Muhammad: Pengikut Ajaran Gnostik?


Pengelanaanku (he2..he2..kayak pendekar aja) mencari bahan bacaan untuk skripsi mengantarkanku pada buku “Bertuhan Tanpa Agama” yang berisikan essai-essai Bertrand Russell 1872 – 1970) seorang filsuf Inggris penganut Atomisme Logis. Buku yang dari judulnya saja sudah merindingkan badan terutama bagi seseorang yang religius.

Aku kembali ingat pada “warning” dari teman-teman dan ustadz-ustadz pas ngaji dulu, “kamu jangan baca-baca buku filsafat, ntar pikiranmu ngak karuan”. Tapi sudah takdir menjadi mahasiswa filsafat harus baca buku-buku filsafat, apalagi yang nulisnya Bertrand Russell, salah satu filsuf terbesar di abad 20. Selain ahli matematika dan logika, Russell juga masyur atas sikap pasifisme-nya terhadap perang dunia pada pertengahan abad 20. Entah “sekafir” buku-buku filsafat, tapi bagiku ngak masalah selagi kita punya “antibodi” atas virus-virus filsafat yang memang ganas.

Saat membaca Bab 20 Kristianitas Selama Empat Abad Pertama, pada halaman 285, aku tersentak dengan penuturan Russell yang menyatakan sikap Islam terhadap Kristen terutama masalah Yesus (Isa) dipengaruhi oleh paham Gnostik yang merupakan sekte Kristen yang mengkritisi ketuhanan Jesus.

“Salah satu doktrin dari sekte Gnostik diadopsi oleh Muhammad. Mereka mengajarkan bahwa Jesus adalah manusia biasa, dan bahwa Putra Tuhan turun kepadanya pada pembaptisan, dan meninggalkannya pada waktu marah. Untuk mendukung pandangan ini mereka merujuk pada ayat: ” Tuhanku, Tuhanku, mengapa Engkau meninggalkan aku?” (Markus 25:34) – sebuah ayat yang harus diakui, selalu sulit dipahami oleh orang-orang Kristen.”

“Gnostik menganggap tidak pantas Putra Tuhan dilahirkan, menjadi bayi, dan terutama, mati di tiang salib; mereka berkata bahwa hal-hal tersebut terjadi pada manusia Jesus, bukan Putra Tuhan. Muhammad, yang memandang Jesus sebagai nabi, meskipun bukan sebagai Tuhan, mempunyai pandangan yang kuat bahwa para nabi tidak semestinya mati dalam keadaan teraniaya. Oleh karenanya Muhammad mengadopsi pandangan Docetis (sebuah sekte Gnostik) bahwa yang digantung di tiang salib adalah semata-mata sosok lain yang tak jelas; doktrin yang tanpa pengetahuan dan tanpa memperhitungkan kekuatan ini digunakan oleh orang-orang Yahudi dan Roma untuk melakukan balas dendam mereka yang gagal. Dengan cara ini, satu aspek dari Gnostisisme pindah ke dalam doktrin ortodoks Islam.”

Tudingan ini sejalan dengan apa yang difirmankan oleh Allah dalam Surat Al Ahqaf (46) ayat 8:


Artinya: Bahkan mereka mengatakan: “Dia (Muhammad) telah mengada-adakannya (Al Quran).” Katakanlah: “Jika aku mengada-adakannya, maka kamu tiada mempunyai kuasa sedikitpun mempertahankan aku dari (azab) Allah itu. Dia lebih mengetahui apa-apa yang kamu percakapkan tentang Al Quran itu. Cukuplah Dia menjadi saksi antaraku dan antaramu dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Russell seolah-olah menegasikan bahwa ajaran yang dibawa Muhammad adalah hasil interaksi beliau dengan dengan golongan kaum Gnostik yang ada di jazirah Arabia.  Padahal doktrin penolakan Islam terhadap ketuhanan Jesus (Isa), murni berdasarkan pada wahyu Allah.

Sesuatu yang mirip belum tentu memiliki korelasi. Tentu  ungkapan Russell ini perlu penyelidikan ilmiah untuk sampai pada kesimpulan bahwa “Ada pengaruh  Gnostisism pada ajaran Islam”.

Iklan

8 thoughts on “Muhammad: Pengikut Ajaran Gnostik?

