“Scripta manent, verba volant”… Yang tertulis akan abadi. Yang terucap akan sirna bersama hembusan angin”

Kalimat indah ini, kukutip dari makalah Mas Najib yang disampaikan tadi pagi saat workshop penulisan di ruang sidang Fakultas Filsafat UGM. Kalimat yang begitu mengugah bagi setiap orang untuk mengabadikan diri dalam history lewat tulisan.

“Mas, anak-anak filsafat masih sering demo ngak”. Itulah pertanyaan spontan dari Pak Hardi pegawai akademik fakultas Teknologi Pertanian UGM, ketika aku menyabangi kantor beliau untuk meminta nilai hari kamis yang lalu. Pertanyaan yang mengindikasikan “popularitas” mahasiswa filsafat sebagai “tukang demo” sudah teramat familiar.

Ceramah singkat Pak Mukhtasar Syamsudin (Dekan Fakultas Filsafat, Doktor lulusan Korea Selatan), di sela-sela workshop tadi pagi, menjawab pertanyaan pak Hardi yang kujawab seenaknya saja di kamis itu. Saat ini, kritik sosial tidak mesti dilakukan dengan berteriak-teriak di pinggir jalan. Paradigma sudah berubah, cara elegan yang cukup efektif untuk menyampaikan aspirasi saat ini adalah dengan menulis.

Begitulah yang ditunjukan oleh politisi kita. Dimulai oleh pak Habibie yang meluncurkan buku seputar “masa kritis” saat transisi Orba – Reformasi. Seolah tersengat dengan tulisan pak Habibie, Prabowo beberapa waktu kemudian turut pula meluncurkan buku.

Zaman ini, pendekatan kekerasan dan demonstrasi yang lebih mengandalkan fisik, telah menjadi usang. Zaman ini adalah zaman debat intelektual dengan cara yang santun tapi begitu berkesan di hati.

Stigma mahasiswa filsafat hanya bisa demo inilah yang hendak dirubah di filsafat. Seorang Pramodya Ananta Toer diteror oleh Orde Baru, bukan karena kekuatan fisik dan militer (yang tentu tidak dimilikinya), tapi karena tulisan-tulisan cerdas yang menohok pemerintah saat itu.

So, menulislah. Hingga orang akan terus mengenangmu karena engkau meninggalkan permata hidup yang teramat berharga, yaitu pengalaman hidup yang terabadikan lewat tulisanmu.