Philosophia… Cinta kebijaksanaan. Begitulah term filsafat kalau kita rujuk dari bahasa Yunani. Semangat menemukan kearifan hidup tentu menjadi pencapaian yang dimaui oleh setiap orang. Orang yang arif menjadi tempat bertanya dan tentunya disegani oleh masyarakat.

Dulu aku berpikir orang yang arif adalah orang yang sedikit sekali membuat kesalahan. Karena terobsesi dengan status itu, akhirnya aku lebih banyak diam dan mengurung diri. Sedikit bicara tentu sedikit yang tersinggung. Sedikit bekerja tentu sedikit pula kesalahan yang dilakukan.

Cara pandang itu, telah membuatku malas bergaul dengan orang lain. Keramaian adalah sesuatu yang paling tidak kusukai (meski terkadang aku merindukan ikut menikmatinya). Dan lambat laun jadilah aku menjadi orang yang paranoid bertemu dengan orang-orang baru.

Baru akhir-akhir ini aku tersentak, lewat diskusi dengan beberapa teman. Tak berbuat karena takut salah, ibarat hidup tanpa gairah. Percaya bahwa kearifan bisa didapati lewat membaca buku, sebuah pandangan yang keliru.

Aku tersadar bahwa Tuhan menciptakan dunia ini untuk dihadapi. Seburuk apapun itu. Merindukan keidealan bukan di sini tempatnya. Nanti, di sorga sana. Harus bersinggungan dengan maksiat, konflik, percekcokan, permusuhan dan kejahatan adalah hal yang lumrah. Kalau Tan Malaka menyebutnya tarikan tesis dan anti tesis. Tarikan kebaikan dan keburukan. Kadangkala yang menang unsur kebaikan dalam diri kita. Di lain waktu keburukan yang menguasai.

Maka, kesalahan adalah hal yang lumrah dalam hidup. Mengapa harus malu? Selama semangat untuk mencari kebenaran masih terus dikobarkan, tentu Allah akan memudahkan jalan hambaNya.

Masih muda telah menjadi arif, tentu terlalu dini. Mengandalkan banyaknya bacaan tak menjamin seseorang bisa menjalani hidup dengan baik atau terhindar dari terperosok di lubang-lubang kesalahan.

Masukilah bancah lumpur dunia, rasakan asam dan garamnya. Karena dari pengalamanlah kita bisa berkontemplasi, bukan dari buku yang cuma singgah di memori.