  1. MUSLIMIN. PADA HARI PENGHISABAN NANTI, PARA HAFIDZ DAN MUTTAQIN AKAN MENJADI SAKSI BAGI KAUM-KAUM YANG HIDUP SEBELUM UMAT NABI MUHAMMAD. MEREKA MENOLAK DAN BERKATA “BAGAIMANA MUNGKIN KALIAN BISA MENJADI SAKSI BAGI KEHIDUPAN, KEMUSYRIKAN, KEKAFIRAN DAN KEMUNKARAN KAMI SEDANGKAN KAMI ADALAH UMAT TERDAHULU DARIPADA KALIAN”. LALU MENJAWAB PARA MUTTAQIN DAN MU’MININ “KAMI TAHU APA YANG KALIAN PERBUAT KARENA AL’QURAN TELAH BERCERITA TENTANG KALIAN, DAN KAMI YAKIN AKAN KEBENARAN AL’QURAN SEBAGAI FIRMAN ALLAH SWT, DAN KAMI AKAN BERSAKSI BAGI SELURUH UMAT TERDAHULU SEBELUM KAMI, ALLAHU AKBAR”. SO, MY BROTHER SEIMAN ISLAM, BACALAH AL’QURAN SEBAGAI SUMBER ILMU “PAST-PRESENT-FUTURE”. I’VE LEARNT PHILOSOPHY LIKE YOU, DAN YANG KUTEMUKAN HANYALAH BIG BULLSHIT KARENA FILOSOFI MUSLIM ADALAH QUR’AN. KARENA IA ADALAH AL-HUDA YANG MEMBERIKAN PETUNJUK YANG MEMBEDAKAN KEBENARAN DENGAN KEMUNKARAN.
    FILOSOPHIA “CINTA KEBENARAN”, BENAR YANG MANA? BENAR DENGAN UKURAN SIAPA? BENAR TENTANG APA? APA ITU KEBENARAN? SIAPA YANG MEMBENARKAN DAN SIAPA YANG DIBENARKAN?
    SIAPA YANG PALING BENAR? BENARKAH IA YANG PALING BENAR? SIAPA YANG MEMBERITAHU TENTANG KEBENARAN ITU? APAKAH KEBENARAN MUNCUL DENGAN SENDIRINYA? ATAUKAH KEBENARAN ITU DIMUNCULKAN? LALU APA ITU SALAH? SIAPA YANG MENBERITAHU KALAU ITU SALAH? SIAPA YANG MENYALAHKAN DAN SIAPA YANG DISALAHKAN? APAKAH KESALAHAN ITU MUNCUL DENGAN SENDIRINYA? ATAUKAH KESAHALAHAN ITU DIMUNCULKAN? LALU . . . . . . . . . KALU SUDAH MUNKAR KEMUDIAN MUSYRIK DAN MENJADI KAFIR SALAH SIAPA? ATAU ITU KEBENARAN YANG DICARI PARA FILSUF? APA AGAMA MEREKA? MENGAPA MEREKA YAKIN KALAU AGAMA MEREKA PALING BENAR? SEDANGKAN ISLAM MERUPAKAN AGAMA YANG PALING SEMPURNA.
    “WAMAYYABTAGHI GHOIRIL ISLAMIDIINA FALAN-YAQBALU MINHA WAHUWA FIIAKHIRATI MUNFASIIR” CARI ARTINYA, SELAMI DAN DALAMI KEBANRAN YANG ADA DIBALIKNYA. ITULAH KUNCI KESELAMATAN DAN KEBENARAN DUNIA DAN AKHIRAT.

    BE A GOOD MOSLEM !

  2. Sekte gnostik dalam Kristen menganggap yang dipaku-dinaikkan ke atas tiang salib bukanlah Yesus/Nabi Isa as, karena mereka dikacaukan oleh akidah bahwa Yesus adalah anak Tuhan. Logika mereka tidak bisa menerima kenyataan seorang anak Tuhan yang bisa tertangkap, disiksa, menderita dan disalib di tangan musuh-musuhnya, sehingga diyakini bahwa yang disalib saat itu adalah orang lain yang bukan Yesus. Atas hal ini ayat-ayat Al Quran memberikan petunjuk yang jelas, indah dan tegas sebagai berikut :

    a. Yesus/Nabi Isa as bukanlah Tuhan atau anak Tuhan (QS 5:116-117; 4:171)

    b. Musuh-musuh Nabi Isa as berupaya merencanakan dengan cermat membunuh beliau melalui cara penyaliban (QS 4:157), sebuah cara yang sangat jahat karena si korban akan digantung-dipaku, dipermalukan di depan publik dan dibuat mati pelan-pelan akibat kelelahan, kelaparan, kehausan dan kehabisan darah. Hal itu disebabkan musuh-musuh beliau menganggap beliau bukan Al Masih, bukan Nabi alias Nabi Palsu.

