“Wah dunia tu kan luas dek.. Kaki ini baru melangkah beberapa jengkal di bumi ini. Masih banyak belahan lain yang belum dikunjungi.. Ngak masalah kan? Toh cewek-cewek di sini sok jual mahal. Kita dah memohon dengan sangat, tapi tetap aja dicuekin.. Mending kursus BahasaInggris aja ya, biar bisa apply studi di luar negeri…”

Itulah sebuah sms yang ku kirimkan kemarin kepada seorang teman yang sekarang ikut suaminya di pelosok Sumatera Barat sana. Ya, aku sering nanya ke dia seputar pernikahan. Soalnya dari sekian banyak teman-temanku yang udah nikah, dia termasuk yang berbaik hati menjawab pertanyaan-pertanyaanku.

Bukannya malah dapat sokongan, malahan aku terus diledekin. “Kita ngak dianjurkan mengunjungi negeri kafir, apalagi lama-lama di sana”. Itulah jawaban yang dia tujukan padaku. Ya, kalimat ini juga dulu yang telah menghancurkan minatku untuk belajar bahasa Inggris, hingga saat ini masih bloon meskipun nilai 2 mata kuliah bahasa Inggrisku dikasih B sama dosen.

Kata-kata kafir dan larangan untuk menjauh darinya, telah membuatku menjadi orang yang saklek dan berpikiran sempit. Mengukung diri dalam sekat-sekat terbatas. Begitu juga ketika aku masih SMA di sebuah kota di Sumatera Barat sana, bagaimana sindrom “negatif” terhadap orang Jawa cukup kuat.

Prejudice-prejudice tak beralasan sering kali kita endapkan dalam pikiran, e ntah itu berasal dari Ustadz, dari teman-teman ataupun dari dosen. Kita baru menyadarinya ketika mengalami “experience” yang berbeda dari yang disampaikan.

Kembali pada kasus studi di luar negeri, emang ngak boleh ya menuntut ilmu di negeri kafir? Apakah phobia ini  harus dipegang terus, hingga membuat gerak menjadi terbatas?

Di Jogja, sebuah Universitas Katolik kenamaan membuka program kursus bahasa Inggris yang banyak diikuti oleh para aktivis dakwah atau bisa dikatakan “mahasiswa-mahasiswi” sholeh/ah. Apakah ini tindakan menyimpang?

Bukankah ada ulama yang mengatakan “Hikmah adalah mutiara yang hilang dari umat Islam. Oleh karena itu, dimana saja kamu menemukannya, maka ambillah”. Artinya, tak ada halangan  menuntut ilmu di mana saja. Hatta di negeri atau lembaga orang kafir sekalipun?

Entahlah, belakangan ini aku banyak kecewa dengan perkataan orang-orang yang dulu dekat denganku. Terlalu lugu aku menerima apa yang mereka sampaikan. Hingga ditelan saja mentah-mentah. Jadilah aku tubuh yang berjalan dengan pola pikir orang lain.

Aku baru tersentak setelah seorang teman yang tulisannya dah bertebaran di media massa nasional mengatakan, “Saya tidak sedang mencari orang-orang yang bisa ditiru. Berjalanlah dengan pikiran sendiri. Menjadi manusia yang otonom. Tanpa terikat dengan bayang-bayang orang lain”.

Kehancuran manusia adalah ketika dia mengkonstruk dirinya menjadi orang lain. Membentuk pola pikirnya sama dengan orang lain. Dan membuat dirinya seragam, sewarna dengan yang lain. Kalau sudah begitu apa bedanya kita dengan robot yang diciptakan sesuai dengan kehendak seorang professor?

Setiap apa yang kita dengar dari siapapun itu, entah itu dari Ustadz, Dosen, ataupun sahabat dekat, maka timbang-timbanglah dulu. Bisa diterima ataukah tidak. Setiap orang punya pengalaman yang berbeda. Tentu apa yang dia rasakan tak sama dengan yang kita rasakan. Satu solusi cocok untuk kasus tertentu, tapi ngak “coincidentally” dengan kasus yang lain. So, bangunlah dirimu sendiri dengan perenungan dan pemikiran jernih yang engkau miliki.