Malam ini, purnama tlah berlalu. Aku harus menghapus kenangan bersamamu. Meski kebersamaanmu begitu indah. Aku telah sampai di ujung kesabaran. Daripada lebih menderita, lebih baik aku mundur mengalah.

Memperjuangkan cinta kepadamu, hanya membawaku semakin menyakitimu. Aku telah kehabisan semangat. Kata seorang adik yang sekarang dah menikah, tiada yang salah dengan fisik, wajah, kecerdasan ataupun status diriku. Tapi yang bermasalah adalah pemikiran, gaya berpikirku yang rada-rada aneh. Katanya sih begitu.

Ku coba-coba renungi, dimana letak kesalahan itu? Namun sampai malam ini, aku tak menemukan jawaban.

Belakangan aku tak lagi semangat untuk menulis di blog ini. Sering aku tercenung sendiri, apa yang telah kutulis? Sebegitu bermanfaatkah bagi pengunjung yang hanya bisa kulacak keberadaannya, tapi tak bisa ku lacak siapa dia.

Apalagi, hanya hiasan tangisan yang kutampilkan. Curahan hati seorang yang selalu gagal dalam percintaan. Cukup berhargakah kata-kata picisan yang kutuliskan???

Entahlah… Aku hanya bermain dengan imajinasi. Menuliskan kata demi kata yang ada di pikiran ini…

Entah sampai kapan aku bertahan dalam keremukan. Menyiarkan kelemahan diri berbalut status sebagai bloger. Apakah ku berharap simpati? Atau sosok-sosok yang menjadi inspirasi tulisan-tulisan yang telah tergores, terdampar di blog jelek yang rada-rada cenggeng ini? Entahlah… Aku tak bisa menjawabnya.

Yang kulakukan hanya terus menulis dan menulis. Tentang apa yang kurasakan dan apa yang ku pikirkan. Dan setiap orang berhak menilai. Tapi aku hanya mengurai, merenda kata yang terkadang tiada bermakna.

Hanya oretan pria pemimpi. Pekerjaan pria sunyi, yang merindukan bertemu dengan bintang yang dilihatnya setiap malam. Karena dia tak tahu lagi kepada siapa harus meluahkan perasaan. Karena tiada yang mau mendengar suara sumbangnya, yang sering kali menyakitkan telinga. Yang memandangnya sinis tak lagi berharga.

Apakah dia menangis dalam kesepian? Baginya sepi bagai baju nan melekat di badan. Karena dia yakin, kesepian ini tiada bandingannya dengan kesunyian di kuburan. Saat diri hanya tinggal nama, dan nasib sedang dipertaruhkan di hadapan Tuhan.

Dia bukanlah orang sholeh. Hingga bisa berbangga diri menampakkan kesucian. Jauh dari kealiman, karena dosa-dosanya teramat banyak untuk dimaafkan.

Malam, aku masih merindukan bisa menikmatimu di esok hari. Semoga masih ada nafas yang mengalir di diri ini. Sampai aku berhasil mengungkap rahasiamu yang begitu kukagumi. Nan sering terbawa ke dalam mimpi.

Sungguh belaianmu begitu lembut. Hingga aku terlelap di bawah balutan sentuhan mesramu…