    c. Terhadap upaya musuh yang keji itu Allah SWT sebagai sebaik-baik perencana melepaskan Nabi Isa as dari kematian di atas salib dengan cara yang jitu, sebuah cara yang menggagalkan sekaligus mempermalukan “big plan” para musuh Nabi Isa as. Allah Ta’ala berkehendak saat proses penyaliban, keadaan fisik Nabi Isa as akibat kelelahan,ketegangan, keluarnya darah, lapar dan haus menjadi samar-samar, tampak lunglai dan diam seperti orang yang telah mati (seperti dimaksudkan dalam ayat …”walakin syubbiha lahum – akan tetapi disamarkan kepada para musuhnya”). Penampakan fisik yang seperti itu ditambah keadaan gempa dan langit sore menjelang Sabbath yang gelap, pertanda akan segera datang badai besar memaksa para penyalib menurunkan tubuh Nabi Isa as. Karena telah “tampak” mati maka tulang-tulang tubuh Nabi Isa as tidak dipatahkan (note:pematahan tulang adalah final execution dari proses penyaliban, lihat qamus Al Munjid …Shalabal ‘idhoma istakhroja wadkaha..”. Dengan ragu-ragu dan tidak dipastikan dengan cermat apakah Nabi Isa as sungguh-sungguh telah mati, balatentara Romawi menyerahkan tubuh Nabi Isa as kepada para muridnya untuk “dimakamkan”. Ini dijelaskan dalam ayat :…walakin syubbiha lahum……ma lahum bihi min ‘ilmi illattiba’azhzhon…….wa maa qataluhu yaqiinan . Di antara para murid Nabi Isa as ada yang bernama Yusuf Arimatea, seorang tabib, dan dalam perawatannya dalam beberapa hari kemudian Nabi Isa as dapat disembuhkan dan bangkit dari pingsan.

    Nabi Isa as pada akhirnya selamat dari makar jahat pembunuhan dan penyaliban yang akan merendahkan martabatnya, maka Al Quran dengan tegas mengatakan : “…wa maa qataluhu wa maa shalabuhu “. Sebaliknya martabat Nabi Isa as sebagai rasul yang benar telah diangkat oleh Allah SWT dengan menyelamatkannya dari pembunuhan keji itu. Setelah selamat dari “big plan penyalibannya” Nabi Isa as menyamar selama masih berada di sekitar Yerusalem dan beberapa kali menemui murid-muridnya. Selanjutnya sesuai missi beliau as diutus oleh Allah SWT sebagai rasul untuk Bani Israil, beliau mengembara ke arah Timur mencari suku-suku Israel yang hilang, yang mengalami masa pembuangan/pengasingan di jaman invasi Nebukadnezar dan lain-lain kerajaan di masa lalu. Suku-suku tersebut tercerai di sepanjang Palestina hingga India Utara dan sedikit pecahannya di bagian utara benua Afrika.

    Jadi jelaslah bahwa Islam dan Rasulullah Muhammad Al Musthafa saw bukanlah mengikuti paham sekte gnostik, melainkan mengikuti Wahyu yang jelas dan kuat dari Allah SWT yang menyajikan kebenaran hakiki dari peristiwa penyaliban Nabi Isa as di masa lalu.

  3. Koment buat Ari & Oki
    c. Terhadap upaya musuh yang keji itu Allah SWT sebagai sebaik-baik perencana melepaskan Nabi Isa as dari kematian di atas salib dengan cara yang jitu, sebuah cara yang menggagalkan sekaligus mempermalukan “big plan” para musuh Nabi Isa as. Allah Ta’ala berkehendak saat proses penyaliban, keadaan fisik Nabi Isa as akibat kelelahan,ketegangan, keluarnya darah, lapar dan haus menjadi samar-samar, tampak lunglai dan diam seperti orang yang telah mati (seperti dimaksudkan dalam ayat …”walakin syubbiha lahum – akan tetapi disamarkan kepada para musuhnya”). Penampakan fisik yang seperti itu ditambah keadaan gempa dan langit sore menjelang Sabbath yang gelap, pertanda akan segera datang badai besar memaksa para penyalib menurunkan tubuh Nabi Isa as. Karena telah “tampak” mati maka tulang-tulang tubuh Nabi Isa as tidak dipatahkan (note:pematahan tulang adalah final execution dari proses penyaliban, lihat qamus Al Munjid …Shalabal ‘idhoma istakhroja wadkaha..”. Dengan ragu-ragu dan tidak dipastikan dengan cermat apakah Nabi Isa as sungguh-sungguh telah mati, balatentara Romawi menyerahkan tubuh Nabi Isa as kepada para muridnya untuk “dimakamkan”. Ini dijelaskan dalam ayat :…walakin syubbiha lahum……ma lahum bihi min ‘ilmi illattiba’azhzhon…….wa maa qataluhu yaqiinan . Di antara para murid Nabi Isa as ada yang bernama Yusuf Arimatea, seorang tabib, dan dalam perawatannya dalam beberapa hari kemudian Nabi Isa as dapat disembuhkan dan bangkit dari pingsan.
    So…… apa ini sebuah kesaksian/pengakuan & pembenaran?tentang penyaliban itu sendiri? lukumdinukum waliyadin, tapi kenapa yg tdk mengimani senantiasa mempermasalahkan yg diimani oleh mereka yg mengimani? lalu apa yang hendak dicapai?SIAPA YANG PALING BENAR? BENARKAH IA YANG PALING BENAR? SIAPA YANG MEMBERITAHU TENTANG KEBENARAN ITU? “KAMI TAHU APA YANG KALIAN PERBUAT KARENA AL’QURAN TELAH BERCERITA TENTANG KALIAN, DAN KAMI YAKIN AKAN KEBENARAN AL’QURAN SEBAGAI FIRMAN ALLAH SWT, DAN KAMI AKAN BERSAKSI BAGI SELURUH UMAT TERDAHULU SEBELUM KAMI. Lalu siapa yang bersaksi terhadap yang diyakini sebagai Firman Allah (AL’QURAN) itu sendiri?
    Apakah Allah sudah menjadi bingung kalau mau mengadili iman & perbuatan orang masih membutuhkan saksi?, Kalau memang Allah dalam setiap pengadilannya senantiasa membutuhkan saksi dari manusia2(MUTTAQIN DAN MU’MININ) yang senantiasa dalam hidupnya sendiri masih kemungkinan berbuat dosa, trus siapa yang bisa menjadi saksi bagi pengadilan para saksi tersebut? Apa saksi2(MUTTAQIN DAN MU’MININ) tsb sudah tidak perlu diadili karena sebagai manusia mereka bersih dari dosa?
    Eroninya saksi tersebut adalah orang2 yg tidak pernah menyaksikan/mengalami sendiri, sementara kita yakin Allah Maha Mengetahui.
    Koq jadi membingungkan.

