau melawak. Poin ini tertuju terutama pada orang-orang yang berprofesi sebagai pelawak. Hendaklah mereka mengingat akan Hadist Sahih yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi: “Celakalah bagi orang yang bercerita untuk membuat orang-orang tertawa dengan berdusta. Celakalah dia. Celakalah dia.”
  • Menuduh orang lain berbuat jelek agar dia bebas dari tuduhan orang tersebut.
  • Khawatir orang lain menjatuhkan martabatnya di hadapan penguasa/masyarakat/orang-orang terhormat/terpandang, lalu dia mendahuluo orang tersebut dengan ghibah.
  • Khusus ada pada namimah, mencari simpati dari orang yang diajak bicara.
  • Ingin menyalakan api permusuhan, adu domba antar person atau antar kelompok masyarakat.

Bagaimanakah solusi agar terlepas dari ghibah dan namimah:

  • Hendaklah menyadari bahwa jika melakukan ghibah dan namimah maka kita akan mendapat kemurkaan/kebencian Allah. Sebagaimana diriwayatkan dalam Hadist Riwayat Tirmidzi: “Sesungguhnya di antara kalian berbicara dengan sesuatu ucapan yang diredhai oleh Allah. Maka dia tidak mengira akan mencapai derajat itu, dan Allah akan mencatatkan pahala sampai hari bertemu dengan Allah. Dan sesungguhnya seseorang berkata yang termasuk kemurkaan Allah, dia tidak mengira akan sampai berakibat seperti itu, maka Allah mencatat kemurkaanNya sampai saat bertemu denganNya.” Agaknya kita seharusnya “Lebih baik sibuk dengan diri sendiri, daripada sibuk dengan kesalahan orang lain”.
  • Jika ghibah dan namimah kita karena fisik seseorang maka kita secara tidak langsung telah meremehkan ciptaan Allah. Dalam Alqur’an Allah berfirman: “Dan Kami uji manusia dengan kebaikan/kenikmatan dan kejelekkan/kesengsaraan.”

Apakah sikap yang mesti diambil jika kita adalah pihak yang menjadi bahan ghibah dan namimah? Pertama, jangan langsung percayai dan langsung su’udzon kepada orang yang menyampaikan kejelekan diri kita. Kedua, jangan dilayani, karena memang ada orang-orang tertentu yang ahli/spesialis mengumpulkan aib orang lain. Jika hal yang dia ungkapkan itu memang benar, maka hendaklah kita berbenah diri untuk segera memperbaiki kesalahan tersebut.

Dalam menghadapi zaman yang penuh dengan ghibah dan namimah saat ini, ada baiknya kita mengingat kembali kata hikmah yang pernah disampaikan oleh Imam Syafi’i: “Katakanlah semaumu, mencela kehormatanku. Diam atas orang kasar sepertimu adalah jawaban. Karena bukan tabi’at singa melayani anjing”.