Pengelanaanku (he2..he2..kayak pendekar aja) mencari bahan bacaan untuk skripsi mengantarkanku pada buku “Bertuhan Tanpa Agama” yang berisikan essai-essai Bertrand Russell 1872 – 1970) seorang filsuf Inggris penganut Atomisme Logis. Buku yang dari judulnya saja sudah merindingkan badan terutama bagi seseorang yang religius.

Aku kembali ingat pada “warning” dari teman-teman dan ustadz-ustadz pas ngaji dulu, “kamu jangan baca-baca buku filsafat, ntar pikiranmu ngak karuan”. Tapi sudah takdir menjadi mahasiswa filsafat harus baca buku-buku filsafat, apalagi yang nulisnya Bertrand Russell, salah satu filsuf terbesar di abad 20. Selain ahli matematika dan logika, Russell juga masyur atas sikap pasifisme-nya terhadap perang dunia pada pertengahan abad 20. Entah “sekafir” buku-buku filsafat, tapi bagiku ngak masalah selagi kita punya “antibodi” atas virus-virus filsafat yang memang ganas.

Saat membaca Bab 20 Kristianitas Selama Empat Abad Pertama, pada halaman 285, aku tersentak dengan penuturan Russell yang menyatakan sikap Islam terhadap Kristen terutama masalah Yesus (Isa) dipengaruhi oleh paham Gnostik yang merupakan sekte Kristen yang mengkritisi ketuhanan Jesus.

“Salah satu doktrin dari sekte Gnostik diadopsi oleh Muhammad. Mereka mengajarkan bahwa Jesus adalah manusia biasa, dan bahwa Putra Tuhan turun kepadanya pada pembaptisan, dan meninggalkannya pada waktu marah. Untuk mendukung pandangan ini mereka merujuk pada ayat: ” Tuhanku, Tuhanku, mengapa Engkau meninggalkan aku?” (Markus 25:34) – sebuah ayat yang harus diakui, selalu sulit dipahami oleh orang-orang Kristen.”

“Gnostik menganggap tidak pantas Putra Tuhan dilahirkan, menjadi bayi, dan terutama, mati di tiang salib; mereka berkata bahwa hal-hal tersebut terjadi pada manusia Jesus, bukan Putra Tuhan. Muhammad, yang memandang Jesus sebagai nabi, meskipun bukan sebagai Tuhan, mempunyai pandangan yang kuat bahwa para nabi tidak semestinya mati dalam keadaan teraniaya. Oleh karenanya Muhammad mengadopsi pandangan Docetis (sebuah sekte Gnostik) bahwa yang digantung di tiang salib adalah semata-mata sosok lain yang tak jelas; doktrin yang tanpa pengetahuan dan tanpa memperhitungkan kekuatan ini digunakan oleh orang-orang Yahudi dan Roma untuk melakukan balas dendam mereka yang gagal. Dengan cara ini, satu aspek dari Gnostisisme pindah ke dalam doktrin ortodoks Islam.”

Tudingan ini sejalan dengan apa yang difirmankan oleh Allah dalam Surat Al Ahqaf (46) ayat 8:


Artinya: Bahkan mereka mengatakan: “Dia (Muhammad) telah mengada-adakannya (Al Quran).” Katakanlah: “Jika aku mengada-adakannya, maka kamu tiada mempunyai kuasa sedikitpun mempertahankan aku dari (azab) Allah itu. Dia lebih mengetahui apa-apa yang kamu percakapkan tentang Al Quran itu. Cukuplah Dia menjadi saksi antaraku dan antaramu dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Russell seolah-olah menegasikan bahwa ajaran yang dibawa Muhammad adalah hasil interaksi beliau dengan dengan golongan kaum Gnostik yang ada di jazirah Arabia.  Padahal doktrin penolakan Islam terhadap ketuhanan Jesus (Isa), murni berdasarkan pada wahyu Allah.

Sesuatu yang mirip belum tentu memiliki korelasi. Tentu  ungkapan Russell ini perlu penyelidikan ilmiah untuk sampai pada kesimpulan bahwa “Ada pengaruh  Gnostisism pada ajaran Islam”.

Iklan