Kemarin, kembali kusapa dirimu adinda. Dan dikaupun menyambut hangat salam dariku. Sungguh akhir-akhir ini aku kehilangan semangatku untuk melakukan apapun. Dan kalimat-kalimat yang engkau tulisan di sms kemarin itu, kembali hidupkan nyala kehidupanku hingga tadi pagi ku kejar juga membuat tulisan untuk lomba PKM – GT. Meski tak selesai, tapi Bu Sartini, wakil dekanku yang baik itu, masih memberikan beberapa hari agar aku bisa merampungkan karya ini sampai hari senin esok.

Adinda, aku tak mengerti, kenapa dirimu begitu berkesan di hati ini. Setiap memandangmu, ada semangat baru. Setiap menerima sms darimu, aku merasa berharga. Setiap kali aku mengingatmu, aku merasa lebih kuat dan mengalahkan rayuan melenakan yang menghancurkan diriku.

Ku tahu, dirimu tak menginginkanku spesial di hatimu. Tapi, kelembutan hatimu mengalahkan semua amarah. Meski aku bukan siapa-siapa di sisimu, tapi engkau tetap menganggapku. Entah sebagai apa.. Tapi aku begitu tersanjung olehmu adinda.

Ketika mentari kembali peraduan. Saat dingin di menjelang senja. Waktu itulah lintasan senyummu nampak nyata di mataku. Aku tak tahu, apakah penantianku ini akan berarti ataukah hanya sia-sia belaka. Aku tak peduli, akhirnya akan seperti apa. Namun yang pasti, hari ini aku masih menanti dirimu. Sampai waktu aku tak lagi berhak menyintai karena engkau telah menikah dengan yang lain.

Aku tak mengerti dengan perasaan ini. Sulit kuungkai apa makna rasaku kepadamu. Entah engkau juga tahu, tapi simpatimu saja cukup bagiku. Aku benar-benar rindu padamu adinda…

Iklan