Siapa yang punya uang dialah yang berkuasa. Itulah agaknya berlaku di negara kita saat ini. Cobalah lihat para petinggi partai yang akan berkompetisi pemilu besok, kebanyakan mereka adalah pengusaha dengan kemampuan finansial yang mumpuni. Bagi intelektual kere, haruslah mencari penyandang dana apabila hendak memajukan diri dalam persaingan politik.

Konon, naiknya Sutrisno Bachir menjadi Ketua DPP PAN, sangat erat dengan kepentingan Amien Rais yang pada 2004 lalu mencalonkan diri sebagai presiden. Memang uang dan politik saling bertautan untuk menggalang kekuatan yang sulit dilawan kecuali oleh ideologi radikal.

Kalau kita jauhkan pandangan, melihat mengapa Amerika Serikat dikuasai oleh lobi-lobi Yahudi, tentu tidak lepas dari perspektif UANG-POLITIK yang telah bermula pada abad 15 silam.

Dalam sebuah paragraf singkat, Henri Kamen, penulis “Spanish Inquisition” yang diterjemahkan oleh Penerbit E-Nusantara, “Para Algojo Tuhan: Kisah Perburuan terhadap Orang-Orang Kristen Palsu di Spayol”, menyebutkan:

“Seperti biasa, bidang yang paling mereka kuasai adalah bidang keuangan. Perlu diingat bahwa kalau bukan karena dana Converso, pelayaran pertama Colombus pada tahun 1492 tidak akan pernah bisa dilakukan: para Converso dari Aragon, Luis de Santangel, dan Gabriel Sanchez-lah, yang membantu dan membiayai ekspedisi tersebut; kaum Yahudi dan Converso, termasuk seorang penerjemah Yahudi, yang menjadi awaknya; dan ada kemungkinan bahwa Colombus sendiri keturunan Converso dari Catalan.”

Pada saat tentara Salib mengalahkan kekuasaan Islam di Spanyol, maka kehidupan yang dulunya damai antar pemeluk Islam, Yahudi, dan Kristen, hancur seketika. Kebencian Kristen terhadap Yahudi sangatlah kuat, karena orang-orang Nasrani percaya Yahudilah yang telah membunuh Jesus. Kebencian Kristen terhadap Islam, terutama disebabkan oleh doktrin Tauhid yang dibawa Islam mengeliminasi Konsep Trinitas Nasrani. Penguasa Kristen di Spanyol membuat kebijakan semua penduduk Spanyol harus beragama Kristen. Non-Kristen harus memilih, pindah agama masuk Kristen, pergi dari Spanyol, atau jika tetap kukuh maka akan dibunuh.

Orang-orang Yahudi yang nyaman dengan pada masa kekuasaan Islam, banyak memilih untuk berpindah agama terutama mereka-mereka yang telah memiliki kekuasaan dan asset finansial di Spanyol. Mereka inilah yang dinamakan Converso atau Kristen Baru.

Kecurigaan Paus dan penguasa tentang pilihan pindah agama mereka hanyalah semacam kepura-puraan, maka banyak orang-orang Kristen lama yang curiga dengan para Converso. Hingga lahirlah keputusan Inkuisisi sebagai alat negara untuk membuktikan kesahihan Iman Kristen para Converso.

Kembali ke cerita Colombus tadi, agaknya kita bisa memahami mengapa AS berada di bawah ketiak Yahudi. Karena memang dari awalnya Yahudi telah berjasa besar dalam penemuan “benua baru” itu. Jadi jangan disesali keberpihakan AS kepada Israel. Karena “Mbah-nya” AS ya Yahudi.