Mengkampanyekan sesuatu tak mesti lewat iklan dengan dana miliyaran rupiah di televisi. Tak mesti juga lewat pertemuan akbar memenuhi stadion sepakbola. Terkadang kampanye bisa dilakukan lewat cara yang simple, misalnya dengan menuliskan di media. Itulah yang dilakukan oleh Prof. Syafi’i Ma’arif dengan judul Resonansi “Mendudukan Pluralisme Agama” di harian Republika hari ini. Yang saya tangkap dari 8 paragraf tulisan beliau adalah PROMOSI Buku Baru Abdul Moqsith Ghazali yang barusan diterbitkan.

“Dr. Abdul Moqsith Al Ghazali adalah salah seorang di antara mereka yang berani berpikir bebas secara bertanggungjawab, baik dari sisi iman maupun dari sisi disiplin ilmu.” Pujian yang tentunya cukup wah, meskipun kita bisa memperdebatkan tentang term-term yang digunakan oleh Prof. Syafi’i Ma’arif.

“Argumen Pluralisme Agama: Membangun Toleransi berbasis Al Qur’an” setebal 401 halaman itu agaknya penerbitan secara luas dari Disertasi Abdul Moqsith yang sempat heboh awal 2008 yang lalu. Karena salah satu penguji disertasi Moqsith, Prof Salman Harun (satu-satunya penguji yang guru besar tafsir Al Qur’an saat itu), menyatakan “memang disertasinya banyak kesalahan. Begini, kalau seorang doktor sudah masuk Sidang Terbuka untuk diuji disertasinya, secara etika akademis, itu sudah dinyatakan lulus.”

Jadi, kelulusan Moqsith ya karena faktor etis saja. Kalau faktor akademis, ya patut dipertanyakan. Jika telah terjadi ketidakproporsionalan dalam pengutipan terhadap buku-buku tafsir yang dijadikan referensi, dimana letak tanggung jawab ilmiahnya? Agak aneh juga jika Prof. Syafi’i mengatakan Moqsith adalah soerang yang bertanggung jawab dari sisi disiplin ilmu. Apalagi dari sisi iman.

Pada bagian akhir artikelnya, Prof. Syafi’i mengatakan “Akhirnya, saya belum perlu mengupas kandungannya, tetapi ingin mengimbau pembaca untuk mengikutinya sendiri. Kemudian beri penilaian jujur, kritikal, dan objektif.” Apa arti ungkapan ini? Pertama, kita dapat menduga kuat bahwa Prof. Syafi’i merasa tidak perlu mengupas buku tersebut karena telah memposisikan diri sebagai pihak yang menyetujui. Kedua, ada sikap yang tak konsisten, di satu sisi tak ingin mengupas, tapi malah menyarankan orang lain untuk menelaahnya.

Lebih anehnya lagi, di paragraf terakhir Prof. Syafi’i malah membuat penutup, “Saya merindukan lahirnya sebuah iklim intelektual kelas tinggi di kalangan umat Islam Indonesia, di mana peradaban otak dan hati dapat mengalahkan otot dan teriakan kasar!”. Menurut saya, lewat ungkapan ini beliau telah menposisikan diri sebagai bagian dari intelektual kelas tinggi dan orang-orang yang berseberangan (orang yang hati dan otaknya belum terbuka, begitu beliau mengatakan) sebagai golongan yang masih rendah tataran intelektualnya.

Boro-boro ingin bersikap objektif dan netral, sesungguhnya Prof. Syafi’i telah mengambil posisi tertentu dalam hal ini. Apakah ada hal yang netral di dunia ini? Para ilmuan kontemporer sudah mengakui kelemahan tesis kebenaran objektif. Tentu tak ada satu usaha tanpa suatu motif. Agaknya sebagai orang yang ingin menjadi cerdas, kita mesti mencari apa latar belakang munculnya sesuatu. Karena tak asap kalau tak ada api. Begitu pepatah mengatakan. Ya, bisa dilihat aja siapa penyandang dana dan track record sang penulis selama ini.

Segitu dulu dari saya… He..He.. Mat malam.

Iklan