  4. Sebentar menyela,walau diatas sepertinya postingan lama smua…
    Sekedar mengutarakan prinsip saya supaya anda juga merenungkannya bahwa “jangan pernah mengusik agama dan kepercayaan orang lain,jika anda belum pernah mempelajari dan mendalami sesuatu yang anda usik dan debatkan itu.”

    saya males ketik,jadi saya kasih contoh 1 saja.untuk yang lain silahkan renungkan sendiri dan cari sendiri KEBENARANnya…
    dari komentar bro Ari S di poin C bahwa Isa diturunkan dari kayu salib dalam keadaan pingsan.ini salah besar,karena sebelum diturunkan,lambung beliau dijojos (ditusuk) tombak oleh serdadu romawi yang sebelumnya takut mematahkan tulang beliau karena ketika beliau tertunduk (mati) terjadilah gempa dan bait allah terbelah dua yang menandakan scra spontan bahwa beliau memang anak Allah (siapapun orangnya yg jadi serdadu pasti lah kaget dan takut jika tau bahwa orang yang disiksanya mati dengan bencana alam dan tempat ibadah terbelah dua)

    itu aja sih,saya nggak mau berdebat,cuma kasih info yg bener aja menurut saya pribadi (bukan dari agama saya) mau diterima ya silahkan nggak berkenan ya tolong dimaafkan (tapi saya pikir orang2 yg hatinya nggak picik akan merenungkan sikap dahulu sbelum emosinya muncul..)

  5. Ya memang .. Mohhamad penganut Gnostik Mandaean sebuah sekte Bidaah yahudi yang disebut Nasrani, sekte ini punya banyak aliran, salah satunya adalah percaya terhadap Yesus Kristus dan percaya pula terhadap Yesus Kristus yang mati disalib”, tetapi ada aliran lain yang tidak percaya Yesus Kristus sebagai Mesias, sehingga menimbulkan penyerangan terhadap kaum sempalan Nasrani yang percaya Yesus Kristus dan kaum Kristen. Nasrani berbeda dengan Kristen, dimana Nasrani itu sudah ada sebelum Yesus lahir (karena masuk dalam Gnostik Mandaean) dan sangat taat dengan ajaran taurat tetapi tidak berseberangan dalam keimanan dalam Kristen. Gnostik Mandaean ortodok ini menciptakan Mesianis baru dalam Isa, sehingga Isa dilahirkan di bawah pohon kurma dan bukan di kandang domba.

  6. MENGAPA AL-QURAN MENYANGKAL SALIB?

    TANTANGAN: Tidak sedikit orang Musllim sudah meninggalkan Islam dan hari ini mengikut Yesus Kristus. Namun, kadangkala muncul situasi, dimana mereka tergoda untuk kembali kepada Islam. Apakah mungkin untuk menyiapkan para petobat baru itu untuk menghadapi situasi yang demikian? Apakah ada argumen yang bisa menolong seorang mantan Muslim agar tidak pernah lagi percaya kepada penyangkalan Al-Quran terhadap penyaliban Kristus?

