Membunuh rasa ini sulit bagiku adinda. Entah kenapa, kala sepiku bayanganmu selalu bermain di mataku. Dan 3 hari ini aku menjadi gila. Omonganku melantur kemana-mana, ngak jelas. Akal sehatku disandera kegalauan yang membuatku tak mengerti dengan apa yang kulakukan.

Apakah aku telah mengalami sindrom yang dihadapi “Balian” tokoh utama dalam Kingdom of Heaven? Traumatik karena Perang Salib mendorong ia untuk mengatakan “Tuhan telah meninggalkanku”. Akupun bertanya dalam hati, apakah aku telah ditinggalkan Tuhan karena dosa-dosa yang telah kulakukan?

Entahlah, aku tak bisa menjawab. Tapi hidup terus berjalan, pagi masih setia menjelang dan rembulanpun masih datang di kala malam. Dan tak mungkin semua tetap beredar dengan teratur kecuali Tuhan masih menampakkan kekuasaannya di bumi ini.

Terus, siapakah sebenarnya yang salah atas segala kepedihan dan luka yang kualami? Aku hanya bisa menjawab, bukan TUhan yang menjauh dariku tapi akulah yang menjauh dariNya. Hingga aku kehilangan pegangan di atas biduk kecil yang terapung di tengah ganasnya lautan.

Ketika kucuba keluar dari deraan gelombang mimpi buruk ini, menemui kenyataan yang selama ini aku lari darinya. Dan ternyata aku merasa hidup kembali. Kembali menjadi manusia yang diperhatikan dan juga masih dianggap ada oleh orang di sekitarku. Pengembaraanku dalam kesunyian hanya membuat aku semakin terpuruk. Terjebak dalam ketakutan pikiranku sendiri.

Aku yakin, dunia ini masih indah untuk ditempati. Masih pantas diarungi. Hatta oleh orang yang berkubang dosa sekalipun. Karena kesempatan untuk memperbaiki diri masih terbuka. Dan kebodohan, kesalahan bukanlah nista yang mesti dipendam saja.

“Bukanlah Tuhan yang meninggalkanmu, karena Dia tak pernah pergi meninggalkan hambaNya. Tapi kamulah yang begitu angkuh merasa cukup hidup tanpaNya”.