Senin malam kemarin, kuterima sms dari seorang teman satu organisasi, “Mas, ada majalah Tempo edisi khusus Sutan Syahrir. Kalau mau beli di Kopma (Koperasi Mahasiswa UGM) aja, karena ada harga khusus mahasiswa. Sebenarnya niat sih mau beli majalah Tempo edisi spesial ini, tapi aku masih mikir-mikir takut-takut uang di saku tak cukup sampai pertengahan bulan. Ya, jatah tiap bulanku dikirim 2 kali, awal sama pertengahan bulan. Seperti biasa, pameo “tak ada yang g bisa dicari di internet” menjadi obat mujarab. Segera kusabangi situs Majalah Tempo. Dan artikel-artikel tentang Sutan Syahrirpun kudapatkan. Biasanya sih langsung diblok sama yang punya situs. Harus langganan dulu, baru bisa akses ke arsip-arsip artikel. Tapi, pas kemarin berselancar, g ada blockingan. Dan akupun bisa download Majalah Tempo Edisi Khusus Sutan Syahrir lewat internet. So, buat teman-teman yang belum sempat beli majalah dan kepingin punya bisa langsung ke kios-kios surat kabar atau bisa baca lewat internet. Ni link-link kisah-kisah seputar Syahrir yang dimuat oleh Tempo edisi awal maret ini.

====================================================

Peran Besar Bung Kecil

Sutan Sjahrir adalah satu dari tujuh ”Bapak Revolusi Indonesia”. Dia mendesak Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan walau dia sendiri absen dari peristiwa besar itu. Dia memilih jalan elegan untuk menghalau penjajah. Yakni melalui diplomasi: cara yang ditentang ”Bapak Revolusi” lain. Ideologinya, antifasis dan antimiliter, dikritik hanya untuk kaum terdidik. Maka dia dituduh elitis. Sejatinya, Sjahrir juga turun ke gubuk-gubuk, berkeliling Tanah Air menghimpun kader Partai Sosialis Indonesia. Sejarah telah menyingkirkan peran besar Bung Kecil—begitu Sjahrir biasa disebut. Meninggal dalam pengasingan, Sjahrir adalah revolusioner yang gugur dalam kesepian.