    JAWAB: Ya, ada beberapa argumentasi yang demikian. Sebagaimana diketahui, Al-Quran mengatakan bahwa Kristus tidak disalibkan, tetapi dibuat sehingga di depan orang-orang Yahudi seolah-olah mereka memang sudah menyalibkan Kristus yang sebenarnya. Dan (terkutuklah mereka, orang Yahudi) karena ucapan mereka : “Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, ‘Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan ‘Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) ‘Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah ‘Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat ‘Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Surat al-Nisa’ 4:157-158).

    Ide ini muncul dari masa sebelum Islam di antara orang-orang Kristen Gnostik, yang mencampurkan iman Kristen mereka dengan agama Gnostik. Karena hal itu, mereka dikutuk dan ditolak oleh para Bapa Gereja mula-mula, dan dinyatakan sebagai sesat. Mereka menulis teks, yang kebanyakan sudah hilang di saat ini, tetapi yang, juga, dikutip oleh Bapa-Bapa gereja mula-mula dalam buku-buku mereka mengenai bidat-bidat. Di sini kita bisa melihat contohnya: seorang Kristen Syria dan penganut Gnostik, Basilides, yang hidup antara tahun 125 dan 169 M, adalah pemimpin sebuah kelompok di Aleksandria. Seorang Bapa gereja, Irenaeus dari Lyon, menuliskan tentang dia di dalam karyanya “Melawan Bidat-Bidat” (Buku 1, 24, 4) bahwa Basilides mengajarkan:

    “Bukan Dia (yaitu Kristus) yang menderita, tetapi seseorang yang bernama Simon dari Kirene, yang menggantikan Dia memikul salib (bandingkan Matius 27:32). Orang ini kemudian diubahkan oleh Dia (yaitu oleh Kristus) sehingga ia dianggap sebagai Yesus, dan kemudian disalibkab, karena ketidaktahuan dan kesalahan, sementara Yesus sendiri mengambil rupa Simon, dan berdiri di sana, mentertawakan mereka. Karena Ia memiliki kuasa yang melampaui tubuh dan memiliki Nous (pikiran) Bapa yang tidak dilahirkan itu, Ia bisa mengubah diri-Nya sekehendak-Nya, dan setelah itu naik kepada Dia yang mengutus-Nya, sambil mencemooh mereka, karena Ia tidak bisa ditangkap, dan tidak bisa dilihat oleh mereka semua …” (Diterjemahkan dari bahasa Jerman dari: Norbert Brox, “Irenäus von Lyon. Epideixis, Adversus Haereses, volume 1. Fontes Christiani, volume 8/1”, 1993 (Herder, Freiburg) halaman 201.)

    Teks ini menunjukkan bahwa kemungkinan besar bukan Muhammad sendiri yang memunculkan penyangkalan akan penyaliban Kristus, atau menerima hal itu dari Allah. Namun, ia melanjutkan apa yang didengarnya dari orang-orang Kristen Gnostik yang demikian. Jadi Al-Quran memiliki jejak bidat Gnostik sejak jaman sebelum Islam. Contoh yang lebih jauh lagi tentang hal yang demikian di dalam Al-Quran ditemukan di dalam sepenggal kisah dari sebuah manuskrip bidat yang sangat menghujat yang saat ini hanya ada dalam terjemahan Koptik. Kitab itu disebut “Wahyu Petrus,” dan dituliskan oleh seorang Kristen Gnostik sekitar tahun 200. Di sana tertulis demikian:
    “(Kristus berbicara kepada Petrus): Karena itu datanglah, mari kita menuju ke (penglihatan akan) kesempurnaan persidangan dari Bapa yang tak bernoda. Karena lihatlah, akan tiba mereka yang akan mendatangkan ke atas diri mereka (sendiri) penghukuman (yang ditanggungkan kepada-Ku), dan mereka akan dipermalukan. Tetapi Aku tidak bisa mereka sentuh. Dan engkau, Petrus, akan berdiri di tengah mereka. Jangan takut! (Aku berkata kepadamu) karena kegentaranmu (halaman 81). Pikiran mereka akan ditutup, karena yang tidak nampak itu sudah datang kepada mereka.’

    Setelah Ia mengatakan semuanya itu, aku melihat Dia seolah-olah Ia ditangkap oleh mereka. Dan aku berkata, “Apakah yang aku lihat ini, Tuhan? Engkaukah yang mereka tangkap, dan akukah yang Engkau tangkap? Dan siapakah itu, siapakah (yang berdiri) di dekat kayu itu dan bergembira sambil tertawa ? Dan siapakah itu yang kaki dan tangannya mereka paku?’ Juruselamat berkata kepadaku, “Ia yang engkau lihat (berdiri) di samping kayu dan bergembira serta tertawa, itulah Yesus yang hidup. Tetapi dia yang tangan dan kakinya tertembus paku adalah yang kedagingannya (keserupaannya) yang adalah “Tebusan” yang (sendirian) mereka (bisa) permalukan. Ia diserupakan dengan Dia. Tetapi lihatlah (dengan seksama) kepadanya dan Aku.’ Tetapi aku, ketika aku memandang (dan sudah melihat), lalu berkata, ‘Tuhan, tidak ada yang dapat melihat Engkau. Mari kita pergi dari sini.’ Tetapi Ia berkata, ‘Aku sudah mengatakan bahwa mereka (itu) buta. Biarkan saja mereka! Tetapi engkau, perhatikan betapa sedikitnya mereka memahami perkataan merka sendiri. (halaman 82). Karena anak-anak dari kemuliaan (sia-sia) mereka yang sudah dipermalukan dan bukan hamba-Ku.’ Tetapi aku melihat sesuatu yang mendekati kami yang sangat mirip dengan Dia dan yang berdiri di samping kayu sambil tertawa—Ia dibentuk di dalam Roh Kudus—dan inilah sang Juruselamat.

