Publikasi sejarah peradaban Islam sering menyebutkan bahwa kejayaan Islam terjadi pada abad pertengahan. Pada waktu itu gencar dilakukan penerjemahan terhadap buku-buku Yunani terutama buku-buku filsafat dan sains. Pada masa itu dunia Islam melahirkan tokoh-tokoh seperti Ibnu Sina, Al Farabi, Ibnu Ruysd, dan ilmuan-ulama lainnya yang sampai saat ini masih dikenang ole sejarah.

Kegemilangan sejarah Islam pada abad pertengahan di kala Kristen di Eropa sibuk dengan konflik teologis berbau mistis, menjadi klaim historis oleh cendikiawan Islam saat ini yang begitu rindu mengembalikan peradaban Islam sebagai peradaban no 1 di dunia.

Tapi apakah betul kejayaan Islam terjadi pada masa abad pertengahan itu? Ketika dinasti Abbasiyah dan Ummayyah berhasil mendirikan sentra-sentra pendidikan yang dipenuhi mahasiswa-mahasiswa dari berbagai penjuru dunia.

Saat mengikuti kuliah Stadium General Bahasa Arab hari Ahad (15 Maret 2009) lalu di Masjid Pogung Raya Yogkarta, ada uraian kritis yang disampaikan oleh Ustadz Ridwan Hamidi, Lc. Beliau membongkar tesis “kejayaan Islam terjadi pada abad pertengahan” yang begitu saja diterima. Banyak yang tidak kritis untuk mempertanyakan kembali “apakah ukuran kejayaan itu?”

Menurut ustadz Ridwan, ukuran yang tepat untuk mengukur kapankah kejayaan Islam terjadi dalam sejarah Islam, adalah ketika syariat Islam bisa merubah dan memperbaiki masyarakat sehingga terwujud kedamaian dan rasa tentram pada masyarakat. Tentu saja masa itu adalah masa Rasulullah bersama para sahabat.

Indikator paling mudah, bagaimana Rasulullah sebagai kepala negara pada waktu itu tidak perlu dikawal oleh sejumlah pasukan elite bersenjata lengkap layaknya special security yang diberikan kepada kepala negara pada masa sekarang. Rasulullah sebagai pimpinan tertinggi bisa berinteraksi dengan siapa saja tanpa ada sekat-sekat birokratis.

Malahan penerjemahan buku-buku Yunani pada abad pertengahan telah menimbulkan persoalan teologis serius bagi dunia Islam. Semakin banyak penyimpangan-penyimpangan akidah sehingga para ulama-ulama harus bekerja keras untuk membantah pendapat-pendapat yang menyimpang dari ajarang Qur’an dan Sunnah.

Iklan