Mataku berkaca-kaca. Entah kenapa, saat menonton Apa Kabar Indonesia Pagi yang menghadirkan Ustadz Yusuf Mansur dan Haddad Alwi, alam bawah sadarku hanyut ke masa lalu. Mengingati orang yang mulia, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassallam.

Teringat ceramah Ustadz Ridwan Hamidi beberapa tahun yang lalu, “saat itu kami sudah sampai di ujung kisah. Syaikh menceritakan saat-saat terakhir Rasulullah. Airmata kamipun tumpah. Perasaaan bercampur aduk. Seakan hadir melepas kepergian beliau “.  Itulah pengalaman Ustadz Ridwan ketika beliau sedang menempuh studi di Universitas Islam Madinah.

Mungkin sangat sulit menemukan pengajar yang mampu membuat kita masyuk dengan sirah nabawiyah. Seolah-olah Nabi hadir di hadapan kita. Zaman ini, pseudo idols banyak bertebaran. Kita kehilangan panutan. Hidup terasa gamang dihempas ombak kehidupan.

Di sisi lain, Nabi yang begitu mulia difitnah dan dilecehkan. Tidak saja oleh orang non Islam, malahan yang lebih keras datang dari orang-orang Islam sendiri yang bergelar “intelektual Islam”.

Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam, perlahan memudar di hati banyak orang. Digantikan oleh sosok-sosok modern yang dianggap lebih progresif dan adaptif dengan perkembangan zaman. Buku-buku siroh Nabi tak lagi menjadi buku yang mengasyikan, tak lagi inspiratif bagi banyak orang.

Tak heran, jualan murahan berkedok Nabi baru, Messiah, Imam Mahdi baru menjadi laku di masyarakat kita. Entah apa yang salah, apakah sosok Nabi Muhammad tak lagi begitu inspiratif ataukah kerinduan akan keselamatan baru yang dilihat oleh beberapa orang “nyeleneh” sebagai peluang untuk menyebarkan “ajaran aneh”.

Momen maulid Nabi kali ini tentu menjadi ajang refleksi bagi kita untuk mengukur diri sampai sejauh mana kecintaan kita kepada Nabi Muhammad shalalllahu ‘alaihi wassalam. Yang sampai saat ini tiada yang mampu mengalahkan “ke-revolusioner-an” beliau, sangat peduli dengan kaum proletar. Ketika makan dan minum beliau tiada pernah mubazir, sampai-sampai jari-jaripun dijilati sehabis makan. Orang yang sentimen mencela dengan mengatakan Nabi itu rakus, g punya sopan-santun.

Namun, cercaan itu menggambarkan kepicikan mereka. Makan tanpa sisa adalah bentuk perhargaan terhadap petani. Mereka telah membanting tulang menyedia makanan. Ketika makanan sudah terhidang di meja makan, tentu adab orang yang tahu balas budi, akan menghabiskan makanan. Dalam bahasa lain, mungkin kita bisa mengatakan Nabi ketika makan ingat bagaimana letihnya petani ketika bekerja di sawah dan di ladang.

Iklan