    Dan ada cahaya yang sangat besar, yang tak terkatakan yang melingkupi mereka, dan sejumlah besar yang tak terkatakan dan tak kelihatan dari bala tentara malaikat memuji mereka. Tetapi akulah orang, yang sudah melihat Dia, ketika Ia dinyatakan sebagai Dia yang dimuliakan. Karena yang mereka pakukan (di kayu salib) adalah yang sulung, dan kediaman setan-setan, dan kendi batu (Catatan: menurut sebuah legenda palsu Salomo dikatakan sudah mengurung setan-setan di dalam kendi-kendi batu), dimana mereka berdiam, Elohim, kayu salib, yang ada di bawah Hukum. Tetapi Dia yang berdiri di dekatnya adalah Juruselamat yang hidup, yang sebelumnya ada di dalam dia, yang sudah ditangkap dan kemudian (lagi) dilepaskan, yang (sekarang) berdiri dalam (keriangan) gembira, karena [Ia] melihat bahwa mereka, yang melakukan kekejaman kepada-Nya, terpecah-pecah di antara mereka sendiri. (halaman 83). Karena itu Ia mentertawakan kebutaan mereka, karena Ia tahu bahwa mereka dilahirkan buta. Karena itu kemudian (hanya) yang bisa menderita yangg memang akan , yaitu sebagaimana tubuh itu adalah ‘Tebusan.’ Tetapi dia, yang mereka (harus) lepaskan, adalah badan tak tak berbadan milikku. Aku (sendiri), adalah Roh, yang hanya bisa dipahami di dalam pikiran, penuh dengan terang yang benderang. Inilah yang engkau lihat datang kepadamu. …” (Diterjemahkan dari bahasa Jerman di dalam: Wilhelm Schneemelcher (ed.), “Neutestamentliche Apokryphen. Volume II. Apostolisches, Apokalypsen und Verwandtes”, 5th edition, 1989 (Mohr-Siebeck, Tübingen) halaman 642-dst)

    Teks penghujatan ini berisi pandangan yang salah dan berbahaya dari dunia Gnostik: Dunia material disebut jahat karena dianggap tidak diciptakan oleh Allah, tetapi oleh suatu roh jahat (the Demiurge). Hanya dunia Roh yang diterima sebagai miliki Allah yang baik dan benar. Semua orang, melalui pengetahuan, disebut perlu membebaskan Roh ilahinya sendiri dari kungkungan material badaniahnya dan kemudiandianggap memiliki kemampuan untuk menyatukan diri dengan Allah. Bisa dilihat dari teks yang demikian bahwa Al-Quran, sampai kepada formulasi yang khususnya, mengambil gagasan penyangkalan penyaliban Kristus dari kaum Gnostik. Bagi seorang mantan Muslim, penemuan yang demikian akan menghancurkan kewibawaan Al-Quran. Ketika ia tergoda untuk kembali kepada Islam ia bisa menanyakannya sendiri. Apakah aku percaya kepada sesuatu yang jelas tidak diwahyukan oleh Allah, tetapi muncul dari percampuran agama-agama dari masa sebelum Islam dan yang kemudian masuk ke dalam Al-Quran?

    KABAR BURUK: Bukan Muhammad yang memunculkan gagasan penyangkalan akan salib. Ia nampaknya sudah disesatkan oleh para penghasut agama dari kaum Gnostik. Ia tidak hanya mengambil dari mereka gagasan tentang penyangkalan Kristus, tetapi juga secara tidak langsung iman mereka yang berasal dari setan dan yang sesat bahwa suatu roh bisa mengubah tampilan luar seseorang dengan cara sedemikian sehingga ia nampak seperti orang lain. Dengan melakukan hal itu, Muhammad sekali lagi menyatakan bahwa ia tidak bisa dengan jelas membedakan antara wahyu yang Ilahi dengan yang berasal dari si Jahat.

