“Maaf, aku udah dalam pinangan… Mohon pengertiannya. Dan ku berharap, kamu jangan lemah seperti ini. Kamu bisa kok, dapetin yang jauh lebih baik dariku. Kamu harus yakin itu (Someone, 18.24 – 11 Maret 2009)

Itulah sms yang engkau kirimkan padaku, setelah untuk sekian kali aku mengungkapkan perasaan, bahwa aku akan berjuang untuk menjadi sosok spesial di hatimu. Tapi lagi-lagi kekecewaan yang kudapatkan.

Entah apa yang salah dengan diri ini? Setiap ku tanyakan padamu, engkau diam seribu bahasa. Aku menjadi binggung sendiri. Bagaikan terdampar di lautan dengan biduk kecil dihempas gelombang.

Harum cinta sewangi kasturi, hanya tinggal kenangan. Terkubur dalam impian. Kujejaki pantai rindu ini dengan tangisan. Luka karena jauh engkau tinggalkan. Hidupku serasa bayangan saat ini.

Di kejauhan malam ini. Ketika bulan purnama begitu terang sinari malam. Aku termanggu membaca sms-mu. Lama ku menunggu untuk berdekatan denganmu. Sejuta harapan merenda kebahagiaan.

Tapi, malam ini yang ada hanyalah lembaran cinta pudar. Jawabanmu begitu menyesakkan dada. Karena tiada lagi senyum manismu yang dulu begitu berkesan. Terurai sudah mimpi. Oh mimpi…

Jika dirimu tiada engkau kehendaki, biarlah aku yang menanggung derita. Karena beginilah nasib bercinta tak terbalas. Biarkan aku kecewa hari ini. Seraya berharap ada masa berharga, saat nafas masih bersemanyam di hati ketika mentari bersinar kembali esok hari…

Kasih, ku lepas engkau bersama semilir angin malam ini…