    KABAR BAIK: Kristus sungguh-sungguh disalibkan. Ia mati di kayu salib bagi dosa-dosa kita. Bahkan inspirasi setan yang membingungkan dari kaum Gnostik tidak bisa memisahkan kita dari Allah yang benar dan setia, yang dengan cara sedemikian sudah menyatukan diri-Nya dengan kita—melalui iman kepada korban penebusa Anak-Nya Yesus Kristus—yang menjadikan kita sebagai anak-anak-Nya.

  7. KRISTUS DISALIBKAN?

    TANTANGAN: Orang-orang Muslim radikal menolak penyaliban Kristus. Orang-orang Kristen, sesuai dengan ajaran Injil, bersaksi bahwa Kristus mengalami penolakan yang sangat kuat dari seteru-seteru Yahudi-Nya, dan bahkan karena dengki, mereka menyerahkan Yesus kepada penguasa Romawi di Yerusalem, serta meminta agar Ia dihukum mati. Tentara Romawi kemudian menyiksa Dia, dan selanjutnya menyalibkan Dia di kayu salib. Di sana Ia mati dalam kesengsaraan yang sangat dahsyat, bersama-sama dengan dua orang hukuman. Orang-orang Romawi membunuh Dia.

    Di dalam Injil Kristus kita bisa menemukan penjelasan yang lebih terperinci mengenai peristiwa itu, yang memuncak dalam sebuah pernyataan, “Akhirnya Pilatus menyerahkan Yesus kepada mereka untuk disalibkan. Mereka menerima Yesus. Sambil memikul salib-Nya Ia pergi ke luar ke tempat yang bernama Tempat Tengkorak, dalam bahasa Ibrani: Golgota. Dan di situ Ia disalibkan mereka dan bersama-sama dengan Dia disalibkan juga dua orang lain, sebelah-menyebelah, Yesus di tengah-tengah. . . . Sesudah itu, karena Yesus tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia –supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci –: “Aku haus!” Di situ ada suatu bekas penuh anggur asam. Maka mereka mencucukkan bunga karang, yang telah dicelupkan dalam anggur asam, pada sebatang hisop lalu mengunjukkannya ke mulut Yesus. Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: “Sudah selesai.” Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.” (Yohanes 19:16-18 dan 28-30). Dari kesaksian Rasul Yohanes ini sangat jelas terbukti bahwa memang Yesus disalibkan, dan bahwa Ia mati dalam kesengsaraan di kayu salib. Ia memang sungguh-sungguh dibunuh. Peristiwa itu juga disaksikan oleh empat saksi Kristus yang berbeda.

    Namun, orang-orang Muslim mengatakan: Tidak! Kristus tidak dibunuh dan tidak disalibkan. Hanya nampaknya saja bahwa Kristus sudah disalibkan. Tetapi sebenarnya, ada kesalahan yang terjadi di dalam pengadilan. Seseorang yang mirip dengan Kristus yang telah salah disalibkan. Kristus yang sebenarnya diselamatkan oleh Allah dari tangan musuh-musuh-Nya, diangkat hidup-hidup ke surga, dimana Ia masih hidup sampai hari kedatangan-Nya kembali ke dunia ini.

    Orang-orang Muslim mempertahankan keyakinan ini atas dasar sebuah ayat di dalam Al-Quran, yang mengatakan demikian tentang orang-orang Yahudi, “dan karena ucapan mereka : “Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, ‘Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan ‘Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) ‘Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti perdangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah ‘Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat ‘Isa kepada-Nya379. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Surat an-Nisa’ 4:157-158) Injil Kristus, yang menyaksikan dengan jelas empat kali bahwa Kristus dibunuh dan disalibkan, ditolak oleh orang-orang Muslim sebagai kepalsuan dari orang Kristen atas teks asli di dalam Injil.

    Apakah tuduhan dari Al-Quran ini cukup untuk membantah empat kesaksian yang ada di dalam Injil? Apakah semua orang Muslim harus percaya kepada Al-Quran bahwa Kristus tidaklah dibunuh atau disalibkan?

    JAWABAN : Bertolak belakang dengan bagian di dalam Al-Quran (Surat 4:157), yang menyangkali pembunuhan dan penyaliban Kristus, ada tiga bagian lain di dalam Al-Quran yang secara terbuka memberikan kesaksian tentang kematian Kristus:
    1. Segera setelah kelahiran-Nya Kristus menurut Al-Quran mengatakan, “Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal (yauma amuta) dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali!” (Surat Maryam 19:33). Ayat ini berbicara dengan sangat jelas mengenai kelahiran, kematian, dan kebangkitan Kristus dalam sebuah kesatuan yang tidak terpisahkan.

    2. Berbicara mengenai rencana orang-orang Yahudi untuk membunuh Kristus, Al-Quran mengatakan, “Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya. (Ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu (inniy mutawaffika) dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. … (Surat Al ‘Imran 3:54-55). Ayat-ayat ini dengan jelas menunjukkan bahwa Allah membiarkan Kristus menemui ajal, yaitu, Ia membiarkan Yesus mati. Tipu daya yang dibuat oleh Allah terhadap orang-orang Yahudi adalah dengan tidak memasukkan Kristus ke dalam neraka, seperti yang mereka yakini sekarang, tetapi bahwa Ia akan membangkitkan Yesus sendiri ke dalam surga.

    3. Setelah Kristus dibangkitkan dan diangkat ke surga oleh Allah, Al-Quran menjelaskan adanya percakapan antara Kristus dengan Allah. Di dalam percakapan itu Kristus berkata kepada Allah di surga, “Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu: “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu”, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku (falamma tawaffaytaniy), Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.” (Sura al-Ma’ida 5:117). Ayat ini dengan jelas mengatakan bahwa Kristus wafat sebelum Ia naik ke surga. Kalau tidak begitu, di surga, Kristus tidak akan bisa berbicara mengenai wafat-Nya sebagai sesuatu yang telah terjadi.

    Sangat jelas sekali bahwa ketiga bagian di dalam Al-Quran itu sangat bertentangan dengan apa yang tertulis di dalam Surat ke-4 (Surat An-nisa’). Tiga bagian di atas menegaskan tentang kematian Kristus, sementara bagian di dalam Surat ke-4 itu menyangkal kematian Kristus. Banyak penafsir Muslim yang berusaha mengatasi pertentangan itu dengan memunculkan tiga upaya penafsiran. Namun, semua tafsiran itu, tetaplah gelap dan sulit dipahami.

    Ketidakmasuk-akalan yang pertama : Perkembangan Kronologisnya. Untuk bisa menyambungkan antara Surat 4:157 dengan Surat 19:33, para penafsir memasukkan, tanpa ada dasarnya di dalam Al-Quran, suatu rentang waktu yang sangat panjang antara kelahiran Kristus dengan kebangkitan-Nya. Mereka mengatakan bahwa Kristus dilahirkan dan diangkat ke surga. Dari sana Ia akan datang kembali di akhir jaman, dan hanya setelah itu Ia akan mati dan dibangkitkan kembali bersama semua manusia. Tafsiran ini, sayangnya, justru bertentangan dengan Surat 5:117, diman Kristus mengatakan kepada Allah bahwa Ia wafat sebelum diangkat ke surga.

    Ketidakmasuk-akalan yang kedua: Korban Pengganti. Dalam usaha untuk menjelaskan, sesuai dengan isi Surat 4:157, bahwa Kristus tidak dibunuh, para penafsir Muslim mengatakan bahwa orang yang disalibkan itu bukanlah Kristus, tetapi seseorang yang diserupakan dengan Dia yang disalibkan. Kristus sendiri sebenarnya diangkat ke surga tanpa mengalami kematian. Para penafsir, kemudian berselisih paham di antara mereka sendiri, tentang siapa yang sebenarnya disalibkan menggantikan Kristus: Apakah ia seorang Yahudi bernama Titus, atau seseorang yang memang adalah pengawal Kristus, atau salah satu murid Kristus yang secara sukarela mengorbankan dirinya, atau bahkan apakah ia adalah murid yang mengkhianati Kristus? Dalam penjelasannya, para penafsir Muslim itu yakin bahwa Allah secara ajaib meletakkan seseorang yang diserupakan dengan Kristus untuk menjadi korban pengganti, sehingga orang-orang Yahudi salah mengira kalau dia adalah Kristus. Para penafsir yang lebih serius (misalnya Zamakhshari dan Razi) menolak penjelasan ini.

    Ketidakmasuk-akalan yang ketiga: Menjelaskan ulang kata “mati.” Untuk membuat penafsiran ini lebih bisa diterima, makna salah satu kata di dalam Al-Quran diubah. Kata “wafat” (mati), yang dituliskan di dalam Surat 3:55 memakai bentuk kata “inniy mutawaffika” (aku membiarkanmu mati) dan di dalam Surat 5:117 “falamma tawaffaytaniy” (tetapi ketika Engkau membiarkan Aku mati). Beberapa penafsir mengatakan bahwa kata “wafat” (mati) berarti tidur (hanya dituliskan dua kali di dalam Al-Quran: Surat 6:60 dan 39:42b) dan bukan kematian yang sebenarnya (sebagaimana yang dengan jelas dituliskan dalam 25 bagian lain di dalam Al-Quran, sebagai contoh, Surat 32:11; 4:15; 39:42a or 8:50). Penjelasan ini dipersoalkan di antara banyak penafsir yang ada, yang kemudian menjadi alasan mengapa tradisi Islam yang menafsirkan kata “wafat” di dalam ayat mengenai Kristus sesuai dengan keterangan sebagian besar ayat lain di dalam Al-Quran kemudian diterjemahkan sebagai mati, dan bukan sebagai